Lelaki Yang Memanggul Kabah
begitulah
tertatih-tatih lelaki itu mendaki bukit tsur
memanggil kabah kesana-kemari
di bawah nyalang mentari di musim kemarau ini
gurun mendesah
tapi gerimis tak tampak jua di balik kemulus
yang terdedah di siang dan malam
angin sakal pun tak kuasa meniup ruh hujan
suara talbiyah bergaung di mana-mana
lelaki renta dan ringkih itu masih saja memanggul kabah
mengikuti langkah kaki perih
ia masih saja mencari ibrahim
ingin pula ia menyapa ismail
barangkali ingin jua menyuapi bocah kecil itu
lelaki itu pun
mengembalikan kabah dan memberi kiswah
tapi ia kehilangan hajar adwas seketika
maka ia pun kian tahu
Allah ada di mana saja
hingga lelaki itu
berhenti melangkah
selamanya
jkt-makkah, 3 jan 2015
Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Esai Kritik Resensi, Peristiwa Budaya dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel: redaksi.tirastimes@gmail.com