YOGYAKARTA, 14 Mei 2026 — Seorang anak usia empat tahun mengingatkan ibunya yang hendak membuang sampah dari jendela mobil: “Mami, tidak boleh ya buang sampah sembarangan.” Sang ibu pun menaruh sampah itu ke tempat sampah kecil di dalam mobil. Kejadian sederhana ini bukan kebetulan melainkan buah dari pembiasaan yang ditanamkan di sekolah sejak usia dini.
Kisah itu diceritakan oleh Felucia Hendriette Elizabeth, S.P., M.Pd., Kepala Seksi Kurikulum dan Evaluasi Jenjang PAUD BPK PENABUR Jakarta, usai mengikuti Indonesia Green Principal Award (IGPA) Batch 8 di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, 7–9 Mei 2026.
Bagi Lucy, begitu beliau biasa disapa, cerita dari orang tua murid tersebut adalah bukti bahwa anak-anak bukan sekadar penerima pendidikan, melainkan agen perubahan yang paling efektif di dalam keluarga. “Anak-anak justru bisa mengingatkan yang dewasa. Jadi hal-hal kecil dalam pembiasaan sehari-hari anak itu sudah ditanamkan sejak dini dan dampaknya melampaui tembok sekolah,” ujarnya.
Apa yang dialami Lucy bukan sekadar cerita mengharukan. Ia adalah konfirmasi dari apa yang sudah lama dibuktikan oleh riset ekonomi global. James Heckman, peraih Nobel Ekonomi tahun 2000 dari Universitas Chicago, menemukan bahwa investasi dalam program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) berkualitas tinggi dari lahir hingga usia lima tahun menghasilkan imbal balik hingga 13% per anak per tahun.
Imbal balik tersebut ditunjukan melalui performa individu di bidang pendidikan, kesehatan, perilaku sosial, dan ketenagakerjaan di masa dewasa. Heckman menyampaikan bahwa setiap satu dolar yang diinvestasikan dalam program PAUD berkualitas akan menghasilkan imbal balik antara 6 – 17 dolar Amerika Serikat (AS) dalam jangka panjang. Hal ini dikarenakan usia dini adalah masa yang tidak bisa diulang. Kebiasaan, nilai, dan cara pandang yang terbentuk di masa ini akan menjadi fondasi yang dibawa seumur hidup.
Di sinilah terdapat sebuah kontras kebijakan. Peta Jalan dan Rencana Aksi Ekonomi Sirkular Indonesia (dokumen pendukung Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2025–2045) yang dirilis Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) / Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) pada 2024 hanya menyebut integrasi pendidikan ekonomi sirkular ke dalam kurikulum SMA dan perguruan tinggi. PAUD, SD, dan SMP sama sekali tidak tercantum secara eksplisit.
Senada dengan Lucy, Dr. Tri Wahyuni, S.Pd., M.Si., Kepala Bagian Kurikulum dan Evaluasi BPK PENABUR Jakarta yang membawahi hampir 30.000 siswa dari TK hingga SMA di Jabodetabek, menyampaikan pentingnya dimulainya gerakan ini dari usia dini. “Gerakan minim sampah atau zero waste harus ditanamkan kepada anak-anak. Bumi kita cuma satu dan bumi ini adalah pinjaman dari generasi berikutnya. Saya yakin semua orang tua sayang sama anak-anaknya. Maka marilah kita wariskan sesuatu yang terbaik yang bisa kita lakukan,” pesannya.
Untuk mengisi celah tersebut, IGPA hadir sejak tahun 2022 untuk memberikan pendidikan ekonomi sirkular kepada kepala sekolah serta tenaga didik dari tingkat TK hingga SMA.
Diselenggarakan oleh JBI Education Consulting bersama Pusat Studi Perdagangan Dunia (PSPD) UGM, tahun ini IGPA Batch 8 mempertemukan 15 pendidik dari delapan sekolah dan satu yayasan pendidikan yang mencakup jenjang TK hingga SMA dari DKI Jakarta, Banten, Jawa Timur, Lampung, dan Riau. Di antara mereka, BPK PENABUR Jakarta hadir sebagai perwakilan yayasan yang membawahi lebih dari 20 sekolah dengan hampir 30.000 siswa dari TK hingga SMA di Jabodetabek.
