Selamatkan Bumi
Pohon-pohon tinggi menjulang,
dahannya melambai diterpa angin.
Tirta mengalir di sela batu-batu kecil,
setia menyusuri alurnya.
Namun arus kian mengering,
bumi berubah gersang.
Hutan dilalap kobaran api,
menyisakan abu dan jelaga.
Jelaga merayap,
Melahap apapun yang tersisa.
Rintih bumi menggema,
Memohn uluran tangan manusia.
Mari selamatkan bumi yang gersang.
Gerakkan kaki-kaki perkasa,
Satukan Langkah dan harapan,
Agar lestari bumi pertiwi
Hingga kelak diwariskan kepada
Generasi nanti.
Tuban, 2 Juli 2026.
Keriput
Kulitku yang dahulu mulus,
bagai selembar kain sutra.
Kupercantik dengan aneka jenama,
bedak pun setia melumuri wajah.
Kini, masa lajangku telah berlalu.
Keriput datang perlahan,
merayuku tanpa permisi.
Tubuh yang dulu kekar dan berisi,
Kini mulai rapuh dan melemah,
perlahan luruh ditelan usia.
Begitu pula sisa waktuku,
kian mendekat pada panggilan-Nya.
Barangkali, malaikat
Telah merindukan kepulanganku.
Tuban, 2 juli 2026.
Sa’adah.adalah seorang penikmat rasa di setiