Cerita Bak: Cerpen Syabaharza

Sore itu di teras rumah panggung yang sangat sederhana. Rumah yang menjadi ciri khas sebuah daerah yang jauh dari ibukota provinsi. Dan di daerah itulah keluargaku berdomisili. Di teras rumah yang memiliki tangga sebagai fasilitas untuk turun itu, aku dan Bak sedang duduk santai sambil menikmati angin yang berhembus semilir.

“Kalau seperti ini kita kembali ke zaman dahulu”

Bak bercerita tentang masa lalunya. Wajahnya yang mulai keriput itu tampak serius ketika bercerita. Kumis tipis di atas bibirnya sesekali bergerak mengikuti irama bibirnya. Giginya yang hanya tinggal satu itu pun ikut bergoyang ketika ia membuka mulutnya. Dengan hanya mengenakan sarung dan kaos oblong bergambar logo sebuah partai politik, Bak kembali melanjutkan ceritanya.

“Dulu semua barang yang kita miliki harus kita pertanggungjawabkan”

Kali ini Bak menatap jauh ke arah jalan setapak yang ada di depan rumah kami. Sebuah jalan yang merupakan satu-satunya akses untuk menuju pusat kota kecamatan. Jalan itu sekarang sudah lebih baik jika dibandingkan sepuluh tahun yang lalu. Sekarang jalan itu sudah berubah warna menjadi hitam, tapi masih tetap belum sempurna. Pengerjaan jalan itu terkesan asal-asalan. Aspal yang digunakan hanya yang kasar, mungkin jika diibaratkan barang KW sudah masuk KW 13 atau KW 14 atau mungkin lebih parah lagi. Kondisi jalan seperti itu tetap saja disyukuri oleh warga kampung kami, sebab sekarang kami tidak lagi menghirup debu yang setiap saat mengancam kesehatan.

“Maksudnya apa, Bak?”

Aku memberanikan diri bertanya dengan suara selembut mungkin. Kekepoanku tidak bisa dibendung lagi. Pernyataan Bak tentang pertanggungjawaban barang yang kita miliki membuatku sedikit lancang bertanya di sela-sela Bak sedang bercerita. Padahal Bak sering memberikan nasihat kepada anak-anaknya agar jangan memotong pembicaraan orang, apalagi yang berbicara orang yang lebih dewasa dari kita. Jika hendak berbicara maka selesaikan dulu pembicaraan orang.

Bak sedikit mengernyitkan dahinya. Mungkin Bak sedikit terkejut dengan kelancanganku memotong ceritanya. Mungkin dalam pikiran Bak, aku sangat penasaran sehingga rasa takut dan rasa hormatku lenyap begitu saja.

“Iya. Dahulu hampir setiap barang mewah yang kita miliki harus kita pertanggungjawabkan ke negara”. Ucapan Bak barusan menambah pertanyaan dalam benakku. Belum lagi pertanyaanku yang tadi terjawab sudah muncul lagi pertanyaan.

“Mempertanggungjawabkan ke negara?”

Untuk pertanyaan yang satu ini nada suaraku sedikit meninggi.

“Iya”

Bak pun menjawab dengan nada yang agak tinggi, tepatnya lebih menegaskan pernyataan beliau.

“Padahal kita membeli barang-barang tersebut dengan uang sendiri”

Pernyataan Bak kali ini seakan ingin menentang suatu kebijakan yang dirasa merugikan. Tapi sebagai rakyat biasa Bak tidak bisa berbuat apa-apa.

“Oleh karena itu sedikit sekali orang yang memiliki barang mewah pada saat itu”

“Kalau pun ada terkadang mereka menyembunyikannya”

Bak mendadak diam seribu bahasa.

Kami berdua dikuasai keheningan. Hembusan angin sore itu menerpa wajah kami. Bunyi raungan sepeda motor yang melintas di jalan depan rumah kami tidak mampu memecah keheningan kami. Aku masih penasaran tentang kelanjutan cerita Bak, tapi tampaknya Bak belum mau melanjutkan ceritanya.

