Puisi-puisi Husnu Abadi – Sang Pejalan

PESAN TERAKHIR SEORANG REKTOR
UNTUK MAHASISWANYA DI HARI WISUDA

Hari ini aku menyaksikan
Jejak langkahmu yang tengah bergelora
Aku menyaksikan dengan diam-diam
Perjalananmu yang gegap gempita
Ikut mengharumkan
Ikut menyuburkan
Bunga-bunga yang tumbuh di taman ini
Di kampus ini

Aku turut menyaksikan
Derap nafasmu yang terbata-bata
Tawa dan gelegar suaramu yang meronta
Ikut menggerakkan
Ikut menghidupkan
Ikut mencerahkan
Denyut nadi sang penggembala
Di kampus ini

Berlayarlah
Berlayarlah
Berlayarlah
Terus dan terus
Jangan lagi menoleh ke belakang
Walau gelombang menggoyangmu
Hingga engkau sampai pelabuhan
Hingga engkau sampai ke seberang
Bawalah hikmah
Bawalah kearifan
Bawalah kesederhanaan
Yang telah engkau renggut
Yang telah engkau timba dari perigi ilmu
Di kampus ini
Kampus Darussalam

Hari Wisuda, 9 Oktober 2004


MENGENANG ABAH JUMADI SAFAR
/buat Bunda Anie Din

Di sebalik kesuksesan seorang lelaki dalam hidupnya
Pastilah ada peran seorang wanita disampingnya
Begitulah roda kehidupan
Begitulah makna berpasang-pasangan
Yang dicantumkan dengan sempurna
Dalam kitab suci

Ketika aku berlabuh di Temasik
Dalam kembara sastra
Menjalin persaudaraan dan kasih sayang
Aku menyaksikan Abah yang perkasa
Dalam diam-diam yang lama
Dalam cakap-cakap yang sederhana
Dalam sabar yang tak biasa
Memberi makna akan kehidupan ini
Memberi makna pada kehidupan Bunda
Tak hanya di Singapura
Tapi menjangkau Nusantara raya

Tapi itulah kehidupan
Ada masa tiba
Ada masa berlayar
Dan kini Abah telah lebih awal berlayar

Abah telah menyempurnakan ini semua
Tak ada yang tinggal

Disebalik Bunda yang pandai menulis cerita
Pasti ada peran Abah yang penuh rahasia

Disebalik Bunda yang mempesona
Pasti ada peran Abah yang luar biasa

Toa Payoh-Johor 2020


SANG GURU AHMAD TOHARI
/pada ulang tahun ke 72

Dari jauh aku telah mengenal nama ini
Selalu menulis kisah manusia yang penuh air mata
Walau di negerinya mata air selalu mengalir tanpa kira-kira

Puluhan tahun nama ini membawa obor peradaban
Dari hulu sungai Serayu sampai ke muara jauh disana
Semuanya memberi harapan

Kalaulah aku boleh bermimpi
Bolehkah nama ini kuabadikan
Untuk harumnya sebuah negeri
Sebuah taman peradaban yang penuh warna warni
Dan dari jauh aku telah lama bangga dengan nama ini
Aku ingin memelihara kebanggaan ini
Dalam semua denyut kehidupan kota
Betapapun sederhananya

Dari jauh aku ingin menyebut namamu
Walau hanya beberapa saat
Di hari ini
Hari Sabtu
13 Juni 2020

Pekanbaru-Riau
20 Mei 2020

PAVILLION
(buat Prof. Stefan Koos)

Muenchen yang dingin
Kau taklukkan dengan keramahan
Aku banyak melihat huruf-huruf yang kau layangkan
Senyummu dari barat
Ternyata punya garis lurus sampai ke timur
Senja telah bercampur dengan gerimis
Sementara gerimis masih menyimpan rindu-rindu
Dan aku bayangkan suatu masa
tak ada lagi jarak antara salju di negerimu
dan gelombang sungai di pantai timur Sumatera
atau antara rumput yang tersenyum di bukit Alpen
dengan kicauan burung pagi hari di halaman rumahku

Muenchen, 16 Agustus 2014


SANG PEJALAN
/untuk Raffa

Sang pejalan berjalan dari pantai timur
Si kecil Raffa, datang dari pulau surga
Sang pengembara melewati ratusan negeri
Raffa merangkak melewati bilik utara
Bilakah kan berjumpa ?

Sang pejalan telah sampai ke batu 60
Dan terengah-engah
Perjumpaan yang sekejap
Berirama seribu pantun dan gurindam
Maka sang kecil pun terus merangkak
Menyempurnakan perjalanan sang pejalan
Sampai ketitik akhir
Sampai ke titik nadir

Rumah Zainab, 13-10-2009

Husnu Abadi
NAWLA

Gadis kecil yang kalau berlari alangkah kencangnya
Yang kalau menangis alangkah keras suaranya
Yang kalau bernyanyi alangkah kacau iramanya
Yang kalau ke mesjid alangkah senang hatinya
Nawla, teruskanlah langkahmu
Teruskanlah tangismu biar dunia ini mendengar apa mimpi-mimpimu
Teruskanlah dan sempurnakanlah sujud-sujudmu
Biar ayah bundamu selalu tersenyum sepanjang waktu

(17 Agustus 2014, kampus der Bundeswehre Muenchen)


SUARA MU, KHAIRA

suaramu, Khaira
selalu hadir di rumah ini
sejak pagi yang penuh warna
hingga petang yang selalu dirindukan

langkahmu, Khaira
langkahmu
selalu hadir di surau sebelah rumah
banyak kawan sebaya
belajar ngaji bergantian
banyak pula gelak tawa bersahut-sahutan
alangkah berkahnya surau sebelah rumah

suaramu, Khaira
selalu hadir di rumah ini
dari tangisan, teriakan, nyanyian dan main-mainan
sampai hafalan Juz Amma
alangkah sahdunya

Pekanbaru, 2020


KUHANTAR ENGKAU, KUHANTAR ENGKAU
/mengenang Dedek Mukti Dewantara

Ya Ya , kuhantar engkau sampai ke gerbang
Untuk itu janganlah ragu
Aku selalu menunggu
Walau hanya sampai di muka pintu
Aku tidak bisa menemanimu lagi
Di dalam
Rumahmu tak berpintu
Tak berjendela
Tak bertiang
Tapi engkau akan bersapa-sapa
Dengan semua kebaikan dan ketulusan
Yang selama ini telah engkau berikan
Tak lelah-lelah
Pada sesama
Tak lelah-lelah
Padamu yang tak pernah menyerah
Ya, kuhantar engkau ke gerbang
Sore ini

Pekanbaru- Malang

2017

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan