Kolaborasi Menjaga Pengelolaan Hutan Berkelanjutan: APRIL Di era Green Industry

Kolaborasi Menjaga Pengelolaan Hutan Berkelanjutan: APRIL Di era Green Industry

Oleh Fakhrunnas MA Jabbar (Wartawan Senior)

EMBUN turun di kawasan hutan gambut. Cericit burung saling bersahutsn di antara pepohonan Akasia dan Eucalyptus yang berjajar rapi. Udara segar khas dataran rendah tropis seakan menyambut siapa saja yang datang di kawasan itu.

Di sinilah, di tengah hamparan hijau yang dulu pernah porak-poranda oleh pembalakan liar dan kebakaran, kini berdiri semangat baru yang tumbuh bersama: semangat menjaga hutan untuk masa depan yang lestari.

“Saya dulu petani biasa, tak pernah berpikir bisa bekerja sambil ikut menjaga hutan. Tapi sekarang, kami diajak, dilibatkan, dan didengar,” kisah Pak Joni, seorang tokoh adat dari Desa Teluk Meranti. Ia kini menjadi salah satu mitra lokal dalam program Fire Free Village Program (FFVP) yang digagas sejak 2015 oleh APRIL Group yang membawahkan PT Riau Andalan Pulp dan Kerta (RAPP) penghasil pulp dan kertas yang berpusat di Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan, Riau.

Pabrik pulp dan kertas PT RAPP di Pangkalan Kerinci

Kisah Pak Joni hanyalah satu dari banyak cerita yang menunjukkan bahwa pelestarian hutan bukan lagi tanggung jawab satu pihak, melainkan tugas bersama pihak pemerintah, perusahaan, dan masyarakat. Ketiga pihak itu bersatu dalam upaya panjang: memastikan hutan tetap hijau, ekonomi tetap tumbuh, dan kehidupan tetap berlanjut.

Jejak Perubahan di Pangkalan Kerinci

Dulu, nama Pangkalan Kerinci nyaris tak tercatat dalam peta. Ia hanya sebuah dusun kecil di tepian Sungai Kampar, jauh dari hiruk-pikuk kota. Tapi itu cerita lama. Kini, tempat itu menjelma menjadi salah satu pusat industri pulp dan kertas terbesar di Asia.

Di balik transformasi ini berdiri APRIL Group, bagian dari Royal Golden Eagle (RGE). Dengan investasi lebih dari Rp 100 triliun, perusahaan ini bukan hanya membangun pabrik, tapi juga membangun peradaban baru. Jalan-jalan diaspal, sekolah berdiri, rumah sakit dibangun, dan lapangan pekerjaan tersedia. Namun, bukan hanya infrastruktur yang berubah—cara pandang masyarakat terhadap hutan pun turut berubah.

“Kami tak lagi melihat hutan sebagai ladang tebang semata. Kini, kami melihat hutan sebagai warisan. Sesuatu yang harus dijaga, bukan sekadar dieksploitasi,” ujar Nurfadillah, seorang guru SD di Kecamatan Ukui, yang juga aktif dalam program pendidikan lingkungan binaan APRIL.

Hutan yang Dikelola, Ekonomi yang Hijau

Komitmen APRIL Group terhadap keberlanjutan tercermin jelas dalam kebijakan Sustainable Forest Management Policy (SFMP) 2.0 yang diluncurkan pada 2015. Melalui kebijakan ini, APRIL menegaskan komitmennya pada zero deforestation, penggunaan kayu dari hutan tanaman industri, serta pemenuhan standar internasional seperti UN Global Compact dan konvensi ILO.

Pengelolaan hutan tanaman industri PT RAPP

Teknologi modern diterapkan di pabrik pulp dan kertas di Pangkalan Kerinci untuk memastikan efisiensi dan kualitas produksi. Produk utama kertas seperti PaperOne bahkan telah merambah lebih dari 70 negara di dunia. Namun, lebih dari sekadar bisnis, APRIL juga memastikan bahwa setiap ton kayu yang diproduksi menghasilkan kontribusi bagi konservasi: satu dolar untuk satu ton kayu.

Pada 2023, total dana konservasi mencapai USD 16 juta. Dana ini disalurkan untuk mendukung proyek-proyek pelestarian seperti Restorasi Ekosistem Riau (RER), yang telah memulihkan lebih dari 150.000 hektare hutan gambut—salah satu kawasan paling rentan dan kaya keanekaragaman hayati di dunia.

“Kami tak mungkin bekerja sendiri. Kolaborasi dengan masyarakat dan organisasi lingkungan menjadi kunci keberhasilan,” ujar Mulia Nauli, Direktur PT RAPP.

Hutan, Ladang Harapan Baru bagi Petani

Di Desa Bagan Limau, yang terletak tak jauh dari kawasan restorasi Semenanjung Kampar, seorang petani bernama Mbah Bakar tampak sibuk merawat lahan pertaniannya. Dulu ia menggantungkan hidup dari membuka lahan dengan cara membakar. Kini, ia menjadi pelatih lokal dalam Fire Free Village Program (FFVP) yang membina warga agar tidak lagi menggunakan api untuk membuka lahan.

