Industri Migas Dari Tanah Melayu Riau Menuju Realitas Ketahanan Energi Indonnesia
Oleh Fakhrunnas MA Jabbar
…
tinggal sebotol minyak
untuk bertanak
sedang kota ini kota minyak…
BAIT puisi karya penyair Riau, A. Aris Abeba yang ditulis sekitar tahun 1980-an itu sangat fenomenal menyindir realitas kesejahteraan rakyat Tanah Melayu Riau yang sangat tidak sebanding dengan kontribusi devisa minyak dan gas (migas) Riau mencapai 60-70 persen bagi APBN selama puluhan tahun.
Ladang migas di Duri, Kabupaten Bengkalis dan sejumlah wilayah seperti Minas, Sei Paknin dan lain-lain yang dieksploitasi oleh PT Caltex Pacifik Indonesia (CPI) tentu telah menorehkan sejarah yang sangat berarti bagi negara ini.
Sejalan dengan produksi minyak mentah itu, selama puluhan tahun pula Kilang Minyak Puteri Tujuh Pertamina di Dumai juga menjadi proyek monumental yang diresmikan oleh Presiden Soeharto -pada masa itu. Ruas -ruas jalan minyak dan sebagian diaspal yang dibangun oleh Caltex maupun Pertamina yang menghubungkan sumber produksi minyak ke pelabuhan ekspor di Dumai dan kota-kota yang ada.
Sebuah ironi lain, bentangan pipa-pipa minyak berukuran raksasa yang melewati dangau-dangau atau rumah panggung sederhana yang ditempati suku asli Sakai atau suku Utan atau orang Melayu pinggiran menjadi potret sarkasme betapa kekayaan sumber daya migas nyaris tak menyentuh mereka.
Bahkan, kontribusi minyak itu bagi dana pembangunan APBD Riau sebagai daerah penghasil minyak, nyaris pula tak berbekas. Provinsi Riau setidak-tidaknya sejak kemerdekaan hingga Era Reformasi tahun 1998, seolah-olah jadi penonton saat kekayaan sumberdaya alamnya dikeruk dan disedot lewat ‘pompa-pompa angguk’ minyak yang tak pernah berhenti pada masa jayanya itu
Situasi miris pun menyebar merata di Riau. Salah satu provinsi ini menjadi penyumbang devisa minyak terbesar Indonesia, justru kehidupan masyarakat dan pembangunan infrastruktur dasarnya berupa listrik desa, jalan antar-kecamatan, sanitasi, air bersih, hingga layanan kesehatan masih terkesan timpang. Seakan-akan kekayaan minyak itu hanya bisa mengalir jauh meninggalkan sumber asalnya.
Fenomena ini menjadi potret ulang untuk melihat industri migas Indonesia terutama Riau dan tantangan besar ketahanan energi yang kita hadapi sebagai bangsa yang besar.
Riau Menjadi Lumbung Minyak Nasional
Riau pernah menjadi lumbung minyak nasional sejak era 1950–1980 hingga awal 2000-an. Sumber utama bersumber dari Blok Rokan, Minas, Duri, Bekasap, dan kawasan Coastal Plains & Peatland (CPP).
Di awal 1970-an produksi minyak Riau sekitar 500.000 barel per hari (bph).
Sampai pertengahan 1980-an, produksi minyak berada pada kisaran 420.000–500.000 bph.
Sampai tahun 2000 produksi minyak Blok Rokan masih mencapai 365.000 bph.
Realitas ini masih menjadikan Riau sebagai penyumbang terbesar produksi minyak Indonesia.
Ada banyak faktor yang membuat produksi minyak Riau sangat tinggi pada waktu itu. Di antaranya: cadangan minyak supergiant seperti Minas (light sweet crude kualitas premium), dan teknologi steamflood di Duri (salah satu steamflood terbesar di dunia).
Selain itu, infrastruktur lengkap di mana terdapat pipa sepanjang 6.000 km, terdapat 3.000 sumur, dan fasilitas penyulingan minyak di Dumai.
Produksi Minyak Riau dalam dua tahun terakhir (2023–2025) setelah dikelola oleh Pertamina Hulu Rokan terus mengalami penurunan.
Produksi terkini di awal alih kelola tahun 2021 berkisar 160.000–165.000 bph
Di awal 2025 hingga ini sekitar 150.000–155.000 bph.
Produksi minyak Riau tersebut hanya tersisa sekitar 30% saja dibanding masa jayanya dulu.
Mengapa Terjadi Penurunan Produksi Minyak Riau?
Sebagian besar reservoir sumur minyak yang ada sudah menua (mature). Sumur-sumur tua tersebut sudah berusia 60–90 tahun.
Kegiatan drilling pun menurun pada masa transisi sebelum 2021. Begitu pula efisiensi steamflood di Duri juga menurun dan membutuhkan investasi besar apabila tetap berproduksi tinggi.
Memang ada upaya untuk menemukan teknologi energi baru dan terbarukan (EBT) di antaranya Enhanced Oil Recovery (EOR) CO₂ dan kimia. Namun hal ini masih dalam tahap studi persiapan.
Pasang Surut Potret Migas Indonesia
Eksplorasi minyak tertua Indonesia dimulai tahun 1885. Waktu itu ladang minyak di Pangkalan Brandan, Sumatra Utara, ditemukan pertamakali. Tidak lama kemudian eksplorasi minyak meluas ke Riau, Kalimantan, dan Jawa.
Di era 1970–1980, produksi minyak nasional pernah melesat hingga 1,6 juta barel per hari. Masa itu menempatkan Indonesia sebagai eksportir besar dan menjadi anggota OPEC.
Pada masa jaya tersebut migas pernah menyumbang 70% total devisa negara. Desa-desa di Riau yang awalnya sunyi tiba-tiba mulai dipenuhi aroma dunia industri. Kilang minyak pun berdiri, jalan-jalan perkampungan dibangun, ribuan tenaga kerja pertambangan bermunculan. Riau kemudian makin dikenal sebagai salah satu daerah penghasil migas utama.
Indonesia tak bisa bertahan lama sebagai produsen migas utama. Berdasarkan Data SKK Migas 2023, produksi minyak nasional kini hanya tersisa sekitar 611 ribu barel per hari. Penurunan produksi Riau dalam rentang waktu yang lama menikung tajam dari 265 ribu barel per hari tahun 2003 menjadi tersisa hanya 160 ribu barel per hari pada tahun 2022.
Ladang-ladang utama yang awalnya dibangun PT Caltex (berganti dengan Chevron) seperti Duri dan Minas dan saat dikelola oleh Pertamina memasuki usia tua dan memerlukan biaya operasional yang lumayan besar untuk terus bisa berproduksi.
Realitas konsumsi energi domestik terus meningkat. Akibatnya, pada tahun 2004 Indonesia menjadi negara pengimpor (net importer oil) dan pada tahun 2008 resmi keluar dari organisasi OPEC.
Penurunan produksi minyak Riau sangat berpengaruh terhadap produksi minyak Indonesia. Secara tak langsung berdampak pula pada kesejahteraan para pekerja dan perusahan- perusahaan terkait dengan industri perminyakan.
Riau, Negeri Minyak tapi Rakyat Kurang Sejahtera
Riau seharusnya menjadi provinsi paling sejahtera, mengingat begitu besarnya kontribusi migas. Namun data menunjukkan ironi:
Riau pernah menyumbang sekitar 54% produksi minyak nasional (SKK Migas, 2022)
Namun tingkat kemiskinan Riau 6,82% (BPS, 2024)—tidak jauh berbeda dari rata-rata nasional
Di beberapa kabupaten penghasil migas, justru kemiskinan lebih tinggi seperti Rohil dengan angka kemiskinan 7,9%, Siak (7,0%), dan Kota Pekanbaru (4,0%)
Kesenjangan lain terkait Infrastruktur Dasar di mana sekitar 300-an desa masih tertinggal akses sanitasi yang layak layak, akses air bersih di Rohil, Siak, dan Pelalawan masih di bawah 30%. Demikian pula Listrik Desa baru merata pada tahun 2021 melalui Program Intensif PLN.
Fakta lain, meski Provinsi Riau kaya migas sejak dulu, namun struktur ekonominya tidak sebanding sama sekali. Memang sektor migas menyumbang lebih dari 25% PDRB Riau, tetapi sektor ini bersifat kapital-intensif, bukan labor-intensif, tidak menyerap tenaga kerja lokal dalam jumlah besar dan
sebagian besar nilai tambah kembali ke pusat atau ke perusahaan multinasional.
Di sisi lain, rakyat di sekitar pengeboran sumur minyak tetap berada pada pekerjaan yang bersifat sampingan seperti jadi supir, buruh harian, dan pedagang kecil informal.
Pengelolaan Sumur Tua Memerlukan Teknologi Mahal
Di Wilayah Siak, Dumai, Minas, dan Duri, ribuan pekerja kini menjaga ladang minyak yang sebagian besar sudah tua. Para pekerja itu lebih banyak mempertahankan sisa-sisa produksi yang ada.
