Dr. drh. H. Chaidir, MM dalam Kenangan: Obor Melayu yang Terus Menyala

Dr. drh. H. Chaidir, MM dalam Kenangan: Obor Melayu yang Terus Menyala

Oleh Fakhrunnas MA Jabbar

 

KABAR dan ucapan. duka itu saling bermunculan dan saling bersahutan di grup-grup media sosial. Hal itu betul-betul menyentak hati dan perasaan banyak orang tidak hanya di Tanah Melayu Riau ini tetapi juga di kalangan kerabat dan koleganya baik di dalam maupun di luar negeri.

Innalillahiwainnailaihirojiun
Telah berpulang kerahmatullah Dr.drh. H. Chaidir, MM dalam usia 73 tahun (Ketua Umum Forum Komunikasi Pemuka Masyarakat Riau-FKPMR /Ketua DPRD Provinsi Riau 1999-2004 dan 2004-2009 salam usia Hari Selasa/ 18 NovembeR 2025 pukul 17.43 WIB, di RS PRIMA Pekanbaru.

Kepergian Chaidir terasa begitu mendadak. Pekanbaru lalu, pensiunan birokrat dan politisi Riau menjalani operasi hernia. Namun pascaoperasi, kesehatan Chaidir mengalami penurunan sehingga memerlukan transfusi darah.
sehat walafiat.

Sebulan lalu, Chaidir kelihatan segar bugar. Dalam beberapa kali pertemuan santai di markas FKPMR, Chaidir mengabarkan rencana operasi itu. “Tapi dokter bilang menunggu kondisi kesehatan betul-betul prima,” ujarnya ceria.

Lebih dua pekan lalu, dalam pertemuan puluhan pemuka masyarakat keluarga besar FKPMR di Gedung PCR (Politeknik Caltex Riau) menyikapi kasus OTT Gubernur Riau, Abdul Wahid, Chaidir bertindak sebagai moderator dalam menghimpun gagasan dan pemikiran. Chaidir masih banyak bergurau di depan tokoh-tokoh masyarakat Riau antara lain Gubernur Riau pada masanya: H. Saleh Djasit, Wan Thamrin Hasyim, Edy Natar Nasution dan tokoh kampus dan organisasi seperti Prof. T. Dahril, Prof. M. Nazir, Ahmad Hijazi (Sekjen FKPMR) dan lain-lain.

Sifat suka humor ini menjadikan dia bersama Prof. Tabrani Rab dan saya didaulat menjadi Dewan Penasehat PaSKI (Persatuan Seniman Komedi Indonesia) Riau sejak organisasi ini berdiri belasan tahun lalu hingga saat ini.

Kedekatan saya dengan Bang Chaidir- begitu kebiasaan saya memanggilnya- sudah terjalin lebih dari 20-30 tahun silam. Puncaknya saat dia meminta saya memberi pengantar atas buku humornya, ‘Chaidir Menertawakan Chaidir’ yang berisi kisah-kisah lucu dan menggelikan yang pernah dialami dalam tugas birokrat dan kehidupan sehari-hari.

Salah satu kelucuan dalam buku itu, Chaidir saat menjadi Ketua DPRD Riau, saat melakukan kunker di suatu daerah. Tuan rumah yang mengatur kamar hotel tiba-tiba menempatkan Chaidir sekamar dengan anggota Ellydar Chaidir (sekarang profesor bidang hukum di UIR). Mereka duga keduanya adalah suami istri. Situasi ini menimbulkan kehebohan lucu di kalangan rombongan wakil rakyat dan birokrat itu.

Tak diragukan lagi, Chaidir, adalah salah satu anak jati Melayu Riau terbaik dan terkemuka. Ia dikenal luas sebagai politisi senior, akademisi, penulis produktif, serta pemuka masyarakat.

Chaidir, lahir di Pemandang, Rokan Hulu, pada 29 Mei 1952. Masa mudanya banyak dihabiskan di tanah kelahiran sebelum kemudian merantau ke Yogyakarta untuk menempuh pendidikan tinggi di Universitas Gadjah Mada (UGM). Di kampus inilah ia menyelesaikan pendidikan Sarjana Kedokteran Hewan pada tahun 1978.

Soal dokter hewannya yang banyak terlibat dalam dunia politik, Chaidir pernah berseloroh saat dirinya menjadi Ketua DPRD. “Luar biasa, untuk menjinakkan para anggota dewan ini diperlukan seorang dokter hewan,” ujarnya tertawa terbahak.

Tidak berhenti pada pendidikan profesi, Chaidir melanjutkan studi pascasarjana Manajemen di Universitas Padjadjaran. Kemudian, ia menuntaskan gelar Doktor Ilmu Manajemen di Universitas Pasundan (Unpas), Bandung, dengan predikat cum laude.

Konsistensinya terhadap pengembangan kapasitas ilmiah juga terlihat dari berbagai kursus luar negeri yang pernah diikutinya, seperti Course on Bovine, Ovine and Swine di Italia dan pelatihan penyakit hewan tropis di Australia.

Nama Chaidir mulai banyak dibicarakan publik sejak ia terjun ke dunia politik. Kariernya dimulai ketika ia terpilih sebagai Anggota DPRD Provinsi Riau pada tahun 1992. Berkat reputasi dan kemampuannya membangun komunikasi lintas kelompok, ia dipercaya menjabat sebagai Ketua DPRD Riau selama dua periode berturut-turut, yakni 1999–2004 dan 2004–2008.

Pada masanya, Chaidir dikenal sebagai figur yang tegas, terbuka terhadap dialog, namun tetap menjaga nilai-nilai Melayu sebagai dasar etika politik.

Selain aktif dalam pemerintahan, ia juga dikenal sebagai tokoh pemersatu masyarakat. Hal itu dibuktikan dengan keterlibatannya dalam Forum Komunikasi Pemuka Masyarakat Riau (FKPMR), sebuah wadah tokoh lintas etnik dan profesi. Chaidir sudah beberapa periode dipercaya sebagai Ketua FKPMR, termasuk kembali terpilih untuk periode 2025–2030. Perannya dalam organisasi ini membuatnya menjadi salah satu figur penting dalam dinamika sosial-politik Riau.

Di bidang akademik, Chaidir aktif mengajar di beberapa perguruan tinggi di Pekanbaru, antara lain STISIP Persada Bunda, Universitas Riau, Universitas Islam Riau, dan Universitas Lancang Kuning. Ia dikenal sebagai pengajar yang lugas dan tetap mempertahankan gaya komunikasi yang humanis.

Disertasinya yang mengkaji budaya organisasi, kepemimpinan transformasional, dan kompetensi anggota DPRD menunjukkan ketertarikannya pada isu tata kelola pemerintahan dan kualitas representasi politik.

Selain politisi dan akademisi, Chaidir adalah seorang penulis prolifik. Ia telah menerbitkan sejumlah buku, seperti Tragedi Pandemi Virus Akal Budi, Celoteh Kedai Kopi Melayu, dan Bangsa Tersandera. Gaya tulisannya khas: reflektif, kritis, tetapi tetap hangat dan penuh nilai-nilai budaya. Ia juga rutin menulis kolom di berbagai media lokal, menjadikannya sebagai salah satu suara intelektual yang konsisten berbicara tentang kemelayuan, politik daerah, dan isu kebangsaan.

Kiprah panjangnya membuat Chaidir dianugerahi berbagai penghargaan, antara lain Anugerah Kebudayaan Sagang Kencana dan Legend Award dari PWI Riau. Penghargaan ini menjadi pengakuan atas kontribusinya yang luas, mulai dari dunia politik, kebudayaan, hingga literasi publik.

Dengan latar belakang akademik yang kuat, pengalaman politik yang panjang, serta kepedulian terhadap pembangunan Riau yang berkelanjutan, Dr. drh. H. Chaidir, MM hingga kini tetap menjadi salah satu tokoh yang disegani. Sosoknya memadukan ketegasan, kecendekiaan, dan komitmen budaya Melayu—menjadikannya figur penting dalam perjalanan sosial-politik Riau modern.

Selamat jalan Bang Chaidir yang menyisakan kenangan di hati sanubari keluarga, kerabat dan koleganya. Percikan pemikiran dan gagasan barumu lewat kolom-kolom di media
tak akan dapat kami baca lagi. Kau akan selalu menjadi obor Melayu tak pernah padam. *

Dr. (Can) Ir. Fakhrunnas MA Jabbar, M.I.Kom adalah budayawan dan wartawan senior. Peraih Anugerah Pengabdian 40 tahun Sastra Kemendikbud dan Press Card Number One (PCNO) PWI.
Comments (0)
Add Comment