TERKUTUK
Sinar bulan menerobos dari celah awan yang berarak
Menerangi prasasti yang rasanya familiar di kepalaku
Membantuku melihat jalan setapak
menuju puluhan candi yang bersusun di depanku
Tanganku meraba kasarnya permukaan prasasti itu
Kakiku melangkah dengan gemetar
Mataku mencoba melihat hal-hal di sekitarku dengan jelas
Tetapi sulit rasanya untuk tenang
Kepalaku seolah akan lepas dari tempatnya,
teramat sakit kurasa
Sesekali aku menatap ngeri ke arah patung-patung besar
yang mengelilingi candi ini
Mata mereka seolah mengintai gerak-gerikku
Nafasku tersengal, aku kelelahan
Entah sampai kapan aku akan melangkah
Seolah jalan setapak ini ‘tak ada ujungnya
Aku mencoba menguatkan hatiku
Hingga aku menyadari
Aku hanya berputar di tempat yang sama
Aku menyadari aku melalui patung yang sama,
bangunan candi yang sama, prasasti yang sama
Keringat bercucuran dari dahiku
Rasanya aku ingin menghantam kepalaku
ke bongkahan patung yang runtuh
Benarlah kata orang-orang itu,
Tempat ini terkutuk.
Duri, 14 Januari 2022
Anshelma Tessalonic, siswa SMAS Cendana Mandau Kelas X-MIPA1