“Saya pernah rugi besar karena kebakaran meluas ke kebun dan rumah tetangga. Malu dan kapok,” kenangnya. “Tapi setelah ada penyuluhan dan alat bantu dari APRIL, kami mulai paham cara membuka lahan tanpa api.”

APRIL menyediakan berbagai dukungan seperti alat pertanian, pelatihan, hingga bantuan bibit untuk mendorong pertanian berkelanjutan. Tak hanya itu, dana insentif juga diberikan kepada desa yang berhasil menjaga wilayahnya bebas dari kebakaran selama setahun.

“Kami merasa dihargai sebagai penjaga hutan, bukan hanya warga kampung biasa.”

Dari Rawa Gambut ke Pusat Keanekaragaman Hayati

Restorasi Ekosistem Riau (RER) menjadi proyek monumental dalam sejarah konservasi di Sumatera. Diluncurkan sejak 2013, program ini bertujuan melindungi dan memulihkan lebih dari 150.000 hektar lahan gambut yang sempat rusak karena eksploitasi dan kebakaran.

Kawasan restorasi meliputi Semenanjung Kampar dan Pulau Padang, dua wilayah penting yang menjadi rumah bagi ratusan spesies flora dan fauna. Bersama mitra seperti Flora & Fauna International (FFI) dan The Nature Conservancy, tim RER bekerja mendata dan memantau kehidupan liar.

“Hingga kini, kami telah mengidentifikasi lebih dari 718 spesies, termasuk harimau sumatera, beruang madu, dan burung rangkong. Setiap penemuan menjadi harapan baru bagi ekosistem,” kata Irwan Suwandi, seorang ahli biodiversitas dari RER.

Yang menarik, banyak anak muda lokal kini terlibat sebagai penjaga hutan (ranger). Salah satunya adalah Delvi, 25 tahun, lulusan SMA dari Pulau Padang yang kini bekerja sebagai pengamat satwa.

Perempuan Ikut Menjaga Bumi

Di desa Petodaan, tepi Sungai Kampar, sekelompok ibu rumah tangga membentuk kelompok eco-craft yang memanfaatkan bahan sisa hutan seperti lidi, batang ilalang, dan sabut untuk dibuat menjadi kerajinan tangan.

Bersama pelatihan dari program Inclusive Progress APRIL2030, mereka memproduksi tas anyaman, keranjang, dan pajangan yang kini dipasarkan ke kota bahkan luar negeri. Salah satunya, Rosmiati, ibu tiga anak, mengaku hidupnya berubah setelah bergabung dalam kelompok tersebut.

Pembibitan tanaman akasia

“Dulu saya hanya mengandalkan penghasilan suami dari kebun. Sekarang kami bisa bantu ekonomi keluarga. Anak-anak juga makin semangat sekolah karena lihat ibunya berkarya,” katanya sambil tersenyum.

APRIL2030 sendiri memiliki empat pilar besar: Climate Positive, Thriving Landscapes, Inclusive Progress, dan Sustainable Growth. Program ini adalah cetak biru perusahaan menuju tahun 2030 yang tidak hanya menargetkan profit, tetapi juga dampak sosial dan lingkungan yang positif.

Kolaborasi Pengelolaan Hutan Berkelanjutan

Keberhasilan pengelolaan hutan berkelanjutan tak mungkin tercapai tanpa dukungan pemerintah. Pemerintah Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau, dan kementerian terkait secara aktif terlibat dalam merumuskan kebijakan bersama.

Bagi pemerintah Kabupaten Pelalawan, APRIL bukan hanya mitra industri, tapi juga mitra pembangunan. Kedua pihak bersama-sama menyusun rencana tata ruang, restorasi lahan, dan program pemberdayaan masyarakat.

Model kolaborasi yang dijalankan APRIL juga menginspirasi perusahaan lain untuk menerapkan pendekatan serupa. Dengan prinsip transparansi, pelibatan komunitas, dan audit independen, praktik APRIL telah menjadi acuan dalam forum internasional pengelolaan hutan.

Tak heran jika dalam forum COP dan pertemuan iklim global lainnya, RER dan FFVP sering diangkat sebagai studi kasus keberhasilan integrasi konservasi dan industri.

Investasi yang Memberi Napas Panjang

Dengan kapasitas produksi 4 juta ton pulp dan 1,15 juta ton kertas per tahun, APRIL menyumbang kontribusi besar terhadap ekonomi lokal maupun nasional. Produk perusahaan ini, terutama PaperOne, telah dikenal di lebih dari 70 negara.

Namun yang tak kalah penting, setiap ton kayu yang dihasilkan memberi kembali kepada alam. Tahun 2023 mencatat investasi konservasi sebesar USD 16 juta, sebagian besar disalurkan untuk restorasi gambut, konservasi spesies, dan pelatihan masyarakat.

“Ini investasi untuk masa depan, bukan biaya. Kita tak mungkin bicara keberlanjutan tanpa komitmen jangka panjang,” ujar Anderson Tanoto, anggota Dewan Eksekutif RGE.

APRIL pun menerapkan teknologi canggih dalam rantai produksinya. Penggunaan energi terbarukan, sistem pemantauan titik panas berbasis satelit, hingga integrasi data lingkungan dalam sistem digital menjadi bukti bahwa keberlanjutan tak harus mengorbankan efisiensi. ***

Comments (0)
Add Comment