Bengkalis, atau lebih tepat kita menyebutnya Pulau Bengkalis, telah dikenal sebagai pulau bersejarah— pulau rindu yang menyimpan berbagai kenangan yang pernah singgah. Bagi penduduk Bengkalis, pulau ini adalah ‘surga’, laman bermain nan permai, kampung halaman yang hijau menjanjikan kedamaian. Juga sebuah negeri (pulau kecil) yang selalu diliputi keberkahan. Bagi para perantau yang datang, Bengkalis adalah permata, negeri yang memberi keindahan, ketenangan dan juga kehidupan.
Dari berbagai cerita para orang tua dari mulut ke mulut, para penulis maupun sastrawan, hingga sejarawan dan sejumlah akademisi, menyatakan bahwa penduduk pulau ini yang secara historis adalah Melayu (dalam konteks bangsa)— yang pernah terhubung langsung dengan masa lalu (masa kesultanan Melayu Malaka dan bahkan jauh sebelum itu, sebelum abad ke-15), dikenal sebagai daerah yang sangat akomodatif. Penduduknya ramah, bersikap terbuka terhadap berbagai unsur budaya yang datang. Meski demikian, segala warisan khazanah Melayu yang telah ada, tumbuh dan berkembang, tetap dalam pelukan pada tiap diri penduduknya.
Pulau Bengkalis disamping letaknya sangat strategis di masa itu— bahkan hingga ke hari ini, adalah daerah yang istimewa, menjadi tempat persinggahan para pedagang yang datang dari berbagai penjuru negeri dan belahan dunia. Bahkan menurut catatan sejarah yang ditulis sejarawan Riza Pahlefi dalam bukunya Bengkalis Negeri Jelapang Padi, Bengkalis dahulunya adalah daerah yang diperebutkan, berada dalam dua kuasa imperium besar Melayu, yakni Kesultanan Melayu Malaka (yang jatuh ke tangan Portugis pada 1511 dan kemudian berada pada kuasa Kesultanan Johor yang disebut-sebut sebagai kelanjutan dari Malaka), serta Kesultanan Siak Sri Indrapura yang lain tak bukan merupakan pecahan dari Kesultanan Johor itu sendiri). Selain dua imperium besar Melayu serta beberapa kerajaan lain yang silih berganti pernah berkuasa dan menjadi yang dipertuan atas Bengkalis, terdapat pula kekuatan lain yang turut memberi warna tersendiri dalam lintasan sejarah Bengkalis pada masa itu. Kekuatan tersebut adalah Belanda, baik itu di masa berdirinya VOC (Verenigde Oostindische Compagnie) maupun setelah VOC dibubarkan oleh adanya skandal korupsi yang berlaku pada masa itu.
Sejak dahulu, Pulau Bengkalis selain dikenal sebagai daerah yang menyuguhkan berbagai pesona, termasuk hasil lautnya yang melimpah, seperti ikan terubuk di Selat Bengkalis (Belanda menyebutnya Selat Brouwer), juga dikenal sebagai salah satu daerah yang melahirkan banyak penulis, para seniman, sastrawan dan budayawan. Sebut saja seperti Soeman Hs yang merupakan tokoh sastra ternama Indonesia kelahiran Bengkalis dengan karya sastranya berupa cerpen dan novel. Bahkan beliau sendiri dikenal sebagai salah satu pelopor penulisan cerita pendek dan fiksi detektif pada masa Angkatan Balai Pustaka. Karyanya sangat monumental, menginspirasi dan turut memberi warna dalam perkembangan kesusastraan tanah air. Sampai saat ini, ketokohan dan nama besar beliau terus menjelma, merasuk ke dalam jiwa, ke dalam darah setiap generasi yang datang sesudahnya; melanjutkan tuah Pulau Bengkalis yang dapat disebut sebagai Pulau Sastra.
Nah, ketika salah seorang sastrawan Riau, seperti Murparsaulian saat kembali menjejakkan kaki— datang dan berkunjung ke Pulau Bengkalis dalam beberapa rangkaian Festival Sastra Melayu Riau (FSMR) – Hikayat Sastra Pesisir yang mengambul tema “Bersampan Kata Meniti Bahasa, Berkayuh Sampai ke Pulau Sastra” tajaan Suku Seni Riau dibawah binaan SPN Marhalim Zaini pada 20 s.d 22 Agustus 2026 di pulau ini, ia tak menafikan jika Bengkalis selalu saja menawan hatinya untuk datang. Itu semua tak terlepas dari keberadaan pulau ini sebagai sebuah kawasan pesisir yang bersejarah, yang mengembalikan segala memori dan ingatannya pada sejarah daerah ini di masa lampau, termasuk ingatannya ketika ‘bermain-main’ di laman kesenian dan berbagai even kebudayaan yang pernah diselenggarakan di sini. Meski sudah berlangsung beberapa dekade yang lalu, namun even-even yang penuh seri dan cahaya itu masih saja berlegar-legar di ingatannya—membuatnya selalu rindu untuk datang lagi dan datang lagi ke Bengkalis. Dan dikarenakan itu pula, datang berkunjung ke Bengkalis baginya adalah suatu kebahagian, nikmat dan anugerah yang wajib disyukuri, apalagi dalam pertemuan-pertemuan yang menghimpun para penulis, sastrawan dan budayawan seperti yang tengah diselenggarakan Rumah Suku Seni ini.
Sebagai sesama penyair dan sastrawan, aku dapat merasakan ketulusan hati dan kesan mendalam penyair perempuan ini akan Pulau Bengkalis— yang dalam peta Negara berada di bagian utara (tengah Pulau Sumatra) berbatasan dan berhadapan langsung dengan Selat Malaka (Malaysia). Di mata Kak Mur, aku memanggilnya begitu, Bengkalis adalah sebuah negeri yang menyimpan beragam kemolekan; kemolekan alam, selat, laut dan bahari-nya, juga kemolekan sejarah maritimnya yang perkasa,- yang lekat dalam ingatan, juga harapan dan cita-cita yang tumbuh bersamanya. Dan semua penilaiannya terhadap Bengkalis, kemudian ia suarakan dengan jujur dan dengan sangat puitis melalui diksi-diksi metaforis dalam sebuah puisi liris yang sempat ia tulis ditengah pelayaran menyusuri ombak Selat Bengkalis yang mengalun,- disaat menyeberangi selat itu menggunakan kapal Roro dari pelabuhan Sungai Pakning (di Pulau Sumatra) menuju Air Putih (di Pulau Bengkalis) pada 21 Agustus 2026 yang lalu.
Menariknya lagi, puisi liris berjudul Datang ke Bengkalis—berisi tentang perasaan dan pengalaman saat ke Bengkalis itu turut dibacakannya pada penutupan helat FSMR 2026 yang dipusatkan di Telukpambang (sebuah desa di Kecamatan Bantan yang berada di bagian utara ujung timur Pulau Bengkalis) pada Sabtu malam 22 Agustus 2026. Ia sengaja hadir bersama sejumlah sastrawan Riau seperti Bambang Karyawan (Pekanbaru), Jasman Bandul (Kepulauan Meranti), Musa Ismail dan sejumlah sastrawan asal Bengkalis lainnya di sana; menyemangati geliat sastra pesisir yang akhir-akhir ini tunak digagas dan diterokai dengan sangat anggun oleh SPN Marhalim Zaini bersama seniman dan pegiat sastra lainnya melalui Rumah Kreatif Suku Seni Riau-nya yang hampir sembilan tahun ini berjalan.
