Lampu studio podcast berwarna merah menyala, memantulkan pendar neon yang beradu dengan keangkuhan memancar dari wajah Randi. Di depan mikrofon kondensor seharga puluhan juta rupiah, pengacara muda yang sedang naik daun itu menyandarkan punggungnya dengan sangat santai pada kursi kulit premium.
Dia melonggarkan sedikit dasi sutranya, menampilkan gestur seorang pemenang yang merasa telah menaklukkan dunia pada usia yang baru menginjak awal tiga puluhan. Senyumnya meremehkan, sebuah seringai khas yang belakangan ini sering menghiasi halaman utama media daring setelah dia berhasil memenangkan tiga kasus korupsi raksasa berturut-turut di pengadilan tipikor. Bagi Randi, hukum bukan lagi labirin yang rumit, melainkan sebuah panggung sandiwara di mana dialah sutradara utamanya.
Dengan volume suara bariton yang sengaja diperberat agar terdengar penuh penekanan, Randi mulai menumpahkan isi kepalanya tanpa saringan. Dia menyebut bahwa dunia hukum di negeri ini sudah terlalu lama dipenuhi para dinosaurus. Menurutnya, pengacara-pengacara senior yang selama ini dipuja dan memiliki nama besar sebenarnya tidak lebih dari sekadar pajangan masa lalu yang gagap teknologi dan lambat berpikir. Randi dengan sesumbar mengatakan bahwa para sepuh itu hanya jago melakukan lobi-lobi di ruang gelap yang penuh asap rokok, namun mendadak gemetar setengah mati dan kehilangan taji jika harus berhadapan dengan argumen hukumnya yang progresif di ruang sidang yang terang benderang.
Host podcast di hadapannya tertawa terbahak-bahak, sengaja memprovokasi dengan pertanyaan-pertanyaan pancingan yang semakin membakar ego Randi. Terbuai oleh atmosfer studio dan bayangan akan jutaan pasang mata yang menonton, Randi terus mengayunkan lidahnya, melubangi pertahanannya sendiri demi kepuasan instan dan pujian dari netizen yang mengagungkan keberaniannya yang semu.
Dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam setelah ditayangkan, potongan video berdurasi tiga puluh detik dari sesi podcast tersebut meledak di berbagai platform media sosial. Algoritma internet bekerja dengan sangat efisien, menyebarkan kesombongan Randi ke setiap sudut lini masa. Namun, dampak yang paling mematikan justru terjadi di ruang-ruang digital yang tidak terlihat oleh publik.
Di dalam grup-grup percakapan instan yang dihuni oleh puluhan ribu advokat lintas generasi, dari tingkat daerah hingga pusat, video itu memicu badai yang luar biasa senyap namun memiliki daya hancur yang masif. Para pengacara senior yang biasanya saling bersaing ketat di meja hijau, mendadak menemukan satu kesamaan malam itu. Mereka dihina oleh seorang anak kemarin sore yang baru saja mencicipi sedikit kemewahan dunia peradilan.
Hanya berselang seminggu setelah video itu menjadi viral, roda nasib Randi yang tadinya berputar kencang ke atas mendadak seperti menghantam dinding beton. Kehancuran kariernya tidak dimulai dengan ledakan besar, melainkan dengan keheningan yang mencekam. Klien terbesarnya, sebuah perusahaan pengembang properti multinasional yang sedang bersiap menghadapi gugatan sengketa lahan bernilai ratusan miliar rupiah, mendadak mengirimkan surat resmi. Isinya sangat singkat dan dingin. Mereka mencabut kuasa hukum dari Randi secara sepihak, tanpa memberikan penjelasan ataupun membuka ruang untuk negosiasi ulang. Randi yang terkejut mencoba menghubungi sang direktur utama, namun nomor pribadinya telah diblokir.
Keanehan itu terus berlanjut seperti efek domino yang mengerikan. Dua firma hukum raksasa yang beberapa minggu lalu saling sikut untuk merekrut Randi sebagai mitra utama dengan tawaran saham kepemilikan, tiba-tiba membatalkan semua agenda pertemuan secara mendadak melalui pesan sekretaris. Bahkan, atmosfer di tempat kerjanya sendiri, Pengadilan Negeri, berubah menjadi sangat asing. Saat Randi melangkah menyusuri koridor pengadilan dengan tas kulit mewahnya, rekan-rekan seprofesi yang biasanya mengantre untuk sekadar bersalaman atau menyapa dengan ramah, kini serentak berbalik arah atau pura-pura sangat sibuk menatap layar ponsel mereka. Tidak ada senyum, tidak ada anggukan kepala, hanya ada tatapan dingin yang menusuk dari kejauhan.
Randi mulai didera kepanikan yang hebat ketika seorang pengacara junior di kantornya masuk ke ruang kerjanya dengan wajah pucat pasi dan tangan yang gemetar. Sambil mengunci pintu ruangan, junior itu berbisik dengan suara yang hampir habis, mengabarkan bahwa para tokoh kunci dari tiga asosiasi advokat terbesar di negeri ini telah mengadakan pertemuan darurat. Mereka sepakat membentuk aliansi informal yang tidak tertulis untuk memblokir seluruh akses pekerjaan Randi. Instruksinya sangat jelas dan tanpa ampun.
