Banyak kawan banyak pergaulan. Banyak berjalan banyak pengalaman, Banyak ditengok banyak pula yang dirasakan. Setidaknya itulah yang menjadi dasar untuk menggambarkan nikmatnya musim durian ditahun 2026.
Saat itu mentari bersinar cerah di langit Sumatra dengan warna keemasan yang ranum, seranum musim buah durian yang sedang berpesta menyapa rakyat Riau. Rasa syukur yang tak terkira pun tertumpah karena Allah SWT masih memperkenankan jemari dan lidah ini mengembara, mengecap karunia agung yang runtuh dari dahan-dahan tua di tiga penjuru tanah bertuah yakni Rupat, Bengkalis- Bantan dan Kepulauan Meranti.
Perjalanan melintasi selat dan tanjung untuk mengembarai sebuah rasa, mengingatkan kembali pada memori masa lalu. Sementara Pulau Rupat yang terbelah dua menjadi Rupat dan Rupat Utara, Bengkalis yang berdampingan mesra dengan Bantan, serta Kabupaten Kepulauan Meranti yang berdiri anggun, menebarkan harumnya aroma buah durian dengan sensasi rasa yang tak terlupakan. Sehingga mengalirlah bait-bait kata berbalut kerinduan dengan untaian:
Lain rasa isi ketupat,
Lain lagi rase si ikan bilis.
Manis sungguh buah Cerenti,
Lain rase durian Rupat,
Lemak sungguh durian Bengkalis,
Tak same pulak durian Meranti.
Sensasi rasa itu bermula di Pulau Rupat. Di sana, durian bukan sekadar buah, melainkan candu yang memabukkan. Setiap ulas daging buahnya yang kuning seolah memiliki sihir yang mengikat jemari. Sekali lidah menyentuh kelembutannya, tak ada kata henti yang tercipta. Lidah dipaksa menari dalam ritme rasa yang indah, terus dan terus terjebak dalam kenikmatan, hingga tubuh benar-benar rebah dalam kondisi rasa kenyang yang nyaris muak namun dirindukan (Mengkayang),yang lahir dari puncak kelezatan yang tiada tara.
Layar perahu kemudian terkembang menuju Bengkalis. Di tanah bertuah ini, durian menjelma bagai bangsawan yang memamerkan kemewahan. Rasa lemak yang pekat berpadu, serasi pula dengan manis yang menggigit, menciptakan harmoni yang megah di langit-langit mulut. Memakan durian Bengkalis sepertinya tangan dan lidah enggan untuk berhenti. Mereka saling bertingkah menyuap dan mengunyah dengan ritme eksotis pada pesta durian yang berlimpah.
Takdir perjalanan menyisakan sebuah babak pemungkas, yakni menginjakkan kaki di Kepulauan Meranti, tepatnya di bentangan tanah Desa Bandul. Di ujung-ujung hari penghabisan musim, Durian Meranti hadir dengan rasa yang tidak hanya berhenti di lidah, melainkan menyusup perlahan, meliuk di antara pembuluh darah, dan bersemayam abadi menuju relung hati yang paling dalam.
“Rasa durian disini beda sekali , begitu berbekas ke hati,” ungkapku Jujur
Mungkin karena alam Meranti yang masih perawan, merawat dirinya sendiri dalam kesunyian yang jauh dari bising dan pengaruh dunia luar. Kehidupan masyarakatnya mengalir setenang air pasang, bersahaja dan alami. Di sini, berkah kehidupan tak perlu dikejar hingga ke ujung dunia, kepulangan ke area perkebunan di belakang rumah sudah cukup untuk menghadirkan hidangan terbaik di atas meja.
Rasa durian disini menjadi begitu mistis karena ia dinikmati di samping seorang besti yang baik hati, sahabat seperjalanan yang jiwanya sebening embun pagi. Dan yang paling mengunci seluruh rasa itu, Kepulauan Meranti adalah tanah kelahiran, kampung halaman dari sang belahan jiwa besti di atas besti, istri tercinta yang senyumnya lebih manis dari madu manapun. Kehadirannyalah yang menggenapkan rasa buah itu menjadi sebuah memori emosional. Aroma durian bercampur dengan aroma kepulangan, cinta, dan kehangatan keluarga membikin rasa itu meresap dan menusuk tepat ke jantung kasih sayang membuat orang mabuk kepayang dan terkenang-kenang.
Setiap ulas durian Meranti yang mengecap lidah malam itu, terasa bagai bisikan cinta yang meresap melalui urat nadi menyebar ke seluruh sanubari. Kelezatannya yang bingal dan rasa lemak yang tertinggal bagai rindu yang tak kunjung usai.
Akhirnya, rasa syukur di dada ini tetap meluap bahkan tak terukur oleh angka. Jikalau esok atau lusa ada jemari yang mengetuk pintu dan mengajak kembali bertualang memburu rasa durian, maka jiwa ini tidak akan pernah berpikir dua kali. Jawabannya akan selalu sama mau lagi, dan lagi.
Maka, sembari mengenang keharuman yang tertinggal di tiga pulau, jiwa ini berseru dengan berkata “Jom lah, jangan lengah lagi! Mari kita selami rasa bahagia yang dibalut cinta, Durian di Raja buah”
Bengkalis, 24 Juli 2026
Hendrizon, Lahir di Bengkalis 17 Juli 1979. Bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil bagian Kehumasan pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bengkalis. Pada 24 Februari 2024 resmi dilantik sebagai anggota Perkumpulan Rumas Seni Asrizal Nur (PERRUAS) Riau sebagai Koordinator untuk Kabupaten Bengkalis Masa Bhakti (2024-2026). Mulai Aktif menulis sejak tahun 2021.