Samudera Kata : Kumpulan Puisi Iman Sembada (II)

Pengasuh :
1. Husnu Abadi
2. Fakhrunnas MA Jabbar

KEPADA THUKUL

Ledakan adalah pengangguran yang
Berduyun-duyun ke kota mencari kerja
Dan harapan untuk keluarga. Darah
Dan airmata jatuh di jalan raya, dihela
Roda-roda. Suaramu ditelan mesin-mesin
Pabrik. Hari-hari menjadi teka-teki berdebu

Kemakmuran adalah bayangan Jakarta yang
Disiarkan televisi. Sebagai rumputan, aku pun
Tumbuh menatap langit yang baru. Malam
Merapat dari timur ke barat berkisah tentang
Eden. Kata-kata memberontak dari tumpukan
Buku-buku. Jam menyalak, seperti anjing lapar

Puisi adalah senjata. Kata-kata telah menjadi
Peluru. Di bawah rindang bintang-bintang
Aku bertanya: di manakah kamu? Siapa yang
Membusak jejakmu? Aku bayangkan Jakarta
Tahun 1998, seperti rumah tahanan atau sel
Penjara. Dan suara burung gagak kabarkan duka

Depok, 2019

KISAH TERPENDAM

Ada kisah terpendam. Dikubur
Angin lebam. Rumput yang tumbuh
Di bulu matamu masih berembun

Orang-orang berjalan berduyun
Meninggalkan dusun yang santun

Ada yang bergegas lekas. Kesendirian
Dan kesunyian adalah anak-anak yang
Kehilangan bangku sekolah

Cakar-cakar akar pohon menyelusup
Ke rekah tanah. Bumi pun masih berdegup

Tak perlu dibicarakan lagi. Kisah terpendam
Adalah masa lalu, jejak langkahmu. Kubiarkan
Apa dan siapa dijirus hujan dan kenangan

Depok, Oktober 2020

DALAM DERAS HUJAN

Dalam deras hujan kuingat lagi
Sebuah nama. Anganku terbang
Menjadi burung elang. Memutari
Tepian cakrawala yang rumpang

Hawa dingin berguguran dari almanak
Tua. Desember selalu menggigilkan
Tulang-tulang dan kangenku. Sejenak
Kurasai musim dicungkupi kefanaan

Dalam deras hujan
Air mengikis batu
Berwaktu-waktu

Depok, 2019

Biodata penulis:
Iman Sembada lahir di Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, pada 4 Mei. Puisi dan cerpennya dipublikasikan di media massa pusat dan daerah. Puisi-puisinya juga tergabung dalam antologi bersama, seperti Resonansi Indonesia (2000), Pasie Karam (2016), Matahari Cinta Samudera Kata (2016), Puisi untuk Perdamaian Dunia (2017), Monolog di Penjara (2018), Reruntuhan di Bukit Kapur (2019), Sesapa Mesra Selinting Cinta (2019), Bisik Langit Pasak Bumi (2020), dan lainnya. Antologi puisi tinggalnya Airmata Suku Bangsa (2004), Perempuan Bulan Ranjang (2016) dan Orang Jawa di Suriname (2019). Kini ia tinggal di Depok, Jawa Barat.

Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Pentigraf, Esai, Pantun, Kritik, Resensi, Peristiwa Budaya, dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel:
redaksi.tirastimes@gmail.com

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan