DIAM : Puisi Bunda Swanti

DIAM

(Bunda Swanti)

Di teras depan rumah
Aku melihat dia tengah sibuk
Melayani pembeli dengan ramah
di warung sederhana miliknya

Mataku mengeja setiap langkahnya
Seakan aku tengah berhitung matematika
Penjumlahan atau pembagian
Entahlah yang pasti langkah yang kulihat tak lagi terbilang

Sandaran tempatku duduk nyaris pudar warnanya
Dinding yang semula berwarna biru cerah
Kini tinggal warna putih semu
Pas tercetak punggung sandaranku

Sesekali dia balik melihatku
Di sela-sela kesibukannya
Kadang ia memanggilku sembari berteriak
Tak jarang ia menyambangiku memberikan sebungkus jajanan

Aku menyambutnya bahagia
Mataku menatapnya dalam
Aku ingin bicara banyak
Namun mulutku hanya mampu melukis senyuman

Aku tak bosan duduk di sini
Ini tempat paling nyaman setelah semua pergi
Di sini aku bisa melihat
Di sini aku bisa mendengar yang orang lain tak mampu untuk itu

Kata-kata ku sudah lama hilang
Suaraku sudah tidak seindah dahulu
Kini aku lebih banyak diam
Mengilmla seluruh yang ada

Waktuku siang hingga malam
Tetap sama, hanya hening
Tanpa suara tanpa ketukan
Nada-nada ritmis itu kini menjauh, sangat jauh

Sunyi menyergap
Dingin itu begitu garang
Menampar tiap helai ingatan
Pada hangat yang pernah tercipta

 

Rokan Hilir, 24 April 2026

Comments (0)
Add Comment