Ayah Aku Sudah Dewasa Yang Tidak Dewasa | Puisi: Firman Wally

AYAH AKU SUDAH DEWASA YANG TIDAK DEWASA

Ayah, di usiaku yang sudah dewasa ini

Aku sudah mulai terbiasa menjali kehidupan

dengan

tak lagi sepenuhnya

berharap lebih pada bahu ayah

untuk menaruh beban

Karena aku menyadari

sudah dari aku kecil ayah menahan air mata

 yang jatuh demi anakmu ini bahagia

Tapi ayah, bolehkan nanti kupinjam lagi bahumu untuk istirahat sebentar saja,

 sebab dalam perjuanganku, aku merasa beban di dunia ini terlalu berat

Ayah tidak marahkan kalau aku pinjam, sebentar saja

Yah maaf, kalau anakmu ini dikit-dikit mengeluh,

maaf kalau masih merepotkan

Ayah di luar sana, banyak sekali cobaan

banyak sekali orang-orang yang mengingatkan aku tentang sosok ayah

akan bagaimana perjuangan ayah dulu, berjuang tanpa mengeluh,

bermandikan keringat, mungkin juga

air mata yang begitu hangat.

Darimu ayah aku belajar banyak

Belajar tentang proses mengejar impian

tanpa harus menyerah, atau tak harus runtuh dengan kerasnya dunia

Ayah bolehkan ku pinjam kakimu

untuk berlari

untuk mengejar mimpi-mimpi yang balum jua kucapai hingga kini

Atau kupinjam isi kepalamu untuk memikirkan

bagaimana cara manggantikan susah dengan bahagia

Atau kupinjam tanganmu yang tak henti-hentinya bekerja tanpa menyerah

Yah, bisa kan aku pinjam, sebentar saja?

Ayah, aku tahu

bahkan seseisi dunia pun tahu

bahwa kamu adalah sosok yang tidak mengandung dan melahirkan

Akan tetapi banyak beban yang telah kamu kandung

agar nantinya dapat melahirkan senyum di raut wajah kami

Ayah anakmu sudah dewasa

Tapi belum bisa jadi ayah

yang tidak mengeluh atau pun menyerah

di setiap kali bekerja, di setiap kali diterpa masalah

yang datang dengan berbagai rupa

Yah, maafkan aku

yang belum mampu mendewasakan pikiran

di saat hadirnya berbagai beban perihal kerasnya gemeruh kehidupan.

Tahoku, 20 Februari 2022

Firman Wally, pria kelahiran Tahoku. Karya-karyanya sudah termuat di berbagai antologi puisi, di antaranya Antologi Puisi Dari Negeri Poci 10 “Rantau” Dari Negeri Poci 11 “Khatulistiwa” dan lebih dari empat puluh antologi lainnya. Ada pun karya-karya sastranya tersiar juga di berbagai media online dan di Majalah digitela seperti: Semesta Seni, Jurnal Kopi dan majalah Elipsis. Penulis buku Puisi “Lelaki Leihitu” 2021 dan “Kutemukan Penyesalan di Setiap Kehilangan” 2021.

Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Pentigraf, Esai, Pantun, Kritik, Resensi, Peristiwa Budaya, dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel:

redaksi.tirastimes@gmail.com

Comments (0)
Add Comment