Jika Waktumu Lapang, Datang dan Berkunjunglah ke Bengkalis: oleh Marzuli Ridwan Al-bantany*)

BENGKALIS selamanya akan selalu memanggil. Memanggil engkau dan siapa-pun yang datang dengan rindu,- dengan desir ombak selatnya yang selalu lembut mendayu-dayu. Mungkin di suatu ketika ia akan berbisik-bisik mesra kepadamu,- mengatakan kalimah penuh sakti dan bertuah itu dengan segala sukacita,- yang sekian lama ia pendamkan.

Kepada anak-anak pulaunya yang jauh dan telah lama merantau, Bengkalis tak pernah lelah mengiriminya doa. Doa yang kerap dimunajatkan agar segala keberkahan hidup di perantauan tetap menjadi miliknya, menghiasi hari-hari yang dilalui,- menjemput mimpi dan segala yang diingini.

Kepadamu yang telah ditakdirkan terpanggil oleh salam sapa negeri penuh damai yang permai ini, maka saat kakimu menjejak dermaganya (pelabuhan Roro), angin laut menyambutmu seperti ibu yang merindukan anaknya yang lama merantau. Ia pasti mengusap pipi, membawa bau garam dan wewangian sejarah yang mungkin telah berkurun lama terlupakan.

Di kejauhan, Tanjak Melayu yang berdiri gagah di Lapangan Tugu di jantung kota ini, akan menyambutmu dengan ucapan selamat datang paling riang. Ia bukan lagi sekadar ornamen penghias negeri. Ia adalah simbol mahkota negeri yang tetap menunduk menaruh rasa hormat kepada langit, kepada siapa-pun yang datang menjenguknya,- mengingatkan kita bahwa orang Melayu itu tinggi akan budi pekertinya, bukan tinggi kepala dan rasa bangganya pada segala apa yang dipunya.

Kepadamu yang mungkin baru pertama kali berkunjung ke Bengkalis (tepatnya pulau Bengkalis) atau daerah lainnya di seberang pulau ini, barangkali engkau telah berjalan menyusuri jalanan yang dahulu pernah dipijak para Datuk dan Laksamana. Aspal-aspal hitam dan jalan-jalan beton yang hari ini kau lalui, mungkin diam-diam bercerita,- berbisik tentang kapal-kapal Belanda yang dulu pernah berlabuh, tentang para saudagar timah dan bauksit yang selalu memeras keringat, juga tentang mereka yang gemar menjadikan ikan-ikan terubuk dan telurnya dari Selat Bengkalis (Brouwers Strait) ini sebagai komoditi unggulan perdagangan.

Selama engkau berada di Bengkalis, di tanah yang menyimpan selaksa rindu, kenangan dan sejarah ini, engkau akan merasa damai dan tentram berada di sini. Seruan sang muazzin dari Masjid Agung Istiqomah tak akan pernah lelah mengingatkanmu tentang makna dan pentingnya menjaga waktu. Pohon-pohon kelapa, resam dan pakis di tepi jalan-pun akan ikut bergoyang,- menari-nari menyambutmu; “Selamat datang ke tanah Junjungan.”

Engkau mungkin tahu, bahwa Bengkalis selama ini adalah negeri yang pandai menyimpan semua rindu. Seperti Pantai Indah Selat Baru dan pantai-pantai lainnya di sepanjang pesisir utara pulau ini,- selalu saja tegar, diam menahan gempuran ombak Selat Malaka yang saban waktu menghantam. Ia tak pernah menangis, namun tetap akur menerima semua takdir yang mungkin telah tertulis untuknya.

Di Pantai Indah Selatbaru,- saat kau merentangkan tangan lebar-lebar, engkau akan merasakan kedamaian yang alami. Ombak laut bertepuk tangan lembut di pasir, mengundang siapa saja duduk dan bercakap-cakap dengan senja. Saat air surut, ia akan malu-malu menunjukkan Gunung Ledang di seberang sana. Engkau mungkin telah mafhum, bahwa itu adalah janji lama antara dua negeri serumpun yang tak pernah putus sampai kini.

Ketika engkau berada di Pantai Raja Kecik,- sebelah timur-nya lagi yang hanya ditempuh sekitar 25-30 menit menggunakan kendaraan bermotor dari Pantai Indah Selatbaru, engkau akan disambut oleh jembatan kayunya sepanjang 800 meter, jembatan yang membentang seperti lengan seorang nelayan yang ingin menggapai langit harapan. Mangrove-mangrove di sekitar pantai itu berdiri rapat, menjadi benteng yang setia menjaga pantai dari amarah abrasi. Mereka berbisik satu sama lain tentang Presiden yang pernah menanam harapan di tanah itu beberapa waktu yang lalu.

