Birahi yang kau pelihara pada perut botol telah berkoalisi dengan rayuan betina tanah telentang
di pulau tak berbukit dan berbinatang penuh bulu hingga tak nyaman mata menangkap kepala
dan ekor karena kau hanya melamun sambil menindih kabar tanpa rupa dan rasa.
Perut botol semakin cembung bersentuhan antara barat dan timur selekas mungkin kau naikkan
kepala dan tangan tengadah menatap ilham yang berkeliaran pada langit tanpa atap bersuara
senyap dan membatu
Malaikat kecil muncrat dari tanah pengharapan yang gersang sambil menangis memanggil induk yang buta dan tuli dari ratapan
Selepas waktu telah kosong dari rintik hujan yang pekat dan kabur tak kunjung datang sejak
pusaka muda tak lagi ranum
Jejak-jejak kecil dari birahi yang sempurna termaktub pada dinding perut botol
Tulungagung, 2024.
Muslih Marju, penyair yang lahir di Bangkalan tanggal 15 Januari 1988 merupakan anak pertama dari pasangan Marju dan Mayeh. Saat ini domisili di Jl. Sultan Agung no. 7 Rt/Rw 03/03 Ketanon, Kedungwaru, Tulungagung. Aktifitas mengajar di Komunitas Sastra bernama Malam Sastra Tulungagung. Puisi pernah dimuat di Media Indonesia, Rakyat Sumbar, Koran Madura, Buletin FSB Jejak dan bloggertulungagung.com.