Anak Lumpur: Puisi Aal Rahim Sekha

Di celah bakau ini
Ada kubangan lumpur yang pilu
Anak anak tumbuh dalam diam yang dipaksa
Kecipak ombak yang telanjang,membuahi akar bakau
Sisiran jalan ikan tembakul hanya membuat garis tertata

Ada lumpur yang tidak pernah berteriak
Anak anak tetap saja menari di kubangan lumpur becek
Sedang pucuk bakau menggeliat sendu
Pada ujung haluan rindu

Anak anak lumpur tidak tertarik tentang inggris yang engkau ceritakan
Juga tidak berselera tentang jerman ysng engkau elu elukan
Bahkan spanyol yang engkau sodomi pun,hanya lesengan hambar
Padahal mereka itu semua adalah penjilat lumpur.

Bunga bakau adalah aroma rayuan manis
Engkau,datang kesinikan ?
Dalam bandar yang megah bagi anak anak lumpur
Mereka memiliki surga yang gemilang.

Anak anak lumpur adalah nyata kisahnya
Lalu,akar bakau menari dalam duka terampas
Sedang diujung sana,anak lumpur hanya jadi gurauan
Tetesan minyak bumi dan minyak sawit tercurah ke negeri lain.

Engkau hadir disini kan ?
Lalu,engkau lukakan hati mereka dengan puisi etopa mu.
Padahal,di bumi yang engkau pijak
Ada seloka
Ada pantun
Ada syair
Ada koba
Ada lenggangan zapin
Ada gurindam yang berpetuah.

Anak anak lumpur adalah kita
Malukah kita untuk mengakui,kita adalah anak lumpur?
Yang berakar pada kebudayaan tinggi; dalam uraian makna kecipak lumpur.
Berjuta angan yang tertahan pada bongkahan sombong
Engkau katakan ,engkau merapat lekat pada dunia luar sana,
Anak lumpur tidakkan percaya
Sedang engkau masih menggenggam pucuk bakau.

Dumai, bandar bakau. 21/07/2015.

Comments (0)
Add Comment