Kembali ke Kota Bengkalis, di Taman Andam Dewi,- di waktu malam-pun akan selalu terjaga. Air mancurnya lincah menari-nari, memercikkan cahaya seperti permata yang dilemparkan bulan ke bumi. Kan kau saksikan pula anak-anak kecil riang tertawa, para orang tua pun turut bercerita. Mungkin tentang segala cinta, tentang harapan dan cita-cita yang urung kesampaian. Bahkan di tempat itulah pula kota ini terus belajar menjadi rumah, menjadi magnet bagi semua, perekat budaya dan pemersatu anak-anak negeri yang bahari.

Untuk ukuran sebuah kabupaten, pulau Bengkalis ini mungkin terlalu kecil bagimu, namun siapa sangka jika di sinilah pusat pemerintahan itu sejak dulu berada. Kantor bupati, gedung DPRD, rumah dinas bupati dan wakil bupatinya, gedung tiga perguruan tinggi; Politeknik Negeri Bengkalis, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Datuk Laksemana Bengkalis dan Institut Syariah Negeri Junjungan (ISNJ) Bengkalis, kantor-kantor pemerintahan dan instansi serta sisa-sisa bangunan peninggalan sejarah masa lampau, bahkan gedung lembaga adatnya, LAMR Bengkalis- tampak berdiri kokoh dengan bangunannya yang megah dan memanjakan mata. Sebagai penjaga adat dan budaya, dari gedung LAMR itu akan selalu terdengar kata-kata meski lirih berbisik, tentang sebuah pesan agar adat jangan mati, agar pantun jangan punah, agar adat sentiasa bersendikan syarak, syarak bersendi Kitabullah.

Lihatlah pelabuhan itu. Ia tidak tidur. Siang malam ia bekerja seperti kuli yang setia. Kapal-kapal datang membawa dagang, pergi membawa hasil bumi. Pelabuhan Bengkalis hari ini bukan lagi dermaga kayu seperti zaman dulu. Ia telah menjelma menjadi urat nadi ekonomi yang dalam senyap tetap memompa darah perdagangan ke seluruh penjuru pulau. Dari sinilah rezeki itu mengalir. Dan dari sini pula-lah nama Bengkalis disebut di negeri-negeri seberang.

Jika engkau berdiam lebih lama dan menelusuri lebih dalam ketika berada di kota kecil ini, maka kau akan mendengar suara lain. Itu suara buku yang dibuka di sekolah-sekolah dan kampus. Anak-anak Bengkalis hari ini membaca dengan mata yang lapar ilmu. Guru-gurunya menulis di papan tulis dengan kapur harapan. Sejak lama Bengkalis telah bersiap-siap agar menjadi kota pendidikan. Ia ingin melahirkan cendekiawan yang berpeci dan berkopiah,- yang pintar dan beradab. Sebab mereka sadar betul bahwa negeri yang besar bukan diukur dari seberapa megah dan gagah gedungnya, tapi dari banyaknya anak yang pandai, berwawasan dan berilmu pengetahuan.

Di lain waktu, jangan lupakan pula dapur negeri ini. Pergilah ke Pasar Terubuk. Di sana rempah-rempah saling bertutur, bencengkrama. Jika berkesempatan, engkau akan menemukan ikan terubuk berbaring. Belacan ‘togok’ dari Kampung Meskom selalu mengeluarkan aroma yang memanggilmu pulang. Ibu-ibu berniaga dengan senyum, abang-abang mengangkat dagangan sambil berpantun. Bagaimana-pun Ekonomi Bengkalis hari ini terus berkembang meski dalam situasi yang kadang sulit diprediksi. Dan sampai kapan-pun ia tak lagi hanya bergantung pada minyak. Pariwisata, perikanan, UMKM, dan kuliner Melayu terus bergeliat dan bangkit bersama-sama, bergandengan tangan seperti sirih dan pinang.

Terlepas dari berbagai kondisi yang selalu hadir, Bengkalis sejauh ini terus mempersolek diri. Desa Wisata Bukit Batu diseberang pulau (daratan Sumatera) sentiasa merapikan rumahnya. Hutan mangrove-nya berdiri tegak seperti prajurit yang menjaga garis pantai. Karena kegigihannya menjaga diri sebagai kampung wisata, desa ini pada Agustus 2023 lalu meraih penghargaan Museum Rekor – Dunia Indonesia (MURI) dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI). Desa ini mendapat penghargaan untuk kategori wisata yang memiliki sejarah kejayaan laut terluas, berdampingan dengan prestasi sebagai Juara 4 Nasional ADWI 2023.

Ketika engkau berada di Rupat, Pulau Beting Aceh akan menebar pasir putihnya, mengundang wisatawan untuk mandi di pangkuan laut yang jernih. Bengkalis tahu, masa depan pariwisata di daerah ini adalah bagian dari urat nadi kehidupannya. Menjaga alam sambil memuliakan tamu adalah bentuk penghormatan paling tulus dan setia,- bahwa alam Bengkalis adalah pemberian Tuhan yang mesti dirawat dan dijaga sepenuh jiwa.

Bengkalis hari ini sudah 514 tahun umurnya,- mengikut kesepakatan bersama dalam penetapan hari jadinya. Bagaimana-pun, kemajuan hari ini yang dicapai oleh negeri ini jika tanpa adat ibarat kapal tanpa nahkoda. Karena itu Bengkalis berjanji pada dirinya sendiri: membangun boleh tinggi, tapi jangan sampai melupakan tanah. Teknologi boleh maju, tapi pantun tetap harus dilantunkan. Hotel-hotel dan penginapan boleh berdiri, tapi Rumah Datuk Laksamana tetap harus dijaga. Begitu pula dengan peran ulama dan pejuang di masa lampau tetap dikenang,- menjadi semangat yang selalu digelorakan. Dengan begitu, Bengkalis tidak akan kehilangan jiwanya saat ia tumbuh menjadi sebuah kota besar.

Bengkalis bukan hanya tanah dan laut. Ia adalah kitab terbuka. Setiap pelabuhannya adalah lembar sejarah. Setiap sekolahnya adalah pelita. Setiap pasar dan berbagai titik temu bagi masyarakatnya adalah denyut ekonomi yang akan selalu berlari cepat. InsyaAllah, di masa datang, Bengkalis akan terus berkembang. Akan tumbuh menjadi kota sejarah yang pandai menceritakan dirinya kepada cucu cicit kita kelak. Menjadi kota pariwisata yang tamunya datang membawa senyum dan pulang membawa rindu dan kenangan.

Bagimu, mungkin tulisan sederhana-ku ini tak memberi nilai dan arti apa-apa. Namun ketika ekonomi negeri ini kelak berkembang dengan pesatnya, berbagai kelemahan di sana sini dapat diselesaikan dengan baik dan sempurna, maka biarlah ia seperti sungai yang deras tapi tetap di dalam palungnya. Deras untuk mensejahterakan, tapi tetap beradab. Agar kekayaan tidak membuat kita lupa diri, dan kemajuan tidak membuat kita lupa daratan.

Untuk engkau yang datang dan berkunjung ke Bengkalis, sampai jumpa lagi di negeri yang bertamadun ini. Biarkan ombak pantai Selat Bengkalis menyimpan namaku hari ini. Biarkan pula anginnya menyampaikan salam tulusku kepada para leluhur. Sebab berkunjung ke Bengkalis bukan sekadar melancong. Berkunjung ke Bengkalis hakikatnya adalah pulang. Pulang ke pangkuan Melayu yang selalu merendah dan menaruh rasa hormat, tanpa pernah merasa hina,- apalagi merasa paling tinggi dan memiliki segalanya.

Sebelum kuakhiri esaiku kali ini, izinkan kuselipkan sebuah puisi/sajak yang pernah ditulis tahun 2022 lalu dan sedikit diubahsuai. Puisi ini masih relevan dengan tema tulisan ini,- menyuarakan isi hati anak pulau, tentang doa dan harapan demi kemaslahatan dan persaudaraan sesama anak negeri.
Terimalah…

DI RUMAH LAUT 511-21
: Kita yang singgah dalam pelbagai kisah dan pusaran sejarah

Di rumah laut, perbualan kita kian larut, pecah bagai ombak selat Bengkalis mengalun-ngalun lembut, tak hendak surut. Segalanya terkalam indah, tanpa lagi dinding pemisah, sebab kita tak ingin musnah dalam seteru yang entah kapan sudah.

Di jantung negeri dipancangi berjuta impi, kita tak ubahnya pengembara sepi di laman-laman sendiri berharap bersualah senyum sapa, salam paling mesra dari kilau kemilau cahaya.

Kita mengurai semua kisah, sejarah yang tak mungkin patah oleh tangan-tangan masa yang masih saja bergelimang titik noda dan semua sak wasangka. Kita belajar untuk selamanya setia dalam bening putih cinta dan kasih sepanjang usia (sejarah).

Di rumah laut, dalam pelbagai rentak kisah, pada pusaran sejarah paling purba, kita ditakdirkan bersua, bagai saudara kandung yang terpisah berkurun-kurun lama sudah.

2022.

Wallahu a’lam.

Di bawah kolong langit,
Bengkalis, Agustus 2026.

Marzuli Ridwan Al-bantany adalah sastrawan. Penulis beberapa buah buku esai: 1) Menuju Puncak Keindahan Akal Budi, 2) Setitik Embun Pagi, 3) Sabda Pujangga dari Negeri Junjungan, dan 4) Lembaran Pesan Sunyi.

Comments (0)
Add Comment