Mencari Kebenaran : Oleh Suseno

Dalam pidatonya saat menerima Hadiah Nobel Fisika tahun 1979 atas kontribusinya dalam pengembangan teori unifikasi gaya elektromagnetik dan gaya lemah, fisikawan Muslim asal Pakistan, Prof. Dr. Mohammad Abdus Salam (1926–1996), mengisahkan perjalanan intelektual Michael Scot (sekitar 1175–1235 M), seorang ilmuwan Skotlandia yang mendalami astrologi, filsafat, dan matematika. Pada tahun 1217, Michael Scot berada di Toledo, Spanyol, sebuah kota yang ketika itu menjadi salah satu pusat penting penerjemahan karya-karya ilmiah. Di sana, ia terlibat dalam gerakan penerjemahan ilmu pengetahuan dari bahasa Arab ke bahasa Latin. Salah satu kontribusinya ialah memperkenalkan pemikiran Aristoteles (384–322 SM) kepada dunia Eropa Latin melalui karya-karya yang telah diterjemahkan dan dikembangkan dalam tradisi keilmuan Arab.

Dari Toledo, Michael Scot kemudian menuju Sisilia dan bekerja di lingkungan istana Kaisar Romawi Suci, Federico II (1194–1250 M). Di tengah perjumpaan lintas bangsa dan peradaban itu, ilmu pengetahuan menjadi jembatan yang menghubungkan Timur dan Barat. Pada tahun 1231, ketika mengunjungi Sekolah Kedokteran Salerno di Italia, Michael Scot berkenalan dengan Henrik Harpestræng, seorang dokter Denmark yang mengabdi kepada Raja Eric Waldemarsson. Henrik datang ke Salerno untuk menyusun sebuah risalah tentang ilmu bedah dan pengeluaran darah. Karya kedokteran yang kemudian dikenal dalam tradisi manuskrip Eropa itu bersumber, antara lain, dari kanon-kanon medis para ilmuwan besar Islam, yakni Al-Razi dan Ibnu Sina.

Namun, ambisi intelektual Henrik Harpestræng menghadapi kendala. Penguasaannya terhadap literatur berbahasa Arab belum memadai. Ia pun meminta bantuan Michael Scot untuk menerjemahkan sumber-sumber tersebut ke dalam bahasa yang dikuasainya. Mengenang peristiwa itu, Abdus Salam memberikan komentar yang sangat menarik: “Di Toledo dan Salerno, sebuah pelita dinyalakan dengan pelita yang telah jauh lebih dahulu menyala cemerlang di Dunia Islam.” Ungkapan tersebut bukan sekadar pujian terhadap masa lalu. Ia merupakan pengakuan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan tidak pernah berdiri sendiri. Peradaban tumbuh melalui proses saling belajar, saling menerima, dan saling mengembangkan warisan intelektual.

Dalam perkembangannya, roda sejarah ilmu pengetahuan terus berputar. Peradaban yang dahulu menjadi sumber inspirasi, pada suatu masa dapat beralih menjadi pihak yang menerima inspirasi. Eropa yang pernah belajar dari khazanah keilmuan Islam kemudian tumbuh menjadi pusat perkembangan sains modern. Sementara itu, dunia Islam menghadapi tantangan untuk kembali membangun tradisi penelitian, penalaran, dan penciptaan ilmu.

Kini, kita kerap berpaling ke Barat untuk memperoleh rangsangan intelektual dan kemajuan sains. Padahal, cahaya ilmu di Timur tidak pernah kehilangan nilainya. Persoalannya bukanlah dari mana ilmu itu berasal, melainkan sejauh mana kita memiliki kesungguhan untuk mencarinya, mengembangkannya, dan menjadikannya bermanfaat bagi kehidupan.

