Opini Gusneti Fitri Handayani

FENOMEMA BELAJAR DI SIANG HARI

          Sekolah adalah lembaga untuk para siswa mendapatkan pembelajaran di bawah pengawasan guru. Dalam sistem ini siswa mengalami kemajuan melalui serangkaian kegiatan belajar mengajar di sekolah. Kegiatan belajar mengajar di sekolah disusun sedemikian rupa sehingga setiap guru mendapat waktu untuk melakukan pembelajaran ke dalam kelas yang di kenal demga jadwal pelajaran. Jadwal ini disusun oleh Tim Kurikulum sehinga setiap guru dapat jam mengajarnya masing-masing.

Pembelajaran di sekolah dimulai dari jam 7.15 (tentatif) bel sudah berbunyi dan siswa-siswa sudah masuk ke kelasnya masing-masing. Persiapan belajar dimulai dengan menyiapkan kelas, berdoa dan anak memberi salam pada guru.  Etika-etika sederhana seperti ini sudah diajarkan pada anak-anak didik dengan harapan mereka terbiasa setiap apa yang dimulai maka mereka harus berdoa terlebih dahulu, dan terbiasa menghormati orang yang lebih tua.

            Dalam belajar kita butuh suasana belajar yang menyenangkan. Suasana belajar yang menyenangkan adalah keadaan dimana seseorang bisa fokus memahami pembelajaran dengan perasaan yang nyaman, tenang, rilek tanpa gangguan ataupun tekanan. Kita sebagai guru butuh keadaan yang kondusif dalam mengajar. Pembelajaran yang kondusif ialah suatu sikap  tenang dalam melakukan aktifitas belajar, tertib dalam pelaksanaan. Dalam pelaksanaan pembelajaran keadaan ini cenderung bisa diperoleh di pagi hari dimana keadaan anak-anak didik masih dalam keadaan segar dan belum lelah.

Dengan belajar yang maksimal kita berharap apa yang diinginkan  guru sampai pada anak didik. Tetapi dengan adanya pembagian jam mengajar tersebut tentu tidak semua guru mendapat waktu atau suasana yang nyaman dalam belajar. Bagi guru yang mendapat jadwal mengajar di jam awal tentu boleh dikatakan beruntung karena keadaan masih kondusif. Sebab jam pembelajaran dimulai dari 7.15 -15.45 (tentatif).  Tapi bagi guru yang mendapatkan mengajar di siang hari, ini bisa menjadi persoalan dan butuh strategi ekstra untuk para siswa supaya tetap bisa belajar dengan maksimal.

Seperti yang penulis alami sendiri, dalam mata pelajaran cenderung diberi siang mungkin karena diangap pelajarannya sedikit santai dan mudah. Berbeda dengan mata pelajaran IPA yang butuh anak lebih fokus. Lebih jauh persepsi ini dapat kita kelompokkan dalam diskriminasi mata pelajaran. Fokus belajar diperlukan semua mata pelajaran sehingga perlu ada siklus dalam penempatan jam pagi dan siang.

Pelajaran sosiologi tidaklah semudah yang dianggap oleh orang-orang lain. Ilmu sosiologi merupakan ilmu aplikasi bagi anak-anak yang akan nantinya keluar dari sekolah akan menghadapi orang banyak yang dikenal dengan masyarakat, baik masyarakat sekelilingnya maupun masyarakat dunia kerjanya. Dalam ilmu sosiologi kita akan memberi bekal keilmuan tersebut untuk mereka kuat seandainya mereka ada di suasana tersebut. Banyak istilah-istilah yag harus kita sampaikan, dimana dalam mengajar kita butuh menerangkan (seperti teknik wawancara). Namun dengan keadaan yang tidak kondusif kita sulit menyampaikan. Sebab suasana ribut di luar kelas menyebabkan fokus anak akan hilang.

Perimbangan meletakkan jam pagi dan siklus untuk seluruh mata pelajaran, sekolah melalui berbagai kekuatan anggaran dapat mengalokasikan untuk kenyamanan ruangan kelas mengajar. Secara bertahap melengkapi fasilitas kenyamanan belajar. Lingkungan perlu ditata keasrian “hijau”nya agar pemandangan teduh dan ketersediaan oksigen tidak berkurang meski di siang hari. Selain itu dalam segala situasi terkhusus bila mendapat pergiliran di siang hari, kreativitas guru dituntut untuk memainkan berbagai “ice breaking” agar suasana kelas tetap melek meski di siang hari.

Comments (0)
Add Comment