Mengajar adalah tahapan yang bisa dilakukan oleh siapa saja, tetapi mengajar dan mendidik adalah anugerah dan naluri yang diberikan tuhan kepada seorang Guru. Guru merupakan aktor utama dalam mengimplementasikan pembelajaran di dalam kelas. Kehadiran guru di dalam kelas mengatur, mengandalikan, dan mengondisikan suasana kelas sehingga kehidupan, keaktifan, dan keramaian di dalam kelas menjadi tanggungjawab penuh seorang guru. Guru menjadi seorang aktor layaknya pemeran utama di sebuah film. Guru menjadi contoh setiap lakonan yang dilakukannya sehingga hal-hal yang melekat di dalam guru itu akan menjadi kode komunikasi bagaimana seorang guru itu dipatuhi dan dihormati. Maka dari itu seorang guru tidak cukup hanya berbekal pengalaman saja untuk menjadi profesional dalam mengelola pembelajaran, Namun, membutuhkan banyak belajar tentang bagaimana mengajar dan membelajarkan siswa (Rahman 2014:1)
Menjadi seorang guru harus mampu melakukan perbaikan dalam pembelajaran. Salah satunya adalah melakukan refleksi pada setiap pertemuan yang dilakukannya. Bowman (1989), refleksi diri merupakan elemen utama profesionalisme. Melakukan refleksi atas praktik-praktik professional guru, terutama belajar dan mengajar merupakan faktor penting bagi terbentuknya inovasi dan revolusi pembelajaran di kelas (Loughran, 2005). Adapun unsur pengetahuan profesional yang dapat dijadikan bahan refleksi pada seorang guru, yaitu (1) pengetahuan konten (2) pengetahuan pedagogi, dan (3) pengetahuan pengemasan konten dalam pembelajaran bermakna. Berdasarkan hal tersebut, maka refleksi yang dilakukan oleh guru menjadi kegiatan rutin dan periodik untuk meningkatkan kapasitas serta profesionalisme dalam hal belajar mengajar. Dengan demikian refleksi guru yang terus-menerus dalam karir profesionalnya merupakan bagian dari literatur pendidikan guru.
Jika kita fokuskan pada pembelajaran berdiferensiasi memiliki pengertian tentang hal tersebut, yakni usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas dan memenuhi kebutuhan belajar individu setiap peserta didik. Selanjutnya, salah satu aspek terpenting dalam strategi pembelajaran berdiferensiasi adalah aspek kesiapan belajar. Kesiapan belajar (readiness) adalah kapasitas untuk mempelajari materi baru, Pratama (2022:609). Sebuah tugas yang mempertimbangkan tingkat kesiapan siswa akan membawa siswa keluar dari zona nyaman mereka, namun dengan lingkungan belajar yang tepat dan dukungan yang memadai, mereka tetap dapat menguasai materi baru tersebut. Tentunya melihat sejauh mana siswa itu memahami materi pelajaran yang akan disampaikan guru. Lebih jauh, agar kesiapan belajar itu terdeteksi dengan baik maka guru melakukan asesmen diagnosis untuk mengukur dan menemukan keunikan tingkat pemahaman siswa sehingga guru akan memberikan perlakukan yang berbeda-beda terhadap siswa didalam kelas.
Berdasarkan dari paparan diatas maka dalam implementasi pembelajaran diferensiasi, guru wajib menguasai tiga bentuk macam perbedaan pembelajaran diferensiasi, antara lain diferensiasi konten, diferensiasi proses, dan diferensiasi produk. Contohnya guru Bahasa Inggris di SD IT Al-Ittihad telah melakukan pembelajaran diferensiasi secara langsung seperti:
- Diferensiasi konten
Diferensiasi konten yang dilakukan oleh guru Bahasa Inggris pada materi “Animals” yakni mengangkat topik “Pets”. Guru bahasa Inggris berdasarkan pengalamannya melihat gaya belajar siswa dan kesiapan belajar siswa. Guru membagi tiga konten dalam pembelajaran animals, yakni Name of animals, gambar, dan video. Ketiga hal ini mempertimbangkan gaya belajar siswa. Kebetulan guru sudah mengantongi gaya belajar para siswa sehingga tinggal dibagi secara pengelompokan berdasarkan gaya belajar. - Diferensiasi Proses
Diferensiasi Proses adalah salah bentuk refleksi yang digunakan oleh guru bahasa Inggris, yakni dengan banyak mengadakan variasi dalam proses pembelajaran. Tujuan dari variasi pembelajaran tersebut tentunya untuk menarik kesiapan mental belajar siswa. Diferensiasi proses merupakan salah satu kegiatan dalam penerapan proses pembelajaran yang masuk akal, sesuai dengan kebutuhan belajar peserta didik contohnya:
“Saat memilih pembelajaran saya mulai dengan ice breaking sambil mengecek kesiapan siswa, selain itu saya juga punya jargon “I CAN DO IT, YES I CAN”, semua jadi kompak dalam mengkondisikan mereka semua. Setelah itu, menanyakan materi sebelumnya yang pernah diajarkan. Tak lupa menyampaikan tujuan pembelajaran, alur pembelajaran, dan akhir dari pembelajaran. Selanjutnya saya ulas kembali materi untuk mengingatkan pengetahuan mereka tentang animals. Baru saya bagi kelompok berdasarkan gaya belajar”. Menurut penjelasan di atas diferensiasi proses dimulai dari memberikan pemahaman kepada siswa tentang serangkaian pembelajaran yang akan dilalui, seperti menyampaikan tujuan pembelajaran, alur pembelajaran, dan tugas akhir dari pembelajaran. Setelah itu, diawali dengan apersepsi, yakni mengingatkan kembali pengetahuan mereka tentang pemahaman tentang animals. - Diferensiasi produk
Diferensiasi produk digunakan untuk memfasilitasi peserta didik dalam menuntaskan capaian pembelajaran. Melalui produk peserta didik merasa diberi panggung untuk membuat kreasi penugasan berdasarkan proyek yang telah ditentukan dan disepakati bersama. Setiap kelompok mengerjakan proyek secara kolaboratif yang disesuaikan dengan kemampuan dan kecenderungan gaya belajarnya.
Kesimpulannya, titik yang menjadi tujuan dalam kurikulum merdeka, yakni perubahan mindset yang ada pada guru. Guru diarahkan untuk tidak mengacu pada buku paket yang disediakan sekolah/pemerintah. Akan tetapi guru dalam mengajar mengacu pada Capaian Pembelajaran yang sudah ditentukan tujuan pembelajarannya. Dalam implementasi tujuan pembelajaran ini tentunya guru membutuhkan asupan dari buku, artikel ilmiah, artikel popular untuk menambah wawasan keilmuan siswa dan guru itu sendiri. Berdasarkan pengalaman guru Bahasa Inggris dalam implementasi pembelajaran di kelas, keunggulan guru nanti nya akan menjadi variatif dan inovatif dalam melaksanakan pembelajaran, bahkan dalam pembelajaran yang dilakukan acap kali dilaksanakan di luar kelas dengan berbagai macam strategi, pendekatan, serta Jargon khas. Ketiga hal tersebut membuat mata pelajaran Bahasa Inggris itu menyenangkan sehingga membuat peserta didik bahagia dalam mengikuti pelajaran.