Siapa pun korporasi, pengusaha, atau perorangan yang nekat menggunakan jasa hukum Randi, maka seluruh pengacara di bawah naungan asosiasi tersebut tidak akan mau memegang kasus turunan atau kerja sama bisnis dengan pihak tersebut. Lebih buruk lagi, aliansi itu dikabarkan telah mengondisikan jaringan mereka di kalangan penegak hukum senior untuk memeriksa setiap berkas perkara yang diajukan oleh Randi dengan mikroskopis, mencari celah sekecil apa pun untuk membatalkan gugatannya.
Tembok tinggi yang tak kasat mata telah dibangun di sekeliling Randi, mengisolasinya sepenuhnya dari ekosistem hukum yang selama ini menghidupinya. Kata-kata bualan yang dia lontarkan di studio podcast itu kini telah menjelma menjadi monster kelaparan yang balik menelan seluruh reputasi dan masa depannya hidup-hidup.
Dalam waktu singkat, hanya dalam hitungan tiga bulan, Randi yang tadinya berada di puncak popularitas kini menjadi paria yang dihindari semua orang. Sisa tabungannya habis terkuras untuk membiayai operasional kantornya yang kosong tanpa klien, dan namanya perlahan-lahan mati di dalam dunia yang pernah dia sepelekan.
Dalam keputusasaan yang teramat mendalam dan mental yang hampir hancur, Randi akhirnya memutuskan untuk menurunkan egonya ke titik terendah. Dia sadar tidak bisa melawan badai ini sendirian. Dia bersedia merangkak, menjilat ludahnya sendiri, memohon maaf, atau melakukan apa saja yang diminta asalkan karier dan hidupnya bisa diselamatkan. Melalui bantuan seorang perantara senior yang bersimpati pada kondisinya, Randi akhirnya berhasil memohon sebuah kesempatan untuk bertemu dengan perwakilan dari aliansi pengacara yang telah mencekiknya tanpa suara.
Pertemuan tersebut diatur dengan sangat rahasia di sebuah ruang privat di dalam restoran mewah pada hotel bintang lima yang terletak di pusat ibu kota. Ruangan itu bernuansa klasik dengan pencahayaan yang remang-remang, menciptakan atmosfer yang sangat intimidatif bagi siapa saja yang memasukinya. Ketika Randi melangkah masuk dengan langkah kaki yang tak lagi tegap, di ujung meja panjang telah duduk tiga orang pria paruh baya. Mereka adalah para pengacara gaek paling berpengaruh di negeri ini, orang-orang yang selama ini mengendalikan arah hukum dari balik layar.
Tanpa menunggu dipersilakan duduk, Randi langsung mengambil posisi berdiri di ujung meja, membungkukkan badannya sedalam-dalamnya, dan menundukkan kepala dengan raut wajah penuh penyesalan. Dengan suara yang bergetar dan kehilangan seluruh keangkuhan masa lalunya, Randi berucap bahwa dia datang malam itu murni untuk mengakui kesalahan besarnya dan memohon pengampunan yang sebesar-besarnya. Dia menyatakan bahwa seluruh kalimat yang dia ucapkan di media sosial beberapa bulan lalu hanyalah bentuk kesombongan kekanak-kanakan dari seorang anak muda yang buta oleh sedikit kesuksesan. Dia berjanji akan melakukan klarifikasi publik dan mundur dari dunia podcast selamanya jika para senior bersedia membuka kembali pintu boikot tersebut.
Namun, respons yang didapatkan Randi sungguh di luar dugaannya. Pria yang duduk di tengah, seorang advokat senior berambut putih keperakan yang mengenakan setelan jas wol buatan penjahit terbaik di London, perlahan menyesap cerutu mahalnya. Dia mengembuskan asap tebal ke udara, lalu menatap Randi dengan sepasang mata yang tajam namun penuh kilat kepuasan yang dingin. Dengan nada suara yang sangat tenang dan nyaris meremehkan, pria tua itu bertanya mengapa Randi memiliki pemikiran bahwa orang-orang seperti mereka akan bersikap se-kekanak-kanakan itu hingga harus merasa tersinggung, terluka, atau repot-repot mengadakan rapat besar hanya karena bualan kosong seorang pemuda di internet.
Randi mendongak, matanya terbelalak lebar di tengah keremangan ruangan. Rasa bingung yang luar biasa mendadak menjalar di kepalanya. Jika para pengacara senior tidak merasa terancam atau marah dengan podcast-nya, lalu apa yang menjelaskan semua boikot, hilangnya klien, dan isolasi total yang dia alami selama tiga bulan terakhir ini? Mengapa seluruh dunia hukum mendadak membuangnya seolah-olah dia adalah wabah penyakit yang menular?
Melihat ekspresi kebingungan yang sangat polos di wajah Randi, ketiga pengacara senior di hadapannya saling berpandangan satu sama lain selama beberapa detik. Detik berikutnya, ruangan yang sunyi itu mendadak pecah oleh suara tawa mereka. Itu bukanlah tawa kemarahan, melainkan tawa geli yang sangat dingin dan penuh penghinaan, seolah-olah mereka baru saja mendengar lelucon paling konyol abad ini.
Salah satu pengacara senior lainnya, yang mengenakan kacamata berbingkai emas, kemudian membuka tas kerja kulitnya dan mengeluarkan sebuah dokumen tebal bersampul putih. Dia melemparkan dokumen itu ke atas meja kayu mahoni, hingga meluncur tepat di hadapan tangan Randi yang masih gemetar. Dengan suara kering, dia meminta Randi untuk membuka dan membaca sendiri lembar demi lembar berkas tersebut.
Dengan sisa-sisa keberaniannya, Randi membuka halaman pertama dokumen itu. Jantungnya mendadak berhenti berdetak selama beberapa saat ketika membaca kop surat yang tertera di bagian atas. Itu sama sekali bukan surat keputusan bersama dari asosiasi advokat, bukan pula nota pencekalan profesi. Dokumen tersebut adalah salinan resmi dari berkas penyelidikan internal tingkat lanjut yang dikeluarkan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi.
Di dalam lembaran-lembaran berikutnya, terpampang dengan sangat detail, rapi, dan kronologis, seluruh rekam jejak keuangan milik Randi. Di sana tertera bukti-bukti transfer instan dan aliran dana suap yang sangat masif dari rekening luar negeri atas nama pribadi Randi yang dialirkan secara berkala ke rekening penampung milik seorang hakim tinggi yang memimpin sidang tiga kasus korupsi besarnya dahulu.
“Video podcast-mu itu memang sangat viral, Randi,” bisik si pengacara tua berambut putih, mendekatkan wajahnya ke arah Randi hingga aroma cerutunya tercium sangat pekat. “Tapi kamu harus tahu satu hal tentang dunia digital. Ketika kamu memamerkan diri sebagai orang paling bersih dan paling hebat di depan jutaan pasang mata, kamu juga sedang mengundang jutaan orang untuk mencari tahu kebohonganmu. Bukan kami yang marah atas ucapanmu, melainkan para netizen dan jurnalis investigasi independen yang merasa tertantang oleh kesombonganmu.”
Pengacara itu menjeda kalimatnya, menikmati keputusasaan yang kini mengalir deras di wajah Randi yang memucat bagai mayat. “Mereka yang penasaran mulai menguliti setiap detail rekam jejakmu, mencari tahu bagaimana seorang pengacara muda bisa memenangkan kasus-kasus mustahil dengan begitu mudah. Mereka menemukan kejanggalan dalam setiap poin putusan hakimmu, membuat petisi publik yang masif, dan tekanan itulah yang akhirnya memaksa lembaga antirasuah untuk bergerak secara senyap sejak dua bulan lalu. Klien-klien besarmu pergi bukan karena kami boikot, Randi. Mereka pergi karena mereka memiliki intelijen bisnis yang jauh lebih cepat daripada pemikiranmu. Mereka tahu bahwa kapalmu akan segera tenggelam, dan mereka tidak ingin ikut tenggelam bersamamu saat kamu memakai rompi berwarna oranye.”
Mendengar kenyataan brutal itu, seluruh persendian di tubuh Randi mendadak terasa lolos. Lututnya lemas, dan dia terpaksa berpegangan pada tepi meja agar tidak jatuh tersungkur ke lantai. Dunia di sekitarnya mendadak berputar dengan sangat cepat. Segala asumsinya selama ini tentang konspirasi para pengacara senior ternyata hanyalah delusi yang diciptakan oleh egonya sendiri untuk menolak kenyataan bahwa dia telah menghancurkan dirinya sendiri lewat kesombongannya di depan kamera.
Sayup-sayup dari balik dinding ruang privat yang kedap suara, terdengar suara langkah kaki yang berat, tegap, dan berirama mantap melintasi koridor restoran. Suara sepatu bot yang beradu dengan lantai marmer itu terdengar semakin dekat, semakin jelas, hingga akhirnya berhenti tepat di depan pintu ruangan tempat mereka berada.
Sebuah ketukan yang sangat keras, berat, dan penuh dengan otoritas hukum yang mutlak tiba-tiba menggema, memecah keheningan mencekam di dalam ruangan. Randi berdiri terpaku, tubuhnya kaku seperti patung dengan tatapan mata kosong dan penuh ketakutan, terkunci sepenuhnya pada gagang pintu kuningan yang perlahan-lahan mulai bergerak turun dari luar. Di saat yang sama, ketiga pengacara senior di hadapannya mulai menutup tas kerja mereka dengan tenang, merapikan lipatan jas mahal mereka, lalu berdiri bersamaan tanpa memedulikan lagi keberadaan sang pembual yang kini sedang bersiap ditelan oleh takdirnya sendiri.