Untuk mencermati secara padu tentang Bengkalis di mata Murparsaulian sebagai sastrawan dan budayawan Riau kelahiran Pasirpengaraian, Rokan Hulu pada 5 Februari 1977 ini, mari sejenak kita selami kedalaman puisi yang ia tulis dan ia bacakan itu di Telukpambang berikut ini:
datang ke bengkalis disambut gerimis
datang ke bengkalis disambut gerimis
di tengah langit yang tekun menulis
sejarah tak pernah habis
bengkalis bukan tanah persinggahan
ia simpul luhur peradaban
laut membentang menjadi halaman
tempat kita menenun masa depan
di sini keberanian bukan amarah
kekuatan bukan untuk menindas
berdiri tegak berjuang dengan budi yang ikhlas
jadilah melayu yang tahu asal
teguh akal luas menang
tinggi ilmu halus akal
berani melangkah santun bertingkah
di sinilah jejak datuk laksamana
menjaga selat menjaga marwah
melawan arus menahan gelora
datuk laksamana berdiri di haluan menjaga perairan
bukan sekadar gagah menghunus keberanian
tapi tetap teguh menimbang sebelum melangkah
menyusun kata sebelum bersuara
laut mengajarkan melayu berani
gelombang ditempuh badai dilalui
namun setinggi layar mengembang di laut
serendah hati tetap tunduk pada adat
datang ke bengkalis disambut gerimis
dibalik titis yang jatuh ruh melayu berbisik
bukan sekedar tentang masa lalu
tetapi tentang siapa kita hari ini
ombak tak pernah bertanya
sejauh mana layar akan dibawa
ia mengajarkan satu perkara
akal boleh di pantai
namun cita-cita mesti melampau selat
wahai…
jangan hanya mewarisi nama dan cerita
nada pantun menjadi suara,
kadang menjadi cara membaca dunia
berlayarlah…
jemput ilmu dari segala penjuru
mengejar mimpi di atas peta yang baru
raih dunia dengan tanganmu
ketika pulang dengan melayu hidup di dadamu
-di atas kapal roro sungai pakning-bengkalis, 21 Agustus 2026
Puisi Murparsaulian ini menurutku sarat akan makna, terhampar sederetan pesan dan amanat yang megah. Selain itu, ingatan akan (jejak) sejarah yang pernah terserlah dari kawasan ini (Bengkalis dan sekitarnya), terutama tentang kebijaksanaan Datuk Laksamana (dalam hal ini aku lebih suka memaknainya sebagai tokoh simbolik), dengan sangat bening diabadikannya lewat puisi yang dapat dikatakan sebagai puisi gagasan yang bernas,- yang ia tulis itu. Di bagian lain, dengan segenap kemampuan yang ada padanya, Murparsaulian begitu jeli menghadirkan sebuah puisi liris bernuansa sejarah ini di halaman peradaban kita, Tentu dengan hati yang tulus bahwa Bengkalis adalah puisi (sejarah) yang tak pernah habis ditulis. Bahkan lewat puisinya, ia dengan terang benderang mendambakan Bengkalis di masa hadapan agar terus maju dan berkembang, baik akal budi, ilmu, keberanian, kesantunan, adat, hingga sejarah yang ada padanya.
Di pandangan penyair perempuan yang satu ini dalam puisinya, Bengkalis bukan sekadar tanah persinggahan— tempat beristirahat walau sesaat, melainkan simpul luhur tempat ombak menjadi halaman membaca, dan laut luas menjadi rahim masa depan. Di sinilah bayang Datuk Laksamana (Laksamana Raja di Laut) hidup abadi—mengajar keteguhan jiwa, keseimbangan akal budi bagi setiap insan yang datang mendiami kawasan pesisir Bengkalis ini. Lautan bergelora dan badai yang menderu diterjemahkannya sebagai kawah candradimuka pembentukan karakter bangsa. Layar yang mengembang tinggi dihempas gelombang tetap diiringi hati yang tunduk kepada adat; bagai padi, kian berisi kian merunduk ke bumi.
Puisi ini juga mengandung pesan yang sangat puitis. Di larik-larik akhirnya menjelma menjadi sebuah seruan suci, meski terdengar seperti khotbah, petuah-petuah yang disampaikan dari mimbar-mimbar peradaban: agar anak cucu tidak sekadar berbangga dan terbuai pada nama dan cerita masa lalu, tentang kebesaran (sejarah) Melayu,- nama besar Bengkalis di masa yang lampau, namun hendaknya membawa jauh identitas Melayu itu menembus batas-batas selat, menjemput ilmu ke berbagai penjuru dunia, dan pulang dengan napas kebudayaan yang tetap bersemayam di dada. Pulang membawa kebahagiaan, kemakmuran untuk negeri. Dan inilah pesan mulia yang berkaca pada ingatan sejarah masa lalu, mengandung ide dan gagasan, juga harapan dan cita-cita.
akal boleh di pantai
namun cita-cita mesti melampau selat
Dari larik puisi itu tampak ada kata pantai dan selat: yang pertama menandai akar, yang kedua menandai jarak yang harus ditempuh. Dengan demikian, identitas Melayu dalam puisi ini tidak dibangun sebagai alasan untuk menetap, tetapi sebagai modal untuk berlayar. Dengan kata lain, akar tradisi harus tetap berpijak kukuh di tanah Bengkalis, sementara sayap-sayap mimpi harus senantiasa dikepakkan sejauh mata memandang, seluas alam semesta. Atas dasar itu pula, pantai dan selat seperti dikatakan Murparsaulian dalam puisi itu bukan sekadar latar geografis. Pantai adalah batas, asal, tempat berpijak, kampung halaman dan tradisi. Sementara selat menjadi ruang antara, pemisah sekaligus penghubung. Maka melampaui selat bukan hanya berarti pergi secara geografis, namun dapat dibaca sebagai metafora untuk melampaui batas pengetahuan, ekonomi, kebudayaan, bahkan cara berpikir.
