Terkutuk | Puisi : Anshelma Tessalonic

TERKUTUK

Sinar bulan menerobos dari celah awan yang berarak

Menerangi prasasti yang rasanya familiar di kepalaku

Membantuku melihat jalan setapak

menuju puluhan candi yang bersusun di depanku

Tanganku meraba kasarnya permukaan prasasti itu

Kakiku melangkah dengan gemetar

Mataku mencoba melihat hal-hal di sekitarku dengan jelas

Tetapi sulit rasanya untuk tenang

Kepalaku seolah akan lepas dari tempatnya,

teramat sakit kurasa

Sesekali aku menatap ngeri ke arah patung-patung besar

yang mengelilingi candi ini

Mata mereka seolah mengintai gerak-gerikku

Nafasku tersengal, aku kelelahan

Entah sampai kapan aku akan melangkah

Seolah jalan setapak ini ‘tak ada ujungnya

Aku mencoba menguatkan hatiku

Hingga aku menyadari

Aku hanya berputar di tempat yang sama

Aku menyadari aku melalui patung yang sama,

bangunan candi yang sama, prasasti yang sama

Keringat bercucuran dari dahiku

Rasanya aku ingin menghantam kepalaku

ke bongkahan patung yang runtuh

Benarlah kata orang-orang itu,

Tempat ini terkutuk.

Duri, 14 Januari 2022


Anshelma Tessalonic, siswa SMAS Cendana Mandau Kelas X-MIPA1

puisisajaksastrasyair
Comments (0)
Add Comment