Di kedalaman bentang alam Pelalawan, Riau, masyarakat adat Petalangan merawat sebuah warisan leluhur yang tak hanya bernilai ekologis, tetapi juga padat nilai spiritual: Rimba Sialang. Kawasan hutan adat ini memeluk erat pohon-pohon raksasa nan tinggi menjulang seperti Kedondong Hutan (Koompassia excelsa) yang menjadi tempat favorit bagi ribuan lebah hutan (Apis dorsata) untuk bersarang. Namun, bagi masyarakat Melayu, Rimba Sialang jauh melampaui sekadar tegakan pohon dan sarang lebah. Ia adalah cermin marwah, benteng etika, dan filosofi hidup.
Menariknya, jika kearifan Rimba Sialang ini ditarik keluar dari rindangnya hutan dan dipindahkan ke dalam dunia sastra, kita akan menemukan sebuah metafora yang luar biasa indah tentang bagaimana seorang penulis seharusnya berkarya.
Rimba Sialang: Kehormatan dan Keharmonisan Alam
Dalam pandangan hidup Melayu tradisional, Rimba Sialang adalah indikator kehormatan dan kebesaran suatu suku. Hutan yang rindang dan kaya akan sarang lebah menandakan kawasan yang diberkahi (bertuah) serta dipelihara dengan penuh rasa hormat. Merusak pohon Sialang bukan sekadar merusak pohon, melainkan tindakan menginjak-injak marwah masyarakat adatnya. Adat menjatuhkan sanksi yang sangat berat bagi siapa pun yang berani menebangnya mulai dari denda kerbau hingga kewajiban ‘mengkafani‘ pohon yang ditumbangkan.
Prinsip utama yang diusung adalah mengambil hasil tanpa merusak sarana. Alam tidak dilihat sebagai objek eksploitasi, melainkan ruang hidup bersama. Kedalaman etika ini terekspresikan paling indah dalam tradisi pemanenan madu yang disebut Menumbai.
Saat memanjat Pohon Sialang, sang pemanjat (Juragan Mudo) tidak datang membawa senjata atau keangkuhan. Ia melantunkan bait-bait pantun dan mantra lembut, memohon izin kepada lebah dan alam. Asap yang digunakan hanya untuk mengusir lebah secara perlahan agar menjauh sementara, bukan untuk membunuhnya. Halus, santun, dan penuh kerendahan hati.
Madu yang dipanen pun tidak ditimbun untuk keserakahan pribadi, melainkan dibagi secara gotong royong demi keberkahan dan kesehatan bersama seluruh anggota masyarakat adat (anak-kemanakan).
Bertransformasi ke Laman Sastra: Etika Seorang Perajin Kata
Lantas, bagaimana kearifan ekologis ini berbicara kepada seorang penulis di laman sastra?
1. Ekosistem Gagasan (Hutan Adat): Sebagaimana Rimba Sialang membutuhkan ekosistem hutan yang utuh agar pohon-pohonnya tetap berbunga, seorang penulis membutuhkan ruang imajinasi, kedalaman wawasan, dan tradisi membaca yang dirawat dengan baik. Karya sastra yang manis tidak lahir dari benak yang gersang, melainkan dari pemikiran yang kaya.
2. Induk Karya / Magnum Opus (Pohon Sialang): Di dalam hutan, tidak semua pohon adalah Pohon Sialang. Pohon Sialang berdiri kokoh dan paling tinggi. Dalam sastra, ini melambangkan karya bernilai tinggi atau gagasan inti yang menjadi pilar seorang penulis. Tempat di mana ide-ide indah (lebah) hinggap dan bersarang.
3. Proses Kreatif yang Santun (Menumbai): Pemanenan madu lewat pantun dan kerendahan hati mencerminkan etika kepenulisan. Penulis kerap memanen cerita dari pengalaman hidup atau realitas masyarakat. Filosofi Menumbai mengajarkan agar penulis tidak “menjarah” kisah-kisah tersebut secara kasar. Menulis adalah proses menyapa realitas dengan bahasa yang santun dan estetis, sehingga menghasilkan “madu” (makna yang menyembuhkan), bukan racun yang merusak.
4. Menjaga Marwah Literasi (Melindungi Sialang): Larangan keras menebang Pohon Sialang adalah cermin dari integritas. Laman sastra harus dijaga dari komersialisasi dangkal, plagiarisme, dan pencemaran nilai kemanusiaan. Menjaga karya tetap otentik adalah cara penulis mempertahankan marwahnya.
5. Kebermanfaatan Karya (Madu Sialang): Madu Sialang dimanfaatkan sebagai obat dan penawar bagi banyak orang. Karya sastra yang baik pun demikian, ia hadir sebagai pencerah pemikiran, penyembuh luka jiwa, dan pendorong kebaikan bagi masyarakat luas.
Pada akhirnya, jika Rimba Sialang menjaga harmoni antara manusia dan alam, maka laman sastra adalah janji penulis untuk menjaga harmoni antara kata, etika, dan nilai kemanusiaan. Penulis pada hakikatnya bertindak sebagai seorang Pawang Sialang: merawat hutan imajinasinya agar tetap hijau, menyapa realitas dengan santun, dan membagikan madu karya yang manis serta menyehatkan jiwa pembacanya.