Edukasi dari Perspektif Agama dan Kesehatan tentang Zina dan LGBT
Dalam rangka meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya mencintai, menghargai, dan menjaga diri sesuai dengan nilai-nilai agama serta fitrah manusia, Pengurus Majelis Taklim Masjid Asy-Syakuur bersama Alppind Riau menyelenggarakan kegiatan kajian dengan tema “Self Love yang Sesungguhnya: Mencintai Diri Tanpa Melanggar Fitrah”.
Kegiatan ini mengangkat materi dari perspektif kesehatan dengan pembahasan khusus mengenai zina dan LGBT, sebagai bagian dari upaya memberikan edukasi kepada masyarakat, khususnya kaum ibu, mengenai pentingnya ketahanan keluarga, perlindungan generasi, serta pembentukan lingkungan keluarga yang sehat secara fisik, mental, sosial, dan spiritual.
Kegiatan dilaksanakan pada:
Hari/Tanggal: Sabtu, 15 Agustus 2026
Waktu: Pukul 16.00 WIB–selesai
Tempat: Masjid Asy-Syakuur
Peserta: Jamaah Majelis Taklim Masjid Asy-Syakuur dan ibu -ibu majelis Taklim se Kelurahan Lembah Sari.
Kegiatan tersebut dihadiri sekitar 200 peserta, yang terdiri atas gabungan majelis taklim ibu-ibu se-Kelurahan Lembah Sari. Tingginya antusiasme peserta menunjukkan adanya kebutuhan masyarakat terhadap edukasi yang dapat membantu keluarga menghadapi berbagai tantangan sosial dan kesehatan yang berkembang di tengah masyarakat.
Sambutan PW Alppind Riau
Acara diawali dengan sambutan dari Ketua Alppind Riau yang dalam kesempatan ini diwakili oleh Wakil Ketua Alppind Riau, Dr. Elvi Yenti, S.Pd., M.Si.
Dalam sambutannya disampaikan bahwa Alppind Riau merupakan organisasi perempuan yang memiliki kepedulian terhadap ketahanan keluarga, perlindungan generasi, serta penguatan nilai-nilai moral bangsa. Oleh karena itu, kegiatan edukasi kepada masyarakat merupakan salah satu ikhtiar penting untuk memperkuat peran keluarga dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Dalam konteks tersebut, kaum ibu memiliki posisi yang sangat strategis. Ibu tidak hanya berperan dalam pengasuhan anak, tetapi juga menjadi salah satu figur utama dalam membangun karakter, menanamkan nilai agama, membentuk kebiasaan positif, dan menciptakan suasana keluarga yang aman serta penuh kasih sayang.
Oleh sebab itu, majelis taklim ibu-ibu dipandang sebagai ruang yang strategis untuk memperkuat pengetahuan dan kesadaran perempuan mengenai kesehatan keluarga, pendidikan anak, ketahanan keluarga, dan nilai-nilai moral. Edukasi yang diberikan diharapkan dapat menjadi bekal bagi para ibu dalam mendampingi anak dan anggota keluarga menghadapi berbagai pengaruh lingkungan.
Kegiatan ini menggunakan pendekatan yang memadukan nilai-nilai keagamaan dengan perspektif kesehatan, sehingga masyarakat tidak hanya memperoleh pemahaman normatif mengenai perilaku yang sesuai dengan ajaran agama, tetapi juga mendapatkan pengetahuan mengenai aspek kesehatan dan sosial yang berkaitan dengan isu tersebut.
Edukasi Kesehatan oleh Dr. Uly Astuti Siregar, M. Biomed
Acara kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh Dr. Uly Astuti Siregar, M. Biomed dengan tema “Self Love yang Sesungguhnya: Mencintai Diri Tanpa Melanggar Fitrah”.
Dalam pemaparannya, narasumber mengajak peserta memahami konsep self love secara lebih komprehensif. Mencintai diri tidak semata-mata berarti memberikan kebebasan kepada diri untuk melakukan segala sesuatu yang diinginkan, tetapi juga berarti mampu menjaga diri, menghargai tubuh, menjaga kesehatan, membangun relasi yang sehat, serta menghindari perilaku yang dapat menimbulkan dampak negatif bagi diri sendiri maupun keluarga.
Pembahasan kemudian diarahkan pada isu zina dan LGBT dari perspektif kesehatan dan sosial. Narasumber menekankan pentingnya memahami persoalan secara komprehensif, termasuk faktor lingkungan, pola pergaulan, pengalaman hidup, kondisi keluarga, pengaruh sosial, serta berbagai faktor psikososial yang dapat memengaruhi perkembangan perilaku seseorang.
