Tiras Guru : Efek Penghapusan Pemberian PR di Sekolah – Riva Elvita, S.Pd, MM.

Efek Penghapusan Pemberian PR di Sekolah

Riva Elvita, S.Pd, MM.
Wakil Sarana SMAS Cendana Mandau

Pemberian pekerjaan rumah (PR) selama ini adalah sesuatu yang sudah lazim diberikan oleh guru kepada siswa di sekolah yang tujuannya adalah untuk memantapkan materi pelajaran yang sudah di ajarkan di sekolah dan juga agar siswa punya keinginan dan kesempatan untuk mengulang pelajaran di rumah.

Seiring dengan adanya rencana penghapusan pemberian PR ke siswa dari menteri Pendidikan membuat hal ini menjadi perdebatan banyak orang dan justru menjadi polemik bagi sistem pendidikan sekarang, bahkan ada yang beranggapan bahwah penghapusan PR ini adalah hal yang bagus, tetapi ada juga yang tidak setuju.

Bagi mereka yang setuju dengan penghapusan PR ini mungkin dasar pemikirannya adalah siswa sudah terlalu lama di sekolah, apalagi bagi yang full day school mulai belajar jam 07.30 sampai jam 15.30, lebih kurang 8 jam siswa berada di sekolah. Sepulang sekolah siswa sudah lelah dan jika di tambah lagi dengan PR kapan lagi waktu untuk mengerjakannya. Ini juga menjadi beban bagi orang tua yang kasihan dengan aktivitas anak-anak mereka yang terlalu banyak.

Tetapi bagi mereka yang tidak setuju justru beranggapan bahwa dengan adanya PR akan melatih disiplin dan ketelatenan siswa untuk kembali mengulang pelajaran di rumah, dengan adanya PR ini mereka akan lebih terlatih dan kompeten di bidang pelajaran masing-masing.

Namun yang menjadi pertanyaan apakah dampak positif dan negatif dari penghapusan PR ini? Menurut pendapat saya  dampak positif dari penghapusan PR ini bisa kita lihat dari siswa yang tidak memiliki disiplin dan semangat belajar yang rendah. Pemberian PR akan membuat mereka memiliki waktu khusus untuk mengulang pelajaran di rumah dan bisa memaksa diri untuk belajar serta membangun  rasa tanggung jawab siswa karena ada tuntutan atau tagihan PR oleh  guru di sekolah. PR yang diberikan guru disekolah haruslah berkualitas sesuai dengan materi pelajaran dan  kemampuan siswa. Jumlah  PR yang diberikan juga harus disesuaikan dengan waktu yang tersedia bagi siswa sehingga tidak terlalu membebani dan tidak membuat siswa stress. Jadi  pemberian PR bertujuan  memberikan atau membentuk  karakter siswa agar disiplin dalam belajar, sehingga mereka betul-betul faham dengan materi pelajaran yang di berikan guru di sekolah.

Adapun dampak negatif pemberian PR di sekolah menurut pendapat saya dapat dilihat dari siswa yang rajin dan disiplin ketika belajar di sekolah. Pemberian PR justeru membosankan dan membuat mereka stress. Siswa ini sudah faham dan mengerti dengan materi yang diajarkan di sekolah, yang mereka butuhkan adalah pendalaman materi dengan banyak membaca sumber bacaan lain dan waktu untuk belajar dalam mempersiapakan diri untuk mengikuti penilaian harian. Adanya PR yang diberikan membuat mereka tidak punya waktu untuk mengulang materi pelajaran secara keseluruhan yang harus mereka kuasai untuk penilaian harian kecuali yang di berikan dalam bentuk PR. Dampak negatif lainnya adalah kurangnya waktu istirahat dan waktu untuk bersama dengan keluarga mereka.

Jadi pada prinsipnya pemberian PR tidak akan menjadi masalah jika PR yang di berikan disesuaikan dengan kemampuan dan  kebutuhan siswa, misalnya siswa yang pintar diberikan PR dalam bentuk pengayaan, sedangkan bagi siswa yang kurang mampu pemberian PR  berupa pengulangan materi yang sudah diajarkan di sekolah. Pemberian PR juga harus diberikan pada waktu yang tepat, misalnya jangan memberi PR ketika ada penilaian harian. Ketika penilaian akhir semester atau ketika ada tryout mata pelajaran untuk siswa kelas XII. Demikian juga dengan jumlah PR yang di berikan jangan terlalu banyak sehingga siswa tidak punya waktu untuk istirahat.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan