Pesisir Tua yang Dilukai Ombak
Laut tak lagi mengulurkan tangan tuk menyapa
Kini menggerogoti pinggiran bumi bagai raksasa lapar
Pasir putih yang dulu tempat bermain anak,
kini lenyap dicengkeram ganas ombak tak kenal belas kasihan
Akar pohon kelapa menonjol telanjang,
bagai tulang belulang yang terkuak dari tanah
Rumah nelayan merapat kian ke tepi
Dindingnya gemetar mendengar raungan gelombang yang tak kenal ampun
Dulu pesisir kami membentang penuh harapan
Kini tinggal luka panjang yang tak kunjung kering
Air laut jernih berubah menjadi perampok sunyi,
mencuri jengkal demi jengkal tanah warisan kami
Langit masih sama biru dan tenang,
namun daratan di bawahnya mati perlahan
Jangan biarkan pesisir kami hilang begitu saja
Mari tanam, pelihara batas bumi kita, agar laut jadi sahabat bukan perusak
Agar warisan agung ini tetap wujud buat anak cucu
(Bengkalis, 22 Juli 2026)
Pantai yang Menghitung Hari
Ombak datang bukan untuk menyapa,
tapi menarik kembali tanah yang ku cinta
Jejak kaki di pasir pagi tadi
telah hilang ditelan raungan air laut
Bukit pasir perlahan runtuh ke dasar
Pohon kelapa condong menahan takdir
Bisik akar yang rapuh tapi laut tak mendengar,
terus merenggut
Di bibir pantai aku berdiri sendiri,
melihat kampung perlahan menjadi sunyi
laut adalah rumah, tapi kini
ia mengambil apa yang pernah diberi
(Bengkalis, 22 Juli 2026)