Atan yang Merantau di Tanahnya Sendiri: Puisi Zulfadhli

Angin yang datang membelai tingkap
tingkap rumah kita yang lama terbiarkan
sejak kaki melangkah jauh menjadi pengelana.

anak melayu,
menjadi perantau di tanahnya sendiri.
sebagai buruh dari tuan yang datang dengan membawa sepundi-pundi.

Atan di seru namanya
anak jantan yang dibanggakan sekeluarga
ketika lahir disambut azan di taburi beras kunyit
disapukan gegula di sela langit-langit mulut

Atan dilirih namanya
mengalun di terpa badai kesenjangan
karena tanah tak menumbuhkan padi secara cuma-cuma
dari tangan yang tak kuat lagi mengayun tajak.

Atan di bisikkan namanya
memanjati pokok kelapa dan pisang mentah
berharap segera panen untuk ditukar rupiah

karena lapar konon tak bisa menunggu
waktu buah-buahan itu menjadi ranum

tanah itu menyaksikannya bertungkus lumus
disiangi penat di ratapi salakan terik

Rumah yang bertingkap itu selalu menunggunya

ia pulang mendekap malam
serasa seperti menumpang di rumah sendiri.

Bagansiapiapi, 8 Maret 2024.

Zulfadhli, wartawan harian Riau Pos. Nominator Novel Ganti Award 2006 judul Novel; Kehilangan Jembalang. Anugerah jurnalistik Sagang (2012), Kumpulan Cerita Rakyat Pesisir bersama Murkan Muhammad. Menerbitkan buku puisi “Kampung Halaman” terbitan Garudhawaca. Juara I LKTJ TMMD tahun 2021.

 

Comments (0)
Add Comment