Takus di Tiongkok: Puisi Wahyu Mualli Bone

38
Tulisan Terkait

Loading

Di mana
Di muara, di hulu banyak kata.
Kata si sipit mata dengan kulit cerah kemerah-merahan lain sapa.
Begitu bunyinya, sepakat juluk dengan maksud.
Dalam hari yang berlanjut uzur, memusatkan pusat pada duga, terkubur kabur rupa dan nama.
Sebelum matahari lain arah terbit dan enggan tenggelam, Kalam kelam dalam kelambu yang erat ikat, coba disayat, sayang bahan dengan harga maha karya. Coba buka lilit ikat, mati pun simpul, masih bisa dilerai. Tak bisa terbuka karena tak mau.
Takus di Tiongkok belum terkubur, masih dalam napas, berakhir di ujung lidah generasi Zero.

Pekanbaru, 6 Mei 2024

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan