Bahaya Ketergantungan Palsu: Belajar dari Film “Esok Tanpa Ibu”: Catatan Bambang Kariyawan Ys.

Kehadiran kecerdasan buatan telah mengubah banyak cara dalam menjalani hidup. Film “Esok Tanpa Ibu” mengajarkan bagaimana memanfaatkan dan menyikapi kehadiran kecerdasan buatan. Pada salah satu babak dalam film kala di kelas memanfaatkan kecerdasan buatan untuk mengecek tugas dan PR dengan menggunakan tablet. Sangat praktis dan taktis. Namun pada babak lain yang awalnya mengagumkan dapat menghadirkan sosok yang telah tiada, selanjutnya merusak tatanan kehidupan alami sebagai manusia.

Saat Kecerdasan Buatan Merekam Suara yang Hilang, Apakah Kita Sungguh Sembuh atau Hanya Terjebak Ilusi?

Kehilangan sosok ibu selalu menjadi salah satu pukulan emosional terberat dalam perjalanan hidup manusia. Dalam narasi film drama keluarga berbalut teknologi yang mengusung premis mendalam tentang rasa kehilangan ibu. Kita disuguhkan fenomena modern yang kian dekat dengan realitas kita hari ini: bagaimana teknologi kecerdasan buatan dimanfaatkan untuk menghadirkan kembali suara, gaya percakapan, hingga ingatan orang yang telah tiada.

Kisah Rama (Ali Fikry), seorang remaja yang berusaha merangkai kembali ingatan dan suara ibunya (Dian Sastrowardoyo) lewat model AI di tengah dinginnya hubungan dengan sang ayah (Ringgo Agus Rahman), bukan sekadar dongeng fiksi ilmiah. Ini adalah cermin nyata lahirnya era Grieftech (teknologi pemulihan duka). Namun, di balik rasa haru dan kenyamanan yang ditawarkan, tersimpan satu bahaya psikologis yang teramat samar: Bahaya Ketergantungan Palsu (Illusion of Presence).

1. Fenomena Grieftech dan Ilusi Kehadiran

Di era digital hari ini, rekaman suara di pesan singkat, video lama, hingga jejak kata-kata di media sosial dapat dengan mudah dilatihkan ke dalam model bahasa buatan (Language Model). Hasilnya adalah sebuah bot atau avatar yang mampu membalas sapaan kita dengan nada, kata kesayangan, dan gaya bicara yang amat mirip dengan mendiang.

Bagi hati yang hancur karena duka, mendengar kembali suara yang amat dirindukan adalah penawar dahaga yang luar biasa. Namun, ilmu psikologi mengingatkan bahwa kenyamanan ini kerap melahirkan ilusi keberadaan (illusion of presence). Kita lupa bahwa algoritma tidak pernah merindukan kita; ia hanya menghitung probabilitas kata berikutnya berdasarkan data masa lalu. Saat seseorang mulai memperlakukan AI tersebut sebagai bentuk “kehadiran nyata“, di sinilah jebakan ketergantungan palsu dimulai.

Kecerdasan buatan mampu meniru pola bicara dan intonasi secara sempurna, namun esensi kesadaran, kehangatan jiwa, dan rasa cinta manusiawi tidak pernah bisa dikodekan dalam algoritma.”

2. Terjebak dalam Perangkap Denial (Penyangkalan)

Proses berduka yang sehat pada manusia umumnya melalui lima tahapan: penyangkalan (denial), kemarahan (anger), tawar-menawar (bargaining), depresi (depression), hingga akhirnya penerimaan (acceptance). Kehadiran AI yang terlalu nyata berisiko menghentikan laju alami ini dan mengunci seseorang pada fase penyangkalan.

Ketika seseorang bisa dengan mudah “mengobrol” dan membagikan keluh kesah malamnya kepada simulasi sang ibu, otak secara tidak sadar memandam fakta bahwa perpisahan itu telah terjadi. Akibatnya, energi emosional habis untuk merawat hubungan dengan bayangan digital, sementara ikatan nyata dengan orang-orang yang masih hidup di sekitarnya seperti hubungan ayah dan anak dalam film tersebut malah makin terabaikan.

Beberapa indikator ketergantungan palsu pada teknologi duka:
a. Pelarian Emosional. Lebih memilih berkonsultasi dengan simulasi AI daripada membuka diri kepada anggota keluarga nyata.
b. Penyangkalan Realitas. Menolak kenyataan biologis kematian dan memperlakukan percakapan AI sebagai ikatan timbal balik.
c. Emosi Terikat Algoritma. Suasana hati harian sangat bergantung pada respons yang dihasilkan oleh sistem AI.
d. Hambatan Keikhlasan. Kesulitan mencapai titik damai dan melepas kepergian seseorang secara utuh.

3. Jembatan Komunikasi, Bukan Pengganti Jiwa

Meski memiliki sisi rawan, film Mothernet tidak serta-merta menghakimi teknologi sebagai hal yang jahat. Film ini memberikan pesan tersirat yang sangat bijak: teknologi menjadi berbahaya ketika dijadikan pengganti, namun bisa menjadi sangat berharga jika digunakan sebagai jembatan.

Bagi Rama dan ayahnya, proses merakit AI bukanlah akhir dari tujuan. Proyek teknologi tersebut pada akhirnya menjadi medium transisi yang mencairkan kebekuan emosi di antara mereka. Lewat rekaman-rekaman memori yang diputar kembali, sang ayah dan anak belajar saling mendengarkan, mengakui rasa kehilangan yang sama, dan menyadari bahwa hangatnya keluarga masih tersisa pada diri mereka berdua.

4. Menjaga Keikhlasan di Era Serba Digital

Ke depan, simulasi manusia berbasis data akan semakin canggih dan mudah diakses siapa saja. Oleh karena itu, kita dituntut untuk memiliki kedewasaan emosional dalam menyikapinya. Menggunakan teknologi untuk merawat kenangan manis adalah hal yang wajar, namun menggantungkan proses pemulihan batin pada kecerdasan buatan adalah bentuk pengabaian terhadap diri sendiri.

Pada akhirnya, pelajaran terbesar dari narasi ini mengajarkan kita satu hal sederhana: cinta yang sejati tidak diukur dari seberapa gigih kita menciptakan kembali bayangan masa lalu, melainkan dari keberanian kita untuk merelakan yang telah pergi dan memeluk erat mereka yang masih ada di sisi kita hari ini.

 

Comments (0)
Add Comment