MTQ: Ajang Prestasi dan Silaturahmi
Oleh : Syamsul Bahri (Kepala MTs Al-Hidayah Toboali)
Pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat Nasional XXXI Tahun 2026 secara resmi dibuka oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno, yang mewakili Presiden Republik Indonesia. Acara yang berlangsung dari tanggal 11 hingga 20 September 2026 itu dilangsungkan di Lapangan Pancasila Simpang Lima, Kota Semarang, Jawa Tengah. Jawa Tengah kembali menjadi tuan rumah setelah penantian selama 47 tahun sejak tahun 1979. Pembukaan dilaksanakan pada malam Minggu, 12 September 2026. Pembukaan juga ditandai dengan pemukulan bedug secara bersama-sama oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar beserta pejabat daerah.
MTQ tahun 2026 ini mengambil tema “Menebar Cahaya Al-Qur’an dalam Harmoni Menuju Indonesia Emas yang Berkeadaban”. Menurt ketua LPTQ Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen tema tersebut menggambarkan semangat menjadikan nilai-nilai Al-Qur’an sebagai fondasi pembangunan bangsa yang harmonis, maju, dan berakhlak mulia. Tema tersebut disempurnakan dengan adanya maskot MTQ Nasional dengan nama SAQUR atau Sahabat Qur’ani. Maskot ini bukan berupa binatang, tetapi sebuah karakter yang melambangkan generasi Qur’ani yang cerdas, ramah, berkarakter, serta mampu mejadi inspirasi di tengah kehidupan masyarakat yang beragam. (lptq.jatengprov.go.id)
Kegiatan MTQ sendiri pertama kali dilaksanakan di Indonesia pada bulan Ramadan tahun 1968 di Makassar, Sulawesi Selatan. Pada saat ini pelaksanaan dipusatkan di masjid Raya Makassar dan hanya melombakan cabang tilawah dewasa (putra dan putri). Menteri agama saat itu adalah K.H. Muhammad Dahlan. Setelah sukses melaksanakan MTQ perdana tersebut pemerintah melaksanakan ajang yang sama pada tahun berikutnya di Banjarmasin tepatnya tahun 1969 dan terus berlanjut sampai dengan sekarang.
Bagi umat Islam pelaksanaan Musabaqah Tilwatil Qur’an (MTQ) bukan seseuatu yang asing lagi. Bahkan sekarang hampir setiap tahun perlombaan dalam mengeksplor Al-Qur’an dan Hadits Nabi itu dilaksanakan. Pelaksanaannya pun secara berjenjang. Mulai dari tingkat paling rendah (RT, Desa/Kelurahan) sampai ke tingkat yang lebih tinggi (Kecamatan, Kabupaten/Kota, Provinsi, dan Nasional). Aneka cabang perlombaan tersedia dalam ajang yang dulunya dilaksanakan dua tahun sekali itu. Semua peserta terbaik dari perwakilan daerah masing-masing akan dipertemukan dalam satu panggung demi untuk meraih yang terbaik. Tentunya menjadi suatu kebanggaan jika mampu tampil terlebih lagi bisa menjadi juara.
Berdasarkan petunjuk teknis dan panduan MTQ Nasional setidaknya ada beberapa cabang dengan syarat-syarat tertentu yang dilombakan. Cabang tersebut antara lain Seni Baca Al-Qur’an (Tilawah dan Tartil) untuk golongan Tartil Anak-anak, Remaja, Dewasa, Qira’at Al-Qur’an, dan Cacat Netra. Kemudian Hifzhil Qur’an terdiri dari golongan 1 juz, 5 juz, 10 juz, 20 juz, dan 30 juz. Lalu Tafsir Al-Qur’an yaitu hafalan Al-Qur’an disertai penafsiran Bahasa Arab, Indonesia, atau Inggris. Selanjutnya cabang Fahmil Qur’an yaitu lomba cerdas cermat isi kandungan Al-Qur’an secara beregu. Ada juga cabang Syarhil Qur’an yaitu lomba penafsiran/pemberian penjelasan isi kandungan Al-Qur’an dengan cara pidato, syarahan, dan ilustrasi.
Kemudian cabang Khattil Qur’an (Kaligrafi) yaitu menulis huruf-huruf Al-Qur’an ke sebuah media terdiri dari golongan naskah, hiasan mushaf, dekorasi, kontemporer, dan digital. Kemudian cabang Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an dan Hadits yaitu penulisan karya ilmiah yang bersumber dari nilai-nilai Al-Qur’an dan Hadits. Dan terakhir cabang Hafalan Hadist terdiri dari golongan 100 hadits dengan sanad dan 500 hadits tanpa sanad.