Kumandang azan dari corong masjid membuat cerita Bak sore itu selesai secara prematur. Kami bergegas menuju sungai di sebarang jalan untuk mengambil wudu dan melaksanakan salat magrib.

Salatku malam itu terasa tidak tenang, karena di hatiku masih dipenuhi rasa penasaran terhadap cerita Bak. Aku masih penasaran apa yang dimaksud Bak dengan pertanggungjawaban terhadap kepemilikan barang mewah. Dan apa sebenarnya intervensi negara pada waktu itu terhadap barang-barang milik warganya.

Bukan hanya ibadahku yang tidak khusu, tidurku pun malam itu tidak nyenyak seperti biasanya. Malam itu mataku tidak bisa terpejam dengan sempurnya. Pernyataan-pernyataan Bak dalam ceritanya sore tadi terus menyerang pikiranku. Rasa ingin tahuku terhadap akhir cerita Bak membuatku tidak sabar menunggu pagi, karena tadi Bak sempat berjanji akan melanjutkan ceritanya setelah salat subuh. Malam itu terasa panjang bagiku. malam itu aku berusaha menerka peran negara terhadap barang warganya pada masa itu. Tapi kalau dari cerita Bak, peran negera pada waktu sangat tidak disukai oleh warganya bahkan mungkin sangat dibenci.

“Ini adalah bukti-bukti pertanggungjawaban kepemilikan barang mewah kita kepada negara”

Subuh itu, Bak menepati janjinya. Kali ini Bak membawa bukti yang komplit dalam memperkuat ceritanya. Beberapa lembar kertas kecil yang sudah lusuh tapi masih rapi tersimpan ditunjukkan kepadaku. Kertas itu seperti kertas biasanya, bentuknya segiempat. Di dalamnya ada stemple dan tulisan nominal Rp.25 dan dibubuhi tanda tangan.

Aku salut dengan penyimpanan arsip Bak, begitu rapi dan aman, karena di karcis itu tertera tahun 1980 artinya sudah hampir 25 tahun karcis-karcis tersimpan rapi. Mungkin jika ada kolektor mengetahuinya, karcis-karcis itu akan menjadi barang antik dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi.

“Ini disebut dengan karcis pajak”

Bak menyodorkan salah satu karcis pajak yang dipegangnya. Kuraih karcis itu dan kuamati dengan saksama. Selain yang disebutkan di atas tadi, ternyata dalam karcis itu juga ada tulisan sepeda, TV, dan radio dengan tanda kotak kecil di depan tulisan barang-barang tersebut. Di situ terlihat centang di kotak kecil yang ada tulisan radio.

“Semua barang-barang yang ada di karcis itu dikenakan pajak oleh negara.”

Dari penjelasan Bak barusan aku paham bahwa Bak waktu itu hanya memiliki radio yang dikenakan pajaknya.

“Lalu apa sanksinya jika tidak bayar pajak?”

Kembali rasa penasaranku membuat kesopananku sirna. Nada bertanyaku seperti berhadapan dengan orang sebaya.

“Waktu negara menguasai semua siaran yang ada, siaran televisi dan siaran radio dikendalikan oleh negara”

Aku mulai mafhum. Kepalaku manggut-manggut. Aku sudah mulai bisa menebak sanksi apa yang akan diberikan negara jika tidak membayar pajak barang-barang tersebut.

“Semua siaran televisi dan radio akan hilang, jika kita tidak membayar pajak”

Aku tersenyum, karena tebakan ku ternyata benar.

Tapi yang jadi pertanyaanku kembali untuk sepeda apa sanksi yang diberikan. Bukankah sepeda itu tidak berhubungan dengan siaran dan juga sepeda itu bisa dipakai kapan saja tanpa sepengetahuan negara.

“Kalau sepeda………”

Bak menghentikan sejenak ucapannya. Seolah mengerti dengan apa yang kupikirkan, Bak langsung membahas tentang sanksi bagi sepeda yang tidak dibayar pajaknya.

