𝗕𝗲𝗹𝗮𝗷𝗮𝗿 𝗠𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗦𝗮𝗺𝘂𝗱𝗿𝗮
kukira tumbuh dewasa
adalah bebas tanpa batas
terbang ke langit lepas
ternyata takdir memahat labirin waktu
tempat mimpi-mimpi membeku
satu per satu ekspektasi luruh
sementara tanggung jawab dituntut utuh
tangis menyeret keluh
sepi bersemayam di tengah riuh
di ujung senja jingga larut perlahan
aku terdiam di tepi lautan kenangan
riak-riak langkah telah dijejakkan
namun ribuan tanya
tak kunjung menemukan jawaban
detik demi detik menelan kecewa
pahit mendekam di dada
perih menetap di telapak doa
ya, begitulah hidup
belajar menerima
rela menjadi samudra
menampung ribuan sungai suka dan duka
lalu memeluk diri sendiri
tanpa menyisakan benci
Kubu Raya, 24 Juni 2026
𝗥𝗮𝗵𝗮𝘀𝗶𝗮 𝗪𝗮𝗸𝘁𝘂
sebuah pohon tinggi menjulang
ranting-ranting meliuk-liuk
diterpa angin
helai-helai daun gugur
satu dahan rapuhnya patah
meninggalkan rindang kenangan
kita acap kali merasa mahir
padahal terlalu buta mengeja makna
rahasia waktu siapa yang tahu
mungkin esok akar tetap kuat menopang denyut kehidupan
atau justru tumbang di ujung musim penghujan
Kubu Raya, 25 Juni 2026
𝗝𝗲𝗷𝗮𝗸 𝗠𝗮𝘀𝗮 𝗟𝗮𝗹𝘂
aku tak sempat bertanya apakah dewasa
sebahagia bermain hingga senja menepi
seceria berlari-lari di pematang sawah
sembari mengusir burung-burung yang mematuk padi
segesit menyerok ikan-ikan di parit
saat musim kemarau tiba
aku tak sempat bertanya, apakah dewasa
setakut pergi ke kamar mandi tengah malam jaraknya belasaan meter di belakang rumah dindingnya terpal tanpa atap
di bawah pohon nangka
aku tak sempat bertanya tentang kedewasaan
yang ku ingat banyak cerita dalam jejak masa kecil
suaranya menggema dalam ingatan
kenangan indah yang tak pernah terulang
kini aku tengah menakar hidupku dalam sunyi
tak lagi bertanya perihal tawa
pun tangis yang kerap menyiksa
cukup tidak gila
itu saja
Kubu Raya, 26 Juni 2026
𝗦𝗶𝗺𝗽𝘂𝗹 𝗪𝗮𝗸𝘁𝘂
kita pernah mengikat simpul waktu
setelah percakapan khidmat bersama Tuhan
lalu menyusuri jalanan lenggang
sebelum fajar benderang
satu dua kendaraan berlalu laju
derunya menyentak hening
kata-kata mengikuti derap kaki
ciptakan harmoni
kita akan menabur cahaya
di sepanjang jalan hidup ini
ikrar kudus tersemat dalam erat jemari
lebih dari satu darsawarsa
memori tak terulang kembali
langkah tergesa-gesa di pagi buta
sejak kelahiran anak pertama ke dua dan ke tiga
bergantian menjaga kompor di dapur
agar nyalanya lebih terang dari kenangan
sebab celoteh riang saat perut mereka kenyang
lebih berarti dari ingin kita sendiri
Kubu Raya, 29 Juni 2026
𝗦𝘂𝗮𝘁𝘂 𝗦𝗮𝗮𝘁 𝗡𝗮𝗻𝘁𝗶
Kelak kita mesti berpisah
Aku pergi lebih dulu atau dirimu
Sebab habis waktu bercinta
Anak-anak sudah dewasa
Air mata tetap hangat
Yang dingin hati siapa
Akumengantarmu atau kaumengantarku
Derita berkuasa
Lancang merancang sabda
Kita selalu bersama
Dari awal pintu terbuka
Sampai tertutup sempurna
Sebab tak ada rumah tanpa kita berdua di dalamnya
Kubu Raya, 11 Juli 2026
Aisyah Muhammad, seorang penulis kelahiran 1992 yang berdomisili di Kubu Raya, Kalimantan Barat. Ia adalah penikmat senja dan hujan, dua hal yang mengajarkannya bahwa keindahan sering hadir dalam bentuk yang sederhana. Kecintaannya pada dunia literasi membawanya menekuni puisi dan prosa reflektif, dengan tema-tema yang dekat dengan kehidupan, keluarga, kehilangan, cinta, dan nilai-nilai spiritual. Baginya menulis adalah cara mengabadikan waktu, merawat kenangan, dan menyampaikan doa melalui rangkaian kata. Setiap karya lahir dari keyakinan bahwa tulisan yang tulus akan selalu menemukan rumah di hati pembacanya. Karya-karyanya terkumpul dalam beberapa buku antologi juga di muat di media. Ia bisa dihubungi di Fb Aisyah Muhammad dan Ig aisyah_muhammad03.