Mungkinkah kita kembali menjadi bagian penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan dunia? Secara prinsip, Islam mendorong umatnya untuk mencari ilmu, berpikir, dan mengambil pelajaran dari alam semesta. Al-Qur’an bahkan mengajarkan sebuah doa yang sarat makna intelektual dan spiritual: “Rabbi zidnī ‘ilmā.” “Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.” (QS. Taha [20]: 114). Doa tersebut mengandung kesadaran bahwa ilmu tidak pernah selesai dipelajari. Semakin luas pengetahuan seseorang, semakin terbuka pula cakrawala tentang betapa luasnya rahasia kehidupan yang belum terungkap.

Sejarah peradaban Islam telah membuktikan bahwa umat Islam pernah menjadi pelopor dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan. Kita mengenal Ibnu Sina dalam kedokteran, Ibnu Haitsam dalam optika, Al-Idrisi dalam geografi dan kartografi, Ar-Razi dalam kedokteran, Al-Zahrawi dalam ilmu bedah, Al-Jazari dalam rekayasa mekanik, Al-Khazini dalam fisika dan mekanika, Al-Khawarizmi dalam matematika, Jabir bin Hayyan dalam tradisi kimia, Al-Biruni dalam astronomi dan geografi, serta Ibnu Rusyd dalam filsafat.

Mereka bukan sekadar nama yang patut dikenang. Mereka adalah bukti bahwa iman, akal, ketekunan, dan tradisi keilmuan dapat melahirkan peradaban yang memberi manfaat bagi umat manusia.
Dalam konteks pencarian ilmu, ada baiknya kita merenungkan pernyataan Al-Kindi, seorang filsuf Muslim terkemuka. Ia menegaskan bahwa seseorang tidak sepatutnya merasa malu menerima kebenaran dari mana pun sumbernya, bahkan apabila kebenaran itu datang dari bangsa atau generasi yang berbeda. Bagi pencari kebenaran, tidak ada sesuatu yang lebih bernilai daripada kebenaran itu sendiri.

Pandangan Al-Kindi mengajarkan bahwa kebenaran tidak menjadi hina hanya karena disampaikan oleh orang lain. Sebaliknya, kemuliaan seseorang justru tampak ketika ia mampu menerima kebenaran dengan lapang dada, tanpa terbelenggu oleh kesombongan, fanatisme, ataupun prasangka.

Maka, mencari kebenaran bukanlah pekerjaan yang selesai dalam satu masa. Ia merupakan perjalanan panjang yang menuntut kejernihan akal, kerendahan hati, keluasan wawasan, dan keteguhan iman.

Kita boleh belajar dari Barat, Timur, masa lalu, maupun perkembangan ilmu pengetahuan masa kini. Namun, setiap pengetahuan harus disikapi dengan nalar yang jernih, sikap kritis, dan tanggung jawab moral. Sebab, tidak setiap pendapat manusia merupakan kebenaran, dan tidak setiap kemajuan ilmu dengan sendirinya menghadirkan kemaslahatan.

Pada akhirnya, kebenaran sejati tidak ditentukan oleh kebesaran nama, kekuasaan, ataupun asal-usul suatu bangsa. Kebenaran harus dicari dengan sungguh-sungguh, diuji dengan akal dan ilmu, serta ditimbang dalam terang petunjuk Allah SWT.

Teruslah mencari kebenaran. Jangan biarkan kesombongan menghalangi langkah, jangan biarkan prasangka menutup cakrawala, dan jangan biarkan ilmu kehilangan arah dari nilai-nilai ketuhanan. Sebab, ilmu yang membawa manusia semakin dekat kepada kebenaran semestinya menjadikan dirinya semakin rendah hati, semakin bijaksana, dan semakin bermanfaat bagi sesama. Wallāhu a‘lam bish-shawāb.

Guru MTsN 1 Bengkalis, Alumni Program Magister PAI-IAIN Datuk Laksemana Bengkalis & Pemenang Guru Inspiratif di Ajang Riau Madrasah Award 2026.
Comments (0)
Add Comment