Tradisi tidak dibuang. Tetapi tradisi juga tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti.
Jika menelisik lebih jauh, puisi ini menyuguhkan paradoks yang menarik. Dari teks yang dibaca, puisi berkisah tentang hal ihwal masa depan dengan bahasa masa lalu, ditaburi dengan simbol dan diksi-diksi yang dekat dengan kehidupan masyarakat Melayu pesisir seperti Datuk Laksamana, adat, Melayu, laut, gelombang, layar, marwah, pantun dan asal usul. Tetapi tujuan akhirnya justru jemput ilmu dari segala penjuru, mengejar mimpi di atas peta yang baru, raih dunia dengan tanganmu. Aduhai… Meski bahasa simboliknya tradisional, akan tetapi orientasi gagasannya futuristik.
Di kesempatan lain, dari beberapa perbincangan kecilku bersama Kak Mur,- Bengkalis pada suatu masa yang lalu adalah laman yang ranggi bagi para penyair dan sastrawan di Riau, bahkan se-Sumatra dalam bersastra, menyulam kata-kata,- termasuk dirinya. Beberapa even seni dan budaya pernah ia sertai di Bengkalis. Akan tetapi itu sudah lama sekali, 20 atau 25 tahun yang lalu. Namun bagi istri Kunaifi yang dulu pernah memakai nama pena Murtheodora Rilke dalam setiap karyanya itu, mengaku lupa-lupa ingat. Tapi kalau tak salah katanya, ia dulu pernah mengikuti kegiatan sastra Sayang-Sayang Selat, yang saat itu dihadiri penyair besar hari ini: Presiden Penyair Indonesia Sutardji Calzoum Bachri.
“Iya sudah lama sekali itu ya, Saya lupa-lupa ingat acara yang mana, Kalau tak salah dulu pernah ada acara Sayang-Sayang Selat, ada Sutardji Calzoum Bachri waktu itu. Waktu acara Pak Riza Pahlefi pada pertemuan penyair Sumatra atau apa ya, kita ada terbitkan antologi puisi bersama dengan tajuk Purnama Kata,” kata Kak Mur.
Seingatku, di tahun-tahun dimana Riza Pahlefi menjadi wakil bupati Bengkalis sekaligus Ketua Dewan Kesenian Bengkalis kala itu (antara tahun 2000-2005), berbagai even seni dan budaya pernah digelar di Bengkalis, di Gedung Kesenian Cik Puan yang berada di Jalan Hangtuah. Gedung ini sejak dulu menjadi pusat pertunjukan seni, pementasan teater, dan berbagai perhelatan kebudayaan lokal di Bengkalis, yang sebelumnya pernah berpusat di salah satu bangunan yang ada di Jl. Pahlawan, Kota Bengkalis (jika tak salah Gedung Sasana Budaya namanya). Pada era awal tahun 2000-an tersebut, geliat kesusastraan dan pertemuan penyair/seniman di Riau (termasuk di Kabupaten Bengkalis) sedang tumbuh subur melalui berbagai pementasan teater, baca puisi, dan forum seniman daerah lainnya.
Sejenak mengenal lebih dekat akan ketunakan sastrawan perempuan Riau yang satu ini—yang juga merupakan adik kandung dari sastrawan Samson Rambah Pasir dalam menulis karya-karya sastra, bahwa berdasarkan buku Ensiklopedia Sastra Riau,- yang disusun Agus Sri Danardana, dkk dan diterbitkan Palagan Press bekerjasama dengan Balai Bahasa Provinsi Riau pada 2011, ia mulai memperkenalkan tulisan-tulisannya itu saat aktif mengelola Bahana Mahasiswa, sebuah surat kabar di kampus Universitas Riau di Pekanbaru tempatnya berkuliah. Menariknya lagi, dari tangan dingin abangnya itu-lah ia mendapatkan bacaan-bacaan sastra. Karya Albert Camus, Frans Kafka, Rabindranath Tagore, Reiner Maria Rilke, M. Iqbal, dan Jalaludin Rumi, misalnya, adalah contoh beberapa karya sastra dunia yang telah dibacanya.
