Sebagai manusia bersastra sastrawan perlu menampilkan gagasan dan catatan tentang tingkah laku manusia terhadap sesama manusia lain. Manusia mampu menjadi juru kisah. la menciptakan hikayat, dongeng, syair kepahlawanan, puisi, cerita, dan drama yang kemudian dituliskan orang dan bisa dibaca berkesinambungan. Manusia sebagai makhluk homo ludens (mampu menciptakan permainan sendiri) telah menempatkan dirinya dalam tingkatan yang terbaik di antara makhluk ciptaan Tuhan yang lain. Sebuah suasana pedesaan yang cerah telah mcngundang seseorang untuk bermain-main dengan fantasi dan pikirannya. la mungkin secara bijak telah mampu menyerap suasana kampung . Tentang burung-burung, matahari yang memberi hidup kepada rimba dan sawah yang terbentang, bunyi-bunyian margasatwa dan aroma hutan yang harum ataupun bau amis ombak di pantai nelayan Ketika manusia memulai pengembaraannya di kota -kota -suatu kehidupan kota besar- yang berangkat dari landasan nilai pedesaan yang murni telah mengubah dirinya menjadi manusia “purna petani” yang perlu setiap saat memutakhirkan dirinya dalam perubahan zaman. Program Satupena Indonesia yang didukung oleh
Posisi Sastra
Penerbitan buku dan ‘mahakarya’ buku Indonesia telah mendapat kehormatan dalam Pekan Raya Buku Frankfurt (November .2015). Pada ajang yang bergengsi global itu Jndonesia berhasil mempromosikan khazanah perbukuannya sekaligus memperkenalkan sastra Indonesia.Tidak hanya itu. Indonesia tampil dengan segenap imajinasi dari kekayaan budayanya, tari, musik , ilm, seni rupa sampai seni kuliner .Semuanya mendapat tempat,dan semuanya perlu dicatat’ meminjam kata-kata penyair besar Chairil Anwar.Tema Indonesia di ajang bergengsi itu ialah “17.000 pulau imajinasi” yang artinya imaji Indoneia tidak hanya ada dalam buku dan kaya sastra , melainkan juga dalam keramahan kebudayaannya(Rahman, 2015)..
Penerbitan karya penulis Indonesia sebanyak 150 buku berbahasa Inggris yang didukung Denny JA tahun 2026 ini merupakan kesinambungan prigram ‘mahakarya’ Indonesia di luar negeri.
Imajinasi Indonesia
Secara menarik, Jamal D Rahman (2015 )menulis tentang keprihatinannya tentang ‘kerawanan akan kehilangan imajinasi”bagi pengarang untuk menghasilkan karya sastra. Pada masa revolusi, imajinasi Indonesia merupakan respons dan dorongan terhadap perjuangan merebut kemerdekaan. Di zaman Orde Lama merespons terhadap pertarungan politik dan ideologi, dan masa Orde Baru mengkritik kekeliruan pembangunan , dan di era Reformasi merespons terhadap masalah moral, etik dan budi pekerti yang sangat rendah.
Sejak itu, imajinasi Indonesia kehilangan kegembiraannya. Sebagaimana yang ditulisnya ,”Kita kehilangan imajinasi Indonesia yang romantik, Kita kehilangan imajinasi Indonesia yang steril dari kekecewaan dan kejengkelan atas kenyataan”(Horison, 2015). Kita kehilangan dunia puitik yang sekaligus menghilangkan unsur puitis dari alam lingkungan.Depuitisasi alam semakin terlihat dewasa ini khususnya dalam masyarakat kota. Tanggung jawab ini harus dikembalikan kepada penyair dan sastrawan untuk apa sebenarnya ia menulis kesusastraan.
Sikap hidup seorang penyair bukan hanya tergambar melalui karyanya akan tetapi dapat dikenal dalam percakapan sekeping-sekeping bersama orang lain. Mungkin inilah sebabnya “omong-omong sastra” diadakan. Beberapa pribadi telah muncul dalam khazanah Indonesia. Ia tidak hadir begitu saja atau dipungut secara liar dari masyarakat lingkungannya. Ia adalah laksana seutas benang emas budaya yang dijalin oleh waktu demi waktu dan sampai satu saat sebuah ‘songket kebudayaan’ terbentuk .
Ada sesuatu yang menarik dalam diri seorang penyair. yakni dalam dirinya ada ‘bentrokan yang tak kunjung takluk’. Bentrokan inilah yang selalu menyalakan semangat kreativitasnya untuk mencipta terus. Pribadi adalah sesuatu yang unik. Sesuatu yang unik kadangkala mengundang proses kreativitas. Maka alangkah fatalnya bila orang ingin menafsirkan sebuah karya tulis menelan begitu saja pendapat orang lain yang terkadang tidak relevan dengan persoalan yang dikemukakan. Andaikata sebuah karya sastra dalam hal ini puisi, didekati dengan minat atau penyempitan persepsi sebagai hakim dan supir taksi maka dapat terjadi salah paham. “Untuk memahami sastra dan puisi diperlukan literary competence sebuah paspor untuk dapat memasuki republik sastra, sebuah ijazah guna incnghargai samudera sastra dengan aman,” demikian A Teeuw (Basis, 1978: 257).
Karya sastra adalah hasil pengaruh timbal- balik yang rumit dari faktor-faktor sosial dan kultural, sebab ia bukanlah suatu gejala yang tersendiri . Kemungkinan yang dapat dicapai ialah masyarakat harus mendekati karya sastra sebagai ‘tradisi,’ yakni kecenderungan spriitual maupun kultural dalam bentuk menampung berbagai pengertian seni.
Untuk menciptakan pcngenalan masyarakat terhadap karya sastra, sastrawan harus mengenal masvarakatnya sendiri, apa yang menjadi pokok pemikiran dan ide mereka dan bagaimana kehidupannya sehari-hari. Lebih jauh lagi mengenal tradisi yang hidup dan latar belakang kebudayaannya. Jadi sampai sejauh mana seorang sastrawan berdaulat dan bebas berbicara melalui keberadaan sastra sebagai hasil proses imajinatif, suatu konsepsi seni yang otonom hasil upaya yang total dari masyarakatnya
Sejauh mana pribadi penyair matang dalam mempertahankan eksistensinya di tengah kegelisahan zaman yang tak menentu. Bila seorang penyair tak mampu lagi merakit dan mengolah dengan kata-katanya adakah lagi kekuatan yang tinggal dalam dirinya? Bila ia berdiam saja dalam kesunyian maka hendaklah ia tahu apakah kesunyiannya itu berguna untuknya Diam tak berbuat apa-apa dalam diri seorang penyair merupakan dunia yang resah sehingga ia terlempar kembali dalam bentrokan
Sejarah sastra Indonesia senantiasa dihadapkan kepada paradoks: sastra berperan dalam kehidupan masyarakat dan sastra sebagai dunia iinajinatif pengarangnya. Dalam kutub yang pertama sastra harus mampu membuat keputusan apakah seharusnya yang diperbuat masyarakat. Kutub yang kedua sastra adalah sastra yang berkelana dalam imajinasi dan kehidupan individualitas pengarang.
Dengan demikian jelas dibuktikan bahwa seni modem cenderung menampilkan image yang subjektif dan tidak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Ia bisa dijangkau dalam ruang lain yang disebut wilayah pengarang kreatif. .***