Lucy menegaskan bahwa pendidikan ekonomi sirkular di PAUD tidak perlu muluk-muluk. Di sekolahnya, anak-anak usia tiga tahun sudah diajak memilah sampah, menghemat air saat mencuci tangan, dan membuat kerajinan dari barang bekas. “Jangan meremehkan sama anak. TK A dan TK B sudah bisa diajarkan dan mendesain sendiri produk daur ulang mereka. Kami kagum sekali,” katanya. Konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle) sudah menjadi bagian dari keseharian, bukan sekadar materi pelajaran.
Dr. Junita Widiati Arfani, salah satu pendiri IGPA sekaligus Direktur JBI Education Consulting, menyebut absennya PAUD dalam peta jalan Kementrian PPN/Bappenas sebagai peluang yang terlalu besar untuk dilewatkan. “Sayang sekali kalau Bappenas hanya memasukkan pendidikan ekonomi sirkular ke dalam kurikulum untuk SMA dan perguruan tinggi. PAUD dan jenjang pendidikan dasar justru yang paling utama, karena usia dini adalah golden age untuk mengubah paradigma. Teach student, teach parent. Ketika kita mengajari seorang anak, kita juga mengajari orang tuanya. Apalagi ketika melihat proyeksi pertumbuhan penduduk hingga tahun 2045, jumlah populasi anak usia dini di Indonesia itu sangat besar. Ini (memberikan pendidikan ekonomi sirkular di usia PAUD) strategis sekali,” tegasnya.
Dr. Suci Lestari Yuana selaku Dosen Departemen Ilmu Hubungan Internasional FISIPOL UGM dan Peneliti Ekonomi Sirkular di Pusat Studi Perdagangan Dunia UGM menyampaikan, “ekonomi sirkular bukan hanya bicara tentang lingkungan, namun tentang mengubah aktivitas ekonomi agar minim pembuangan dan ekstraksi sumber daya alam. Perubahannya bisa dimulai dari hal paling sederhana di dalam sekolah“.
Pandangan ini kemudian dikembangan dalam riset kolaboratif yang ia pimpin antara UGM dan University College London (UCL) yang berfokus pada pengembangan pendidikan ekonomi sirkular di sekolah. Mulai dari asesmen kebutuhan dan bahan ajar, uji coba panduan bilingual di perhelatan IGPA, hingga diseminasi global melalui lokakarya di London dan webinar kawasan Asia Tenggara. Penelitian ini bekerja sama dengan JBI Education Consulting dan menjadikan alumni IGPA sebagai sampel penelitian. Sehingga program IGPA tidak sekadar ajang penghargaan, melainkan laboratorium kebijakan pendidikan yang hidup.
Ke depan, jaringan alumni IGPA yang tergabung dalam Asosiasi Sekolah Sirkular Indonesia (ASSI) juga berencana menggelar International Circular Eco Youth Camp 2026 di Bali pada akhir tahun ini untuk memperluas gerakan sekolah sirkular ke panggung internasional. Indonesia Emas 2045 tidak dimulai dari ruang sidang kebijakan, melainkan dimulai dari ruang kelas PAUD, dari anak empat tahun yang mengingatkan orang tuanya untuk tidak membuang sampah sembarangan.
Informasi lebih lanjut mengenai IGPA dapat diikuti melalui Instagram @igpa.idn dan situs igpa.or.id.
________________________________________
Tentang IGPA: Indonesia Green Principal Award (IGPA) adalah program lokakarya dan penghargaan nasional yang diselenggarakan oleh JBI Education Consulting bersama Pusat Studi Perdagangan Dunia UGM. Program ini dirancang untuk mendorong kepala sekolah dan pendidik menjadi agen perubahan dalam transformasi sekolah berbasis ekonomi sirkular. Sejak 2022, IGPA telah melibatkan ratusan sekolah dari berbagai jenjang dan provinsi di Indonesia.
________________________________________
#IGPA2026 #GreenPrincipal #EkonomiSirkular #PAUD #IndonesiaEmas2045 #UGM
Penulis: Kinta Herawan