KIAI
Akan tiba saatnya malam-malam
tersiram garam menjadi musim
di kitab-kitab yang telah kaubaca.
Dan jauh sebelum itu
Kami sudah berdoa supaya Tuhan
mengubah kami menjadi musim dingin:
Yang mafhum jika kematian hanyalah sekedar
menunggu genangan hujan yang terbantun dari daun itu.
Tapi tunggu dulu
Bukankah sebelum kami berdoa
kau lebih dulu menyulam kami menjadi kemarau di dadamu?
Yang menguningkan segala keraguan-keraguan
Dan kemungkinanku berpaling darimu ?
Cirebon, 2026
M. Febriansyah, lahir pada 28 Februari 2004 di kota Cirebon provinsi Jawa Barat. Ia seorang mahasiswa Fakultas Agama Islam Prodi Tasawuf dan Psikoterapi di Univesitas Muhammadiyah Cirebon. Dan juga santri di pondok Buntet Pesantren Cirebon. Beberapa puisinya sudah ada yang terpilih dan dimuat di sayembara buku-buku antologi puisi Nasional dan tersebar di media-media sastra online Indonesia.