Yang Tak Kuberi Nama: Puisi Yulin

Aku tidak tertarik pada siapa pun
Tidak pada senyum yang sengaja dipamerkan
Tidak pada perhatian yang datang lalu pergi
Tidak juga pada rasa yang hanya sementara

Aku baik-baik saja dengan duniaku yang sunyi
Tidak menunggu, tidak bertukar kabar, tidak pula berharap pada siapa pun
Hingga di suatu pagi yang masih basah
Di sudut jalan Alauddin, kota palu, dia datang
Tanpa permisi, tanpa perkenalan

Aku tidak tahu namanya
Hanya langkahnya yang sesekali kembali melintas di hari-hariku yang biasa
Tak ada sapa, tak ada cerita
Tapi aku mulai menoleh, pada hal-hal kecil yang tak pernah kupedulikan sebelumnya

Sejak itu, ada yang diam-diam kutunggu Sesuatu yang singgah, tapi tak berani kuberi nama
Aku tetap diam, seolah tak terjadi apa-apa
Meski perlahan ada sesuatu yang tak lagi sama

Palu, 22 April 2026

Yulin Afriana, begitu orang-orang mengenalnya. Gadis berusia 22 tahun itu adalah seorang mahasiswi pada salah satu universitas di daerahnya. Ia mulai tertarik pada dunia kepenulisan saat berusia 17 tahun. Awalnya, ia hanya gemar menulis cerpen dan cerita bersambung. Hingga satu tahun terakhir, ia mulai membaca puisi dan jatuh cinta pada tulisan bermakna itu. Sejak saat itu, ia mulai mencari tempat untuk belajar menulis puisi, dan Thata Sastra adalah jawabannya. Kini, ia menjadi anggota akademik Thata Sastra Batch 19. Satu harapan yang ia tanamkan setelah mengikuti kelas tersebut adalah menjadi penulis puisi, bukan untuk terkenal, melainkan agar tulisannya dapat dibaca dan menginspirasi banyak orang.

Comments (0)
Add Comment