Mozaik : Dari Restoran Padang Ke Kedai Kho Asiong

Lain lubuk lain ikan, lain padang lain belalang. Nah, saya coba membandingkannya dengan pendekatan filosofi berpikir  orang-orang  Tionghoa tentang dagang. Orang Tionghoa bila membuka toko berprinsif “bukalah sebelum yang lain buka, dan tutuplah setelah yang lain tutup.” Filosofinya, meraih kesempatan pertama dan tetap mencoba menunggu kesempatan terakhir lainnya. Dalam konteks niaga, ada perbedaan mendasar antara orang-orang Tionghoa dengan orang-orang Minang. Orang-orang Tionghoa Tionghoa berpegang pada ajaran Konfusianisme. Wirausaha etnis Tionghoa cenderung bersifat dinamis sekaligus pragmatis, fleksibel dan pandai menempatkan diri serta ulet. Hal ini sangat didukung oleh sikap kewirausahaan dan sikap tanggap etnis Tionghoa  terhadap  peluang  bisnis. Pendapat Kuncono, 2013, bahwa sikap  kewirausahaan orang  Tionghoa disemangati  oleh  ajaran Konfusius  yaitu seperti  Ren  (仁 kemanusiaan), Guanxi  (关系 hubungan), Li (礼 kesopanan), Yong ( 勇 keberanian), Zhi ( 智 kebijaksanaan), Xin ( 信实 dapat dipercaya), dan Zhong (忠 kesetiaan). Beberapa karakteristik yang diajarkan dalam Konfusius tercermin dalam konsep kegiatan perekonomian etnis Tionghoa. Dalam bisnis orang Tionghoa tidak mengenal kolektivitas dan bagi hasil, melainkan senioritas, kesetiaan, kepercayaan, dan kesetiaan lebih diutamakan. Kata kunci manajemen bisnis orang Tionghoa berpegang pada lima hubungan sosial Konfusius yang disertai derajat kepercayaan kuat terhadap ajaran-ajaran budaya leleuhur mereka.

Ulasan di atas tidak bermaksud membuat komparasi utuh melainkan hanya mengambil satu fenomena dari sekian banyak fenomena model bisnis ala Minangkabau atau ala Tionghoa. Tangkapan fenomena manajemen nasi padang tentu tidak bisa dibandingkan sejajar dengan manajemen kedai harian Kho Asiong. Kedua etnis sama-sama dikenal sebagai pekerja keras, cerdik menangkap dan  memanfaatkan peluang. Bila dilihat dari perspektif sosiologi keduanya  memliki perilaku sosial mirip dalam suatu entitas sosial komunal.

Deskripsi di atas adalah contoh pengelolaan dengan teknik manajemen sederhana disertai proyek bisnis yang juga tidak bisa dikatakan skala besar. Restoran dan kedai harian dikategorikan dalam bisnis Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Sihir restoran padang boleh semakin besar dan dikenal pelanggan, dan kemudian kita mengenal Restoran Begadang I, Restoran Begadang II,  dan ada beberapa lagi dengan lokasi yang berbeda. Demikian juga Restoran Garuda khas masakan Padang/Melayu ada beberapa cabang, tentu saja lokasi berbeda. Restoran Sederhana walau namanya sederhana tetapi sesungguhnya yang masuk bukanlah orang yang hidupnya dari  kalangan sederhana. Dan masih banyak lagi restoran dan rumah makan padang yang mampu menghipnotis lidah pelanggannya. Jadi  manajemen rumah makan padang berkarakter ekspansif (dislokasi).

Sementara Kho Asiong dengan tekun bertahun-tahun membina jaringan bisnis (business networking) apakah dengan pelanggan, apakah dengan kolega, dia bertahan dan kemudian kita tahu Kho Asiong sudah menguasai tiga ruko disebelahnya. Model manajemennya juga ekspansif (lokalisasi) yaitu melokalisir badan usaha. Jika dianalogikan dengan pohon; usaha restoran layaknya tanaman yang semakin lebat karena banyaknya cabang yang tumbuh. Sementara usaha Kho Asiong lebih kepada memperbesar diameter batang pohon.

Model manajemen dan penerapannya tentu saja ada dimensi lain yang menjadi sandaran. Pengambilan keputusan atas suatu model manajemen  setidaknya juga dilandasi karakteristik alamiah dasar seperti lingkungan dan entitas sosial lainnya. Namun setidaknya fenomena di atas bukan suatu fatamorgana melainkan fakta sosial yang kita temui di sekitar kita. Demikian!*

Penulis Adalah Dosen dan Cendekiawan
Bergelar :
Dr. NYOTO, SE, SH, S.I.Kom, MH, MM, M.M.Pd, M.I.Kom, Ph.D

Dr. Nyotomozaiknyoto mozaik
Comments (0)
Add Comment