DI SUDUT BANDAR GRISSEE dan Puisi Lainnya : Kumpulan Puisi Sholihul Mubarok

DI SUDUT BANDAR GRISSEE

masih kurasi
jalanan berjelaga
di kotamu
tempoe doeloe

debu menahun
menetap di udara
sejak tubuh-tubuh pribumi
dibias paling bawah

masih tercium anyir
di sepanjang lintasan
di antara bangunan tua
tegak menyimpan luka
retak menahan usia

sebagian runtuh
seperti silsilahku
pernah gugur
di jalan yang sama

aku tiba di alun-alun

wajahnya asing
bekas tiang gantungan
hilang
ditelan lapis beton zaman

ada getir
menyusup dada
saat nisan pendatang
menjulang rapi
sementara makam pejuang
terbiar
tanpa nama

ah, Gresik
kau menyerupai kota-kota renta
menanggalkan rupa
meluruhkan ingatan
bumi yang lupa
pada anaknya sendiri

aku tersedu
menarik napas panjang
di sudut meja
di antara wajah-wajah curiga

di kota tua
yang belajar diam

Gresik, 8 Februari 2026

 

DI WARUNG ALUN-ALUN GRESIK

aroma kopi
bercampur asap
menempel di bibir gelas
bangku kayu berdecit
menahan waktu

tangan-tangan dulu
pernah bertukar cerita
di sela receh dan tawa
ketika sore
belum tergesa

wajah alun-alun berganti
ubin licin, lampu terang
ingatan tertinggal
di sudut
yang tak lagi disinggahi

di sini sepi
meski langkah berjejal
sepatu saling mendahului
suara mesin mengiris senja
tanpa saling menoleh

mata-mata tertunduk
pada cahaya kecil
jari sibuk menggeser hari
meja kopi dingin
tanpa percakapan

warung ini
tak kehilangan kursi
hanya kehilangan jeda
tempat duduk
yang dulu bernama singgah

aku menyeruput sisa kopi
rasa pahit menetap
seperti kota
yang belajar diam
di balik layar

malam turun pelan
alun-alun tetap terang
namun suara manusia
tak lagi saling mencari
hanya lewat

Gresik, 8 Februari 2026

 

SEORANG SAHABAT LAMA

satu batang rokok
habis perlahan
di sudut trotoar
kata-kata berhenti
pada asap

lampu lalu lintas
berganti warna
kita diam
membiarkan lelah
mencari bentuknya sendiri

di perempatan Sentolang
Jalan Veteran, Gresik
waktu menepi sejenak
di antara klakson
dan langkah pulang

pernah ada sore
yang kita lewatkan di sini
dengan saku tipis
dan rencana
tak selesai-selesai

nama-nama lama
muncul lalu tenggelam
bersama debu jalan
yang tak sempat
kita sebutkan

kota berubah cepat
kita berjalan pelan
menyimpan hari-hari itu
seperti rokok terakhir
yang dibiarkan padam

tak banyak yang kita bicarakan
hanya duduk
menghadap arah berbeda
namun tahu
masih saling ada

Gresik, 8 Februari 2026

 

SEBATANG KENANG

telah kubaca jarak
yang tumbuh pelan
antara kota dan kabar
sepi masih menetap
di dada kiri
seperti jeda
yang lupa diberi nama

aku menyimpan rindu
bukan untuk diratap
hanya agar ada
yang bisa dikenang
saat hari terasa

terlalu cepat berlalu

kepada sahabat lama
barangkali kau lupa
bagaimana kita dulu
membiarkan waktu
berjalan tanpa rencana
dan tetap baik-baik saja

dua puluh tahun lewat
tanpa tanda khusus
kita sibuk menata hidup
masing-masing
namun percakapan lama
tak sepenuhnya hilang

pernah kita duduk
membagi kopi
dan keluh yang sederhana
menertawakan lelah
seolah esok
tak perlu dipikirkan

kini kota ramai

dengan urusan baru
namun sesekali
ingatan menyapa
mengingatkan
bahwa kita pernah dekat

tak ada hitung rugi
tak perlu alasan
cukup saling tahu
di suatu waktu
kenangan masih hidup
dan itu sudah cukup

Gresik, 8 Februari 2026

 

KITA; TAK LEBIH BESAR DARI DEBU

1//

kita pernah menjadi
setitik debu

di antara debu-debu lain
berputar pelan
mengikuti arah
yang tak pernah benar-benar kita pilih

seperti gangsing kecil
di lantai masa lalu
berputar karena sentuhan
bukan karena kuasa
lalu berhenti
saat lelah menemukan tepinya

malam waktu itu
tak sepenuhnya gelap
ada lampu-lampu jarak jauh
menyala seadanya
cukup untuk mengingatkan
bahwa kita pernah ada

dan di pusaran itu
aku bertanya pelan
bukan untuk mencari jawaban
hanya memastikan
kenangan masih

menyebut nama kita

/2/

tempat kita berpijak
tak pernah benar-benar luas
namun cukup
untuk menyimpan langkah
yang pernah ragu
dan tawa yang nyaris lupa

kita tumbuh
dengan cara masing-masing
kadang terlalu yakin
kadang salah arah
lalu belajar
menerima bentuk yang tersisa

tak ada yang perlu disesali
semua pernah singgah
sebagai cerita
yang menua perlahan
di ingatan
yang tak selalu setia

pada akhirnya
kita kembali sederhana
seperti debu
yang memilih diam
namun tetap tinggal
di sudut kenangan

Gresik, 8 Februari 2026

 

LETHOLOGICA

masih mengoyak
diri duri kata
dalam kepala

sebelum aku wujudkan
kata sebagai tertulis
jemari lebih dulu meringis
menahan senyum sinis
dari diksi arkais

Lima tahun, kepadaku, adalah buku-buku beku. Ada beberapa tetap meminta hak, sesekali
dibaca sebagai pengingat. Dan lain, masih terbungkus rapat di sudut rak di pulau ia
tinggalkan.

waktu padaku
memaksa jemari melupa
pada sajak sajak
tak pernah
mendapat apa apa

dunia terlalu riuh
untuk sepi dari materi

​kali kesekian
aku jatuh
di antara tuntutan

Gresik, 9 Februari 2026

BIODATA PENULIS

Sholihul Mubarok, lahir di kota Gresik Jawa Timur pada tanggal, 24 Februari 1985, adalah penyair yang aktif berkarya di ruang sastra digital. Karyanya terhimpun dalam berbagai antologi puisi kolaboratif nasional dan internasional, termasuk Rapsodia dan Elegi Cinta (2021), Melodia Aksara Rindu (2022) bersama penyair Malaysia, serta antologi lintas empat negara Serenade Musim (2025). Selain menulis buku puisi tunggal, ia juga aktif mengikuti kegiatan sastra daring dan menghadirkan karya dalam bentuk musikalisasi puisi di kanal YouTube @SholihulMubarokOfficial. Saat ini ia tengah mempersiapkan buku puisi terbarunya Dalam Semesta Matamu (2026).
Comments (0)
Add Comment