“Kalau sepeda, negara menunjuk beberapa petugas yang akan mengawasi”

“Jadi, ketika kita keluar memakai sepeda maka pasti akan kita temui petugas pemeriksa di jalan”

“Petugas itu akan memeriksa kelengkapan pajak sepeda, jika pajaknya lunas maka akan diizinkan memakainya terus, tetapi jika belum dibayar akan ditagih langsung di tempat atau pilihan lainnya dipersilakan kembali ke rumah dan menyimpan sepeda”

Untuk kali ini panjang lebar, Bak menjelaskan.

Mendengar penjelasan Bak yang panjang kali lebar tadi, aku jadi tambah yakin bahwa sejak zaman dulu memang negara selalu mengandalkan salah satu pendapatannya melalui pajak. Namun satu yang ku kakgumi dari bak adalah beliau adalah seorang yang taat pajak. Banyaknya karcis yang masih tersimpan rapi merupakan indikatornya. Karcis-karcis kusam itu tidak ada yang tahunnya telat, artinya setiap tahun Bak selalu membayar pajak.
Pagi itu aku tersenyum puas karena semua pertanyaanku terjawab. Melihat dari ekspresi Bak tampaknya tidak ada yang ditutupi beliau.

*****

“Nah….benarkan apa yang ku khawatirkan!”

Siang itu Bak tampak menggerutu sendiri di depan televisi ukuran 21 inc. Sebuah berita yang menurut Bak membenarkan apa yang sudah diceritakannya kepada ku kemarin.

“Tapi….masak semua yang kita miliki akan dikenakan pajak?”

Bak masih terus berbicara sendiri. Beliau tampak tidak habis pikir dengan ide pemerintah.

Pelan-pelan ku hampiri Bak.

“Ada apa Bak?”

“Coba kamu perhatikan statemen menteri di televisi itu”

Sambil menunjuk televisi milik kami yang sederhana itu, Bak tampaknya sangat kecewa.

Dalam berita itu ada seorang menteri yang membuat pernyataan bahwa ke depan pemerintah akan memberlakukan pajak untuk beberapa barang yang dimiliki warga, yang membuat Bak sedikit emosi adalah barang yang tidak terlalu mewah juga dikenakan pajak.

“Tapi….itu belum pasti Bak”

Aku berusaha memberikan pengertian, karena berita itu memang belum ada kepastiannya.

“Walaupun belum ada kepastiannya, tapi berita ini sudah meresahkan masyarakat”

Bak berusaha menerima pendapatku, tetapi tetap menyalahkan perwakilan pemerintah itu.

“Pertanyaannya, kalau belum pasti kenapa sudah diberitakan?

“Apakah ini memang sudah sifat mereka, suka membuat kegaduhan dan keresahan di tengah masyarakat?”

Bak terus berbicara tanpa bisa kuhentikan.

Aku bisa memahami keresahan Bak, dan statemen Bak yang terakhir ada benarnya bahwa pembantu-pembantu presiden sering membuat kegaduhan dan keresahan di tengah masyarakat. Mereka sering melontarkan ide-ide nyeleneh.

Mungkin itu sudah menjadi fasion mereka, jika nanti ide-ide itu diterima masyarakat mereka lanjutkan, tapi jika ide-ide itu tidak diterima maka mereka tinggal meminta maaf dan menarik kembali ucapannya. Entah sampai kapan fenomen seperti itu akan berlangsung.

Kuperhatikan Bak masih saja kesal dengan pemberitaan yang barusan ditontonnya. Sejurus kemudian beliau mengambil remote dan mematikan televisi.

“Kacau negara ini.”

Kalimat itu keluar dari bibir Bak diiringi langkah beliau menuju dapur. Mungkin pikir Bak lebih baik membuat kopi dari pada pusing memikirkan persoalan negara yang sengaja dibuat-buat.

*****

Syabaharza adalah nama pena dari Syamsul Bahri Arza. Ia adalah Kepala MTs Al-Hidayah. Putra asli Pelabuhan Dalam Pemulutan ini sekarang berdiam di Desa Keposang Kecamatan Toboali Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung. Ia bisa dihubungi di syamsulpemulutan81@gmail.com

 

 

 

Comments (0)
Add Comment