Lorong waktu mengajarkan
Nikmatnya menelan perih
Mengais ribuan pinta
Selalu ada di pertiga malam.
Aku terduduk beku dalam pesona rindu
Tergadai semua angan; lari mengejar meski berkali-kali jatuh.
Lagi-lagi lorong itu mengundang
berpesta bersama kunang – kunang
Aku tergugu
Tiada tahu harus bagaimana.
Lorong gelap ini menuntunku
Pada satu cahaya; pendarnya begitu hangat
Memelukku dengan bahasa air mata.
Rokan Hilir, 11 Februari 2024