Tujuan utama MTQ sendiri pertama untuk membumikan Al-Qur’an yaitu menumbuhkan kecintaan serta semangat baca-tulis Al-Qur’an agar umat Islam tidak buta huruf Al-Qur’an. Kedua pengamalan nilai Al-Qur’an yaitu mendorong pemahaman mendalam dan penerapan ajaran Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari guna membentuk kesalehan diri dan sosial. Ketiga pembinaan generasi muda yaitu membentengi akhlak pemuda dan menciptakan generasi Qur’ani yang disiplin, berkarakter, serta berakhlak mulia. Ketiga pencarian bibit unggul yaitu menjaring talenta dan potensi terbaik di bidang seni baca, hafalan, tafsir, hingga pemahaman Al-Qur’an untuk tingkat daerah hingga nasional. Dan keempat mempererat silaturahmi karena ajang MTQ menjadi sarana memperkuat persaudaraan, kerukunan, dan toleransi antarumat beragama.
MTQ juga sebagai sarana mengharumkan identitas, baik identitas peserta itu sendiri maupun daerah yang diwakilinya bahkan bisa mengharumkan nama negara di kancah internasional. Sudah terbukti banyak putra terbaik daerah yang berhasil mengharumkan nama daerahnya bahkan nama negara, dari berbagai sumber tercatat ada nama Syamsuri Firdaus Qari asal Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), yang telah menorehkan prestasi sebagai juara di berbagai ajang dunia, termasuk kembali mengharumkan nama bangsa di MTQ Internasional Abu Dhabi. Imranul Karim Qari muda berbakat asal Bima, NTB (yang juga mewakili Kalimantan Timur), meraih Juara 1 MTQ Internasional di Rusia serta Juara 1 di Bangladesh. Muhammad Zian Fahrezi: Qari cilik asal Bima, NTB, yang menjuarai MTQ Internasional di Irak serta meraih prestasi di Aljazair. Diana Abdul Jabbar: Keluar sebagai Juara 1 kategori hafidz Quran pada ajang MTQ Internasional. H. Muammar ZA: Qari senior legendaris Indonesia yang sangat ikonik dan mendunia berkat prestasi dan kemampuan napas panjangnya pada era 1980-an. Maria Ulfah & Sarini Abdullah: Qariah senior yang namanya harum di kancah internasional pada era 1970-1980an dalam Kompetisi Tilawah Al Quran Tingkat Internasional, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Jadi, MTQ merupakan ajang prestasi bagi sebagian orang yang terpilih. Bahkan bagi mereka yang berprestasi tersebut juga mendapatkan bonus yang sangat pantastis. Berprestasi di ajang MTQ apalagi tingkat nasional tentu membanggakan dan selalu didambakan setiap orang. Dengan prestasi yang mereka ukir akan membuat nama mereka dicatat dalam sejarah Indonesia. Prestasi itu pun dapat mereka banggakan sampai ke anak cucunya nanti. Seperti nama-nama yang disebutkan di atas yang sudah berprestasi mengharumkan nama daerah bahkan negara, nama mereka sudah dimasukkan dalam nama-nama orang penting di negara ini.
Selain itu, MTQ juga bisa menjadi ajang silaturahmi antar umat. Tentunya kita mafhum bahwa MTQ apalagi tingkat nasional pasti diikuti oleh ribuan peserta dari berbagai provinsi di Indonesia, mulai dari Aceh sampai Papua yang berlomba dalam berbagai cabang lomba. Dengan banyaknya peserta yang mengikuti MTQ tentunya terbuka sangat lebar untuk saling berkenalan antara satu peserta dengan peserta lainnya. Hal inilah yang membuka peluang untuk dapat bersilaturahmi antar sesama. Dari yang awalnya tidak saling kenal menjadi saling kenal, dari yang tidak memiliki teman berbeda daerah mendapatkan teman dari daerah lain. Atau mungkin saja ada teman lama yang tidak bertemu bisa bertemu di ajang MTQ. Bahkan bukan hanya bagi peserta, bagi dewan hakim juga ajang MTQ bisa dijadikan momen silaturahmi. Mungkin selama ini mereka berkomunikasinya lewat kecanggihan teknologi, namun dengan adanya kegiatan MTQ mereka langsung bisa bertatap muka. Atau mungkin juga masyarakat sekitar bisa bersilaturahmi antar saudaranya dalam satu kabupaten dan provinsi.
Semoga pelaksanaan MTQ nasional tahun 2026 bisa sukses, dapat melahirkan para juara-juara yang memang mumpuni dan dapat mengharumkan nama negara dengan prestasinya di tingkat yang lebih tinggi. Serta benar-benar dapat dijadikan sebagai sarana silaturahmi dalam rangka mempererat ukhuwah Islamiah, ukhuwah wathoniah, dan ukhuwah basyariah.
Nama : Syamsul Bahri
Jabatan : Kepala MTs Al-Hidayah Toboali
Alamat : Desa Keposang Kec. Toboali Bangka Selatan Bangka Belitung
Email : syamsulpemulutan81@gmail.com