Guna mempertahankan produksi, perusahaan minyak berusaha menerapkan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) di antaranya berupa injeksi uap, surfaktan, dan CO₂ flooding. Namun tentu saja penggunaan teknologi tersebut berbiaya mahal (high cost).
Selanjutnya, digitalisasi di bidang migas secara bertahap diterapkan meliputi polasensor real-time, analitik produksi, hingga pemantauan dashboard. Namun, upaya ini hanya menyentuh sebagian kecil karena 40% sumur di Riau adalah sumur tua yang memerlukan perawatan intensif.
Menuju Ketahanan Energi Indonesia
Ketahanan energi meliputi segala aspek yang sangat luas. Hal ini bukan sekadar cadangan minyak tersisa, melainkan seberapa mampu negara menjamin energi yang aman, terjangkau, dan berkelanjutan.
Diperkirakan, cadangan minyak Indonesia bersisa sekitar 2,44 miliar barel atau hanya cukup untuk menanggulangi ketersediaan minyak 9–10 tahun.
Terkait cadangan gas lebih besar yakni 62 TCF, tetapi sekitar 70% berada di Indonesia Timur yang jauh dari pusat konsumsi nasional.
Oleh sebab itu, ketergantungan impor migas ada di depan mata dan sampai pada tahap mengkhawatirkan. Realitas saat ini, 65% kebutuhan BBM Indonesia masih diimpor dan
90% pasokan LPG (berupa Elpiji 3 kg) juga harus diimpor.
Situasi ini bagi Indonesia cukup berpengaruh terhadap gejolak global. Sebutlah, Perang Rusia-Ukraina, konflik Timur Tengah, dan kebijakan negara-negara pengekspor minyak OPEC.
Riau Di Persimpangan Jalan Transisi Energi
Pada tahun 2030, Indonesia menargetkan 23% energi terbarukan namun faktanya hingga kini baru tercapai 12–14%. Sebagian besar masih bersumber dari panas bumi dan PLTA (tenaga air).
Potensi energi baru Riau, yang meski kaya migas dapat bersumber dari
biomassa dan biodiesel dari kelapa sawit
PLTS (tenaga surya) skala desa di daerah pesisir berpeluang untuk terus dikembangkan. Begitu pula, potensi biogas dari limbah industri pertanian.
Kedaulatan Energi Dari Riau untuk Indonesia
Ketergantungan impor BBM yang cukup tinggi membuat ketahanan energi Indonesia masih dipertanyakan. Tentu saja berbagai langkah dan upaya terus dilakukan di segala lini dunia perminyakan dan gas.
Langkah-langkah reformasi hulu migas menjadi kebutuhan meliputi penyederhanaan regulasi dan izin, kepastian hukum dan
pemberian insentif fiskal yang rasional serta percepatan eksplorasi blok-blok minyak baru.
Investasi migas harus disejalankan dengan situasi global yang kini sedang berlomba-lomba menuju energi hijau (green energy). Tanpa reformasi yang intensif, Indonesia bisa terus ketinggalan dalam mewujudkan kedaulatan energi.
Upaya dalam penguatan SDM harus terus digesa. Industri migas tak lagi sekadar soal peralatan dan teknologi tinggi berupa analisis data, AI monitoring, reservoir modeling atau EOR advanced.
Ketahanan energi bukan sekadar angka produksi, tetapi jaminan hidup bagi masyarakat. Anak-anak di perkampungan yang berada di sekitar kawasan penghasil minyak jangan lagi ada yang mengaji di bawah lampu redup atau menempuh jalan berlubang puluhan kilometer menuju sekolah.
Selama ini Riau telah memberi banyak bagi negara ini. Kini saatnya rakyat Riau merasakan kembali hasil kekayaan migas berupa
kesejahteraan yang nyata.
Energi adalah nyawa peradaban. Dan kedaulatan energi adalah kehormatan sebuah bangsa.
Di balik asap kilang yang tak pernah padam itu, tersimpan harapan: bahwa Indonesia suatu hari nanti tidak lagi gamang menghadapi krisis energi, dan Riau akhirnya mendapat tempat terbaik dalam peta kesejahteraan negeri.
Dari Tanah Melayu Riau, industri migas terus bergerak menuju kedaulatan energi Indonesia. *
Dr. (Can) Ir. Fakhrunnas MA Jabbar, M.I. Kom dalam wartawan yang juga Pemred media online Tirastimes.com dan penerima Press Card Number One (PCNO) PWI sebagai pengakuan pengabdian jurnalistiknya