Dalam kesempatan tersebut juga ditekankan pentingnya peran keluarga, khususnya orang tua, dalam memberikan pendampingan dan perlindungan kepada anak. Kehadiran ayah dan ibu, komunikasi yang baik dalam keluarga, perhatian terhadap perkembangan anak, pendidikan agama, pengawasan terhadap lingkungan pergaulan, serta pemberian kasih sayang merupakan bagian penting dalam membangun keluarga yang sehat dan tangguh.
Para ibu juga diajak untuk tidak hanya berperan sebagai pengawas, tetapi menjadi sahabat dan tempat aman bagi anak untuk bercerita. Komunikasi yang terbuka di dalam keluarga diharapkan dapat membantu orang tua mengenali berbagai persoalan yang dihadapi anak sejak dini, termasuk persoalan pergaulan, tekanan teman sebaya, paparan konten digital, kekerasan seksual, dan berbagai bentuk eksploitasi.
Dalam perspektif kesehatan masyarakat, edukasi mengenai perilaku seksual berisiko juga penting dilakukan karena beberapa perilaku seksual dapat meningkatkan risiko penularan infeksi menular seksual (IMS), termasuk HIV, serta dapat berdampak terhadap kesehatan reproduksi dan psikososial. Oleh karena itu, pendidikan kesehatan seksual yang sesuai usia, berbasis ilmu pengetahuan, nilai agama, dan penguatan keluarga perlu terus dikembangkan.
Narasumber juga mengingatkan bahwa keluarga mempunyai tanggung jawab besar dalam membentengi generasi muda dari kekerasan seksual, eksploitasi, prostitusi, serta berbagai bentuk lingkungan pergaulan yang tidak sehat. Perlindungan tersebut perlu dilakukan melalui pendidikan, keteladanan, komunikasi, kasih sayang, dan pendampingan yang berkelanjutan.
Peran Strategis Kaum Ibu
Kegiatan ini memberikan pesan penting bahwa ketahanan keluarga tidak dapat dibangun hanya melalui aturan dan larangan. Ketahanan keluarga membutuhkan pengetahuan, keteladanan, komunikasi, kasih sayang, pendidikan agama, serta pemahaman kesehatan.
Kaum ibu memiliki peran strategis karena keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama bagi seorang anak. Rumah menjadi tempat pertama anak belajar mengenai kasih sayang, tanggung jawab, batasan perilaku, penghormatan terhadap diri sendiri dan orang lain, serta nilai-nilai agama.
Karena itu, penguatan kapasitas ibu melalui kegiatan majelis taklim menjadi salah satu langkah strategis dalam membangun keluarga yang kuat. Ibu yang memiliki pengetahuan dan kesadaran yang baik diharapkan mampu menjadi garda terdepan dalam memberikan pendidikan dan perlindungan kepada anak-anaknya.
Kegiatan kajian ini juga menjadi bagian dari ikhtiar Alppind Riau untuk terus berkontribusi dalam memberikan edukasi kepada masyarakat, khususnya perempuan, melalui pendekatan yang mengintegrasikan agama, kesehatan, pendidikan keluarga, dan nilai-nilai moral.
Penutup
Kegiatan kajian “Self Love yang Sesungguhnya: Mencintai Diri Tanpa Melanggar Fitrah” berlangsung dengan antusias dan mendapat respons positif dari para peserta. Kehadiran sekitar 200 peserta dari berbagai majelis taklim ibu-ibu se-Kelurahan Lembah Sari menunjukkan tingginya perhatian masyarakat terhadap persoalan keluarga, kesehatan, pendidikan anak, dan perlindungan generasi.
Melalui kegiatan ini diharapkan para peserta semakin memahami bahwa mencintai diri sendiri harus diwujudkan melalui kemampuan menjaga diri, menjaga kesehatan, menjaga kehormatan, membangun hubungan yang sehat, serta menjalani kehidupan sesuai dengan nilai agama dan prinsip kesehatan.
Lebih jauh, kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat peran kaum ibu sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya sekaligus salah satu pilar penting dalam ketahanan keluarga, sehingga keluarga mampu menjadi benteng utama dalam melindungi generasi dari berbagai pengaruh negatif dan tantangan kehidupan di era modern.
Alppind Riau akan terus berupaya mendorong kegiatan-kegiatan edukatif yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya dalam penguatan ketahanan keluarga, perlindungan perempuan dan anak, serta pembentukan generasi yang sehat, berkarakter, dan berpegang teguh pada nilai-nilai agama.