Dua Kepala Sekolah Riau Hadir di Yogyakarta untuk Misi Penyelamatan Bumi

PEKANBARU-TIRASTIMES, 14 Mei 2026 — Dua kepala sekolah dari Riau, Bambang Kariyawan (Kepala SMA Cendana Pekanbaru) dan Riva Elvita (Kepala SMAS Cendana Mandau, Bengkalis) kembali dari Yogyakarta dengan misi untuk menyelamatkan bumi melalui penerapan prinsip ekonomi sirkular di tingkat sekolah.

Keduanya berada di Yogyakarta untuk mengikuti pelatihan dan kompetisi bertajuk Indonesia Green Principal Award (IGPA) Batch 8 di Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 7–9 Mei 2026.

Di antara 15 peserta dari lima provinsi, Bambang mungkin satu-satunya yang berbicara tentang puisi di tengah diskusi ekoenzim dan pengolahan minyak jelantah. Namun justru karena itu, ia meraih penghargaan Outstanding Transformation Planning on Waste Management — sebuah pengakuan bahwa pendekatan budaya pun adalah strategi perubahan yang sah. Bersama seluruh peserta IGPA Batch 8, ia juga menerima penghargaan Outstanding Dedicated Principal on Circular School Initiatives sebagai pengakuan atas komitmen mereka memimpin transformasi sekolah sirkular.

Dr. Bambang Kariyawan Ys., M.Pd. (Kepala SMA Cendana Pekanbaru)

Bambang Kariyawan, yang juga merupakan seorang sastrawan Riau, membagikan perspektifnya bahwa cara paling tahan lama untuk menyelamatkan lingkungan adalah melalui pengendapan rasa.

Membaca sebuah karya sastra adalah proses pengendapan. Ketika seseorang membaca puisi tentang laut atau hutan, ia akan membawa pulang sesuatu ke dalam batinnya — sebuah kesadaran bahwa bumi ini rumah kita satu-satunya. Tidak ada planet cadangan. Dengan mencintai bumi, maka langit menyayangi.
Bambang Kariyawan

Lingkungan SMA Cendana Pekanbaru sendiri memiliki keistimewaan karena berada di kompleks yang memiliki hutan kota. Monyet, burung, dan hewan lainnya berkeliaran bebas di sana. Pohon-pohon pucuk merah yang daunnya dipanen untuk dijadikan kompos. Tanaman lidah buaya yang tumbuh dan diolah menjadi produk cuci tangan hasil wirausaha siswa. Keistimewaan ini bukanlah hal yang bisa dinikmati secara cuma-cuma, namun membutuhkan komitmen untuk menjaganya. Setiap tahun, Bambang mengajak para siswa untuk menyebarkan refleksi cinta lingkungan melalui literasi dan menerbitkannya dalam buku antologi puisi bertema hutan, laut, sungai, dan bumi — semua untuk menumbuhkan penghayatan yang bertransformasi menjadi aksi nyata.

Selama ini saya pikir sekolah kami sudah cukup — sudah ada Adiwiyata, sudah ada program daur ulang. Tapi setelah mengikuti IGPA, wawasan saya terbuka bahwa ekonomi sirkular itu jauh lebih luas. Langsung saya diskusi dengan guru ekonomi dan guru prakarya: apa yang bisa kita kembangkan dari sini?
Bambang Kariyawan

Jika Bambang memilih jalur sastra, Riva memilih jalur yang paling membumi: pemilahan sampah organik dan anorganik sebagai strategi utama penerapan ekonomi sirkular, serta pelibatan orang tua dalam pengembangan program tersebut. Tong sampah berwarna sudah masuk anggaran sekolah dan dijadwalkan tiba dalam dua minggu. Atas komitmen ini, Riva meraih penghargaan Outstanding Transformation Planning on Community Engagement.

Riva Elvita, S.Pd., M.M. (Kepala SMAS Cendana Mandau)

Yang pertama itu pengimbasan dulu dari apa yang kami dapatkan di IGPA. Sasarannya siswa, guru, dan orang tua — karena edukasi lingkungan tidak bisa berhenti di gerbang sekolah. Anak-anak itu belajar dari kebiasaan di rumah, jadi orang tua pun harus ikut diedukasi.
Riva Elvita, Kepala SMAS Cendana Mandau, Bengkalis

Sebagai kepala sekolah para siswa generasi Z, Riva menyadari bahwa murid-muridnya harus melihat aksi nyata — bukan sekadar wacana — untuk memastikan dampak jangka panjang.

“Sebenarnya mereka mempunyai peluang besar untuk bisa memperbaiki ekonomi sekolah dan juga menyelamatkan bumi. Tetapi memang harus dengan penjelasan yang bisa mereka terima. Karena Gen-Z ini harus melihat contoh nyata bagi mereka, baru setelahnya mereka mau mengambil tindakan.”
Riva Elvita

Riva pun berpesan kepada sekolah-sekolah yang belum mengenal IGPA untuk tidak ragu mendaftar. Ia mengakui bahwa banyak sekolah mungkin sudah menjalankan program lingkungan seperti biopori atau daur ulang kertas — termasuk sekolahnya sendiri sebelum ikut IGPA. Namun yang selama ini sulit dijaga adalah semangat untuk terus bertahan dan konsisten. Di sinilah IGPA menawarkan sesuatu yang berbeda: jaringan alumni yang terus saling mengingatkan dan menguatkan melalui Asosiasi Sekolah Sirkular Indonesia (ASSI).

“Dulu saya pun tidak tahu apa itu IGPA. Tapi setelah masuk, wawasan terbuka,” ungkapnya. Riva menegaskan bahwa kepala sekolah adalah sosok yang paling tepat untuk memulai perubahan ini karena merekalah yang akan membangun tim, merancang struktur, dan menggerakkan seluruh ekosistem sekolah.

Dua kepala sekolah dari Riau, dua pendekatan yang berbeda, namun satu keyakinan yang sama: bahwa perubahan lingkungan di sekolah yang akan bertahan adalah perubahan yang paling menyentuh sanubari siswa. Baik lewat puisi maupun inspirasi nyata yang ditunjukan oleh para pendidik.

Komitmen keduanya kini menjadi bagian dari gerakan yang lebih besar. Sejak pertama diselenggarakan pada Januari 2022, IGPA telah berkembang menjadi program nasional yang menjangkau ratusan sekolah dari berbagai jenjang dan provinsi. Program ini terus diperluas melalui penguatan jaringan alumni, pelatihan, dan penelitian kolaboratif antara UGM dan University College London (UCL) yang menjadikan alumni IGPA sebagai sampel penelitian pengembangan pendidikan ekonomi sirkular.

Seluruh peserta IGPA otomatis bergabung ke dalam jaringan alumni yakni Asosiasi Sekolah Sirkular Indonesia (ASSI). Di penghujung 2026, ASSI berencana menggelar International Circular Eco Youth Camp 2026 di Bali untuk memperluas gerakan sekolah sirkular ke panggung internasional.

Informasi lebih lanjut mengenai IGPA dapat diikuti melalui Instagram @igpa.idn dan situs igpa.or.id.

Penulis: Kinta Herawan

 

Comments (0)
Add Comment