Monolog Lumbung Padi
Aku tergolek bisu di lipatan dingin
Tubuh tua retak di lumpuh waktu
Dulu, dindingku adalah rajutan selimut
Mengharap kerutan, peluh, dan tirakat
Koin emas dan perak bergesek pelan
Memahat kisah punggung yang legam
Perihal kaki arang bermandi lumpur
Dan perut lumbung yang mulai bertawakal
Namun beton angkuh bercecer menancap bumi
Bangunan kokoh menggerus tiangku
Hamparan kuning beraroma layu
Tanah tandus, menghidu pekat debu
Para petani membawa buah tangan besi
Padi meranggas, terjebak di kubangan rumput
Aku terbaring ringkih, kosong, dan sisa tulang
Sekarat sepi menjelma monumen pengasingan
Mengapa kau lalai warisan nenek moyang?
Siapa yang meramu pangan waktu kecil mu?
Aku, sang lumbung,
kini meratap abad silam,
Mengubur mimpi pada musim panen berkarat.
Ponorogo, 06 Juni 2026
Tangan Ajaib
Di balik bangunan tua, rumah joglo
Langkah kaki kecil menyapa pintu
Wajah keriput mengulas senyum surga
“Mbung dulu cu, ayo masuk nenek sudah masak sayur bayam dan terong”
Nuansa dapur gelap berjelaga
Racikan jeli, menetas dari jemari renta
Aroma ketumbar goreng, lambung berbunyi nyaring
Gurihnya menggugah rasa lapar
Sejenak nenek pamit keluar
Kaki ringkih nya keluar, menapak aspal
Ke ruko kecil demi sebuah amanah
Menukar kepingan perak dengan krupuk kotak
Kini, lamunan itu tinggal ilusi
Meraba lantai tanah yang hampa
Sisa air yang menggenang di balik pintu
Mengulik kenangan yang tak pernah padam
Nenek telah memeluk tanah
Membawa racikan kuah sayur yang lezat
Kucari tiap rasa di tangan anak perempuan nya
Namun tak pernah selaras dengan tangan ajaibnya.
(Mbung: cium)
Ponorogo, 06 Juni 2026
Tersesat
Di tengah ramai yang memburu pengakuan
Jemariku bertaut resah, gemetar ketakutan
Siluet mata tajam penuh penghakiman
Di dekte tunduk pada pikiran liar
Mirisnya perempuan hobi mencerca
Sibuk mengasah mulut,
menebalkan prasangka buruk
Lalu mereka tertawa kencang,
seakan telah menangkan lotre undian
Mereka bangga, katanya— pencapaian
Membawa berita, ranah tersembunyi
untuk mensidang pidana di ruang interogasi
Sedang ia bergelar terbaik
Menyumbar aib dengan pancaran mata berbinar
Mengapa sufi luhur mahir mengasuh dusta?
Saat fitrah suci mustinya meramu inti
Di cawan emas ini, tersisa anyir raga
Berkafan jubah, tersesat arah kiblat.
Ponorogo, 06 Juni 2026
Mega Septiani, perempuan kelahiran Ponorogo, 28 September 2001. Meraih gelar Sarjana Pendidikan jurusan Pendidikan Agama Islam dari UIN Ki Ageng Muhammad Besari Ponorogo. Ia sudah menulis sejak duduk di bangku MTs Al-Islam Joresan, dan pernah menjadi salah satu Tim Redaksi Majalah Pondok. Aktif mengikuti lomba cipta puisi (online). Beberapa puisi yang pernah diterbitkan termuat dalam buku berjudul: Hujan-hujanan (Pramedia: 2020), Misteri Jodoh (Zizanta Media: 2020), Mentari Senja (Mentari Media: 2020), Rindu (Pramedia: 2020), Menanti Harapan di Musim Penantian (Jendela Sastra Indonesia/ JSI: 2021), Berdamai dengan Waktu (Yumna Pustaka: 2026). Ia dapat di hubungi melalui WhatsApp: 085 336 327 901, dan Instagram @sheptiaann. Ia juga sedang mengikuti Kelas Puisi Jadi Cuan, Sekolah Kepenulisan Kosana Publisher @kosanapublisher bersama @intanhafidahnh sebagai mentor kelas.