Berdasarkan keterangan di buku setebal xiv + 333 halaman itu pula, semenjak ia bergabung di surat kabar Bahana Mahasiswa, karya-karya sastranya berupa puisi dan cerpen secara perlahan tersebar di berbagai media massa cetak, seperti Riau Pos, Horison, Sagang, dan Dewan Bahasa (majalah Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia). Karya cerpennya terhimpun dalam berbagai antologi, seperti Pertemuan Dalam Pipa (Dewan Kesenian Jakarta & Logung Pustaka, Jakarta, 2004), Terbang Malam (Yayasan Sagang, Pekanbaru, 2002) Keranda Jenazah Ayah (Yayasan Sagang, Pekanbaru, 2007), Satu Abad Cerpen Riau (Yayasan Sagang, Pekanbaru, 2004), dan Magi Dari Timur (Yayasan Sagang, Pekanbaru, 2003). Sementara karya-karyanya berupa puisi terhimpun dalam berbagai antologi puisi, antara lain, Tanda (Dewan Kesenian Riau, Pekanbaru, 1999), Pumama Kata (Dewan Kesenian Bengkalis, Bengkalis, 2000), Musim Bermula (Himpunan Perempuan Seni Bu daya Pekanbaru, 2001), Pesona Musim (Himpunan Perempuan Seni Budaya Pekanbaru, 2002), dan Kemilau Musim (Himpunan Perempuan Seni Budaya Pekanbaru, 2003).
Selain menulis, Murparsaulian juga aktif membacakan karya-karya sastranya di berbagai tempat, seperti di Taman Ismail Marzuki (Jakarta, 1999), Universitas Kebangsaan Melayu (Kualalumpur, 2000), dan Singapura (2001). Dalam peta kesusastraan Riau, Murparsaulian tergolong dalam deretan penyair wanita Riau setelah generasi Ar, Kemalawati, Tien Marni, dan Herlela Ningsih. Oleh banyak pihak, Murparsaulian dianggap agak berbeda dengan kebanyakan penyair wanita pada umumnya yang hanya terpaku pada dunia romantik, namun dia lebih dari itu,- mau menjelajahi persoalan sosio kultural etniknya, sehingga Maman S Mahayana dalam suatu kesempatan pernah menulis sebuah makalah/artikel berjudl Peta Konstelasi Penyair Sumatera, “Ada hasrat melakukan kritik sosial atas dampak modernisasi dan pembangunan, dan ada kecemasan atas derasnya budaya popular,” tulis Maman S Mahayana. Ia-pun lalu menyebut tiga sajak (puisi) Murparsaulian guna mendukung pendapatnya itu, yaitu Syair buat Marina, Mengeja Sejarah, dan Kulabuh Kasih pada Negeri yang Perih.
Dulu Murparsaulian pernah aktif di bidang jurnalistik, lalu oleh Hasan Junus (almarhum) dan Mosthamir Thalib dipercaya menggawangi Biduk (suplemen budaya untuk penulis usia muda), kemudian bergabung bersama majalah induknya: Sagang (1998-2000). Setelah dua tahun kemudian ia pindah ke harian Riau Pos menggawangi halaman budaya. Bahkan setelah itu, pada Juli 2001 ia pindah lagi ke Riau Televisi (Rtu) Pekanbaru sebagai reporter dan presenter. Sampai hari ini, beliau masih terus bersastra; menulis dan membacakan karya sastra berupa puisi di berbagai tempat dan even sastra yang digelar. Terakhir, beliau dengan karakter suaranya yang khas, menyapa masyarakat Telukpambang, masyarakat Pulau Bengkalis—melalui puisinya tentang Bengkalis, tentang sejarah serta kebesaran yang ada padanya,- yang sampai kapan-pun sejarah serta semangat yang diwarisi akan selalu terjaga lewat karya anak negeri dengan segala perhatian setulus hati.
Selain merupakan seorang sastrawan, Murparsaulian adalah akademisi, kolumnis dan penggiat media kreatif. Ia memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Bahasa dan Sastera Indonesia dari Universitas Riau pada tahun 2002. Kemudian Magister Ilmu Komunikasi dan Pendidikan diselesaikannya di University de Autonoma Barcelona UAB, Spanyol pada tahun 2020. Dia juga penerima beasiswa IASTP dari Pemerintah Australia di University of Sydney, Australia. Buku kumpulan puisinya bertajuk Pulang (Salmah Publishing, Pekanbaru 2022). Ia juga menerjemahkan buku kumpulan puisi (Indonesia-Inggris) karya Rida K Liamsi yaitu Rose, Selected Poem Rida K Liamsi (Yayasan Sagang, Pekanbaru, 2013 dan Longing River, Selected Poem Rida K Liamsi (Yayasan Jembia Emas, Tanjung Pinang, 2022). Selain itu, ia juga aktif dalam berbagai kegiatan kebudayaan dan literasi baik sebagai nara sumber, penyelenggara maupun peserta.
Selamat dan tahniah, Kak Mur— karena telah ke Bengkalis untuk ke sekian kalinya, ke pulau kecil yang besar akan kisah sejarah dan seni budaya-nya ini. Dan benarlah apa yang pernah dikatakan orang-orang tua Bengkalis di masa lalu, bahwa jika sudah terminum air Bengkalis, maka suatu saat nanti pasti akan datang lagi ke tempat ini. Ya! Semoga datang dengan membawa rindu dan kenangan yang menderu.
Akhirnya, semoga ruh dan semangat puisi yang kau tulis dan kau baca ketika berada di pulau ini menjelma dalam setiap batang tubuh dan urat nadi masyarakat Bengkalis. Kehadirannya bukan sekadar pengingat akan sejarah besar yang pernah tumbuh dan bersemayam di sini, melainkan menjadi alarm moral bagi tanah Melayu, bagi masyarakat yang berada di kawasan pesisir Riau ini agar tidak menjadi penonton di rumah sendiri, melainkan menjadi nahkoda yang berani membawa bahtera peradaban mengarungi samudra zaman yang senantiasa bergemuruh, bergelora.
jadilah melayu yang tahu asal
teguh akal luas menang
tinggi ilmu halus akal
berani melangkah santun bertingkah
Begitulah Murparsaulian dalam puisinya yang manis, selalu saja menawarkan jalan pulang, kepada Melayu yang tahu akan asal dan usulnya. Namun ada pertanyaan yang selalu terngiang dan memerlukan jawaban yang jujur— tentang sejauh mana masyarakat pesisir kita hari ini benar-benar mempraktikkan keberanian dalam melangkah, juga santun dalam bertingkah di tengah era digitalisasi dan hantaman globalisasi seperti dikatakan Murparsaulian dalam puisinya itu?
Dan semoga puisi Datang ke Bengkalis Kak Mur ini bukan semata-mata puisi nostalgia tentang sebuah pulau dan sejarah Melayu. Namun lebih dari itu, merupakan puisi yang menggunakan masa lalu sebagai legitimasi moral untuk mengajak Melayu keluar dari dirinya sendiri: mempertahankan adat, tetapi menyeberangi batas; mengenali asal-usul, tetapi mengejar ilmu; menjaga marwah, tetapi tidak takut berhadapan dengan dunia. Di situlah paradoks sekaligus kekuatan puisi Murparsaulian ini: ia berbicara kepada masa depan dengan bahasa masa lalu.
Wallahu a’lam.
Tabik!
Bengkalis, 25 Agustus 2026.
Marzuli Ridwan Al-bantany adalah penulis, penyair dan sastrawan Indonesia bermastautin di Bengkalis, Riau. Ia tidak hanya menulis esai maupun artikel budaya dan sastra, namun juga menulis puisi, cerpen dan novel serta membukukan karya-karya sastranya itu. Bersama sejumlah penulis lokal lainnya di Bengkalis, ia juga menulis buku non fiksi seperti buku berjudul Profil Ulama Karismatik di Kabupaten Bengkalis: Meneladani Sosok dan Perjuangan (jilid 1 & 2). Sejumlah organisasi sosial dan kemasyarakatan turut ia sertai, diantaranya aktif di struktur Majelis Kerapatan Adat LAM-R Kabupaten Bengkalis, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bengkalis dan Anggota Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) Kabupaten Bengkalis. Ia juga sering didaulat dalam memberikan materi pelatihan tentang tulis-menulis, serta menjadi juri menulis cerpen, puisi dan lomba bersyair.