H. Mulyadi, Guru Jurnalistikku, Mengajarkan Berani Menerobos Narasumber
Oleh Fakhrunnas MA Jabbar
H. MULYADI, wartawan senior Riau yang sering kupanggil Pak Mul atau Pak Haji, menjadi guru jurnalistikku dalam menumbuhkan keberanian menembus narasumber yang sulit. Pengalaman mewawancarai istri Anwar Ibrahim, Wan Azizah Wan Ismail sebagai bukti.
Pernah pula sekitar tahun 1990 , Pak Mul sewaktu berada di Kuala Lumpur, Malaysia, iseng-iseng dia menelepon Kantor PM Mahathir Mohamad dan bilang: “saya Mulyadi, wartawan dari Indonesia ingin mewawancarai PM Dr. M.”
Beberapa hari kemudian ketika Mulyadi masih di hotel buru-buru mau ke bandara pulang ke Pekanbaru, pihak kantor PM menghubunginya: “dalam satu jam ke depan ditunggu Dr. M.”
Mulyadi kalang-kabut dan tak mungkin memenuhi jadwal itu karena jadwal penerbangannya sudah sangat kasip.
Pihak PM tentu dibuat kesal.
“Ya, saya gak nyangka PM Mahathir menerima saya untuk wawancara,” cerita Mulyadi sepuluh tahun kemudian.
Pernah juga waktu PM Singapura, Goh Tjok Tong ada acara pertemuan dengan Gubernur Riau, Soeripto di Hotel Aryaduta, Pekanbaru.
Mulyadi mengajakku merapat ke dekat PM Singapura yang sedang berbincang dengan Gubernur Soeripto dan pejabat lain. Saat di sela2 agak santai, Mulyadi menerobos penjagaan yang tak terlalu ketat. Dia langsung menyapa kepala negara dan bertanya dalam bahasa Inggeris yang lancar.
Sementara aku dan sejumlah wartawan yang lain karena terbatasnya penguasaan bahasa asing hanya melihat dari tempat agak jauh
Dulu setiap kami berada di Batam baik karena mengikuti rombongan Gubernur Riau, Soeripto atau kegiatan lain, Pak Haji pasti mengajakku menyeberang ke Singapura. Dari Batam cukup waktu setengah jam naik feri ke Negeri Singa itu.
Waktu pertama kali pergi bersama ke Sibgapura, aku masih jadi wartawan yunior. Di kamar hotel, Pak Haji mengajarkan ‘tradisi baru’ kepadaku.
“Nas, buka kaos kaki, trus buang di tong sampah”
“Tapi kaos kaki ini masih baru,” tanggapku.
“Sudahlah, nanti beli lagi. Jadi kalau ada orang bertanya untuk pergi ke Singapura? Jawabnya: buang kaos kaki,”
Aku tertawa kecut.
Sejak saat itu asal kami berada di Singapura pasti buang kaos kaki. Waktu itu, hampir 1-2 bulan sekali kami berkunjung di Singapura.
Pernah pula dari Singapura kami naik taksi ke Johor Bahru.
“Nas, kita ke Konjen RI Johor”
ajak Pak Haji suatu pagi.
“Apakah sudah ada konfirmasi?” tanyaku.
“Gak perlu, kita on the spot aja…” jawab Pak Haji.
Sesampai di Konjen Johor, ternyata Konsulnya sedang ada tamu.
Tiba-tiba seorang anak muda gagah keluar dari ruang kerjanya dan menyapa kami. Kami mengenalkan diri, Pak Mul dari Suara Pembaruan dan aku dari Media Indonesia. Kami dipersilakan masuk ke dalam ruangan kerjanya.
Dalam ruangan kami ngobrol lebih dekat. Anak muda yang ramah ini bernama Bambang Widodo, Kepala Imigrasi Konjen Johor. Pertemuan itu cukup asyik karena Mas Bambang orangnya luwes dan terbuka. Hasil bincang-bincang itu kami tulis jadi berita di media kami masing-masing. Sejak saat itu, Pak Bambang semakin percaya dan hubungan kami makin akrab.
Setelah 3-4 kali kami berkunjung di Konjen Johor, Pak Bambang menawarkan: “Lain kali kalau ke Johor jangan berdua saja tapi ajak keluarga. Ajak anak dan istri”
Dalam beberapa bulan kemudian, kami pun melakukannya secara terpisah. Pak Mul membawa istrinya yang dosen Universitas Riau, Fauziah Wan Abdurrahman (beberapa tahun kemudian meraih gelar profesor dan ayahnya Walikota Pekanbaru pertama) dan aku datang ke Johor bersama istri dan putraku yang masih kecil 5 tahunan.
Pelayanan Pak Bambang tak berubah. Di luar dugaan kami, Mas Bambang Widodo sekitar 10 tahun lalu sempat menjadi Kakanwil Departemen Kehakiman Riau. Aku dan Pak Mulyadi sempat menghadiri acara perpisahannya saat akan meninggalkan Pekanbaru.
Pernah pula disaat masa jaya ahli akupunktur Hembing Wijaya ada acara seminarnya di sebuah hotel di Pekanbaru. Pak Mul mengajakku datang untuk meliput dan mewawancarai Hembing.
Persis acara seminar selesai, Hembing dan tim sedang melayani peserta yang ingin diakupunktur.
Hembing melayani kami wawancara. Di ujung wawancara Pak Mul minta Hembing mempraktikkan akupunkturnya pada kami. Secara bergiliran, Hembing pun melakukan akupunktur itu. Begitulah Pak Mulyadi punya nyali menerobos berbagai narasumber baik lokal maupun internasional.
Pernah pula, waktu kami menginap di sebuah hotel bintang di Batam karena ikut rombongan Gubernur Soeripto. Setelah acara selesai, Pak Mul merencanakan mau pergi ke Singapura.
Di saat santai malan hari di lobi hotel, kami melihat Pak Rivai Rachman, waktu sebagai Sekdaprov Riau, sedang sendiri. Kami menghampirinya.
Tanpa basa basi Pak Mul bilang: “Pak, lapor. Kami rencana mau menyeberang ke Singapura. Bapak tolong bikin memo aja untuk Pak Edi, yang pengusaha itu,”
Wajah Pak Rivaie tersentak.
“Tak ada kertas dan pena,” tanggapnya. Pak Haji merogoh kantong dan langsung menyodorkan memo kecil wartawannya dan pulpen. Pak Rivaie pun terpaksa menulis memo itu.
Keesokannya waktu kami mendatangi kantor pengusaha Edi itu, begitu dibilang pada petugas satpam, ada surat dari Pak Rivaie untuk bos kantornya.
Waktu ketemu, Pak Edi geleng-geleng kepala.
“Saya sangat heran, kok bisa Bapak dapatkan memo ini. Setahu saya tak pernah Pak Rivaie itu memberikan memo,” ujar Pak Edi sambil tertawa geli. Kami pun ikut tertawa.
Pak Mul pernah menerbitkan buku Kritik dalam Humor yang berisi kumpulan tulisannya yang berisi kritik namun disampaikan secara humor. Sayang Pak Mul telah pergi untuk selamanya sekitar tujuh tahun sikam.***
Fakhrunnas MA Jabbar adalah sastrawan peraih Anugerah Pengabdian 25 Tahun Sastra Kemendikbud (2024) dan wartawan peraih Press Card Number One (PCNO) PWI, sekarang Pemred Media online Tirastimes.com.