(Juara 1 Cipta Puisi FLS2N Provinsi Riau)
Detik telah mengarsip berjuta resah dan kisah perihal semesta, saat setetes embun di ujung daun itu sadar dia bukanlah apa-apa. Ada lagi terlihat, tersentuh jemari mereka yang kagum tapi amat jarang berkunjung.
Dingin gigilkan jiwa yang lara, saat pedih mengurai tawa jadi dersik tanpa suara. Adakah sedikit bayanganku di pelupukmu yang tertutup, tersentuhkah kalbumu atas gumamku yang kian bisu?
Kita akan baik-baik saja, ikrarmu di batas malam itu. Untuk jemu yang kau sisipkan ke jiwaku atas janji-janji palsu, tak sanggup kubagi isak sebab kau yang nyatanya tak bisa menetap hanya pada sebuah rumah. Lantas apalah artinya?
Akulah setetes embun di ujung daun. Terlupakan saat siang menggantikan pagi, didatangi saat ada dahaga yang mengusik sudut terdalam hati. Bergelayut sekarat atas perih yang kuguratkan sendiri, tersedak atas janji-janji manis yang semu, terlalu berharapkah aku?
Bisakah kau putar perahu itu ke arah yang berbeda? Kini, setelah ada pinta yang sentiasa aku suratkan untukmu. Pun kini, ketika selaksa rindu menolak padam, mencabut pasti satu demi satu daun dari dahannya yang merapuh. Mengapa sulit membiarkan tali itu terlepas, sementara dirinya tidaklah pasti kan menjadi dermaga atas seluruh kasih dan waktu?
Pena lelah menulis, kuas jenuh melukis. Ada sesak yang menyusup di udara, mencemar angkasa dengan tetes air mata. Berhentilah berpura-pura, Rembulan. Ini terlalu apik untuk jadi kenangan, begitu sulitnya ditinggalkan hingga berakhir pada rasa tanpa jalan keluar. Terpenjara pada kelukur yang ia miliki, tersandung ranting patah dari hatinya sendiri. Di mana hutan ini akan berujung, akhirnya?
Tanya tak pernah mampu kau jawab, kejelasan tak pernah sanggup kau berikan. Kau biarkan saja senyum melebur di pantai sunyi, tergulung ombak ia beranjak pergi tanpa permisi … seperti kamu di penghujung malam itu.
Fleycia Tandria Chen, SLB Cendana Rumbai