Puisi-Puisi Ihya Nur Fawa’id

Ketiduran di Jam Pulang

pojok kanan atau kiri sama saja, yang terpenting ada angin semilir meniup wajahmu yang oren kesore-sorean. kira-kira tiga kali Indomaret. Sekali lampu merah. Dan dua kali ngetem. Kau mengukur waktu tidur seperti seorang menghitung utang-utangnya : asal tembak ga penting kena.

Sudah empat kali berganti penumpang yang duduk di bangku kecil dekat pintu. Semua memeluk tas mereka, seperti seorang ibu yang menggendong anaknya. Satu bengkel lagi, kau sampai di gang.

Alangkah celaka sepoi angin membuatmu menutup mata. Kau ingin bilang kiri, tapi di kanan jalan, kau rasakan bangku angkot lebih nyaman dari kamarmu.

Ketika kausadar semua kenikmatan hanya sebentar. Kembali ke masa lalu adalah hal yang melelahkan. Terlebih harus kautempuh dengan berjalan kaki.

2026

3428

kepala kita tidak terbentur bukan?
karena di atas bintang berputar-putar

milky way mungkin sejenis susu
yang memabukkan
tumpahlah bersamanya

dan di slamet,
kita lihat bintang
seperti taburan
choco granule
pada cangkir yang melarutkan
kusam lelah di wajah kita

kita begitu ingin
sampai pada puncak
meski dingin nyaris
membekukan seluruh
percakapan yang tersisa

pada selembar
aluminium foil lah
kita berserah

2025

Wadah Rice Cooker

Kau bisa rendam
cita-cita yang sudah kering
seperti nasi sisa
di wadah rice cooker

harapan
yang tak sempat
kau nikmati
kehangatannya

bekerjalah lebih giat
dan gunakan sisa uang gajianmu
untuk kembali membeli beras

karena penyesalan-penyesalan
memang akan selalu lengket
di tempat kau akan
mulai menanak harapan.

2026

Ihya Nur Fawa’id. Bergiat di Karawang. Calo di @calopuisi sebuah aktivasi penulisan puisi on the spot dengan mesin tik. Bisa disapa melalui Instagram @calopuisi atau @ihyafawaid

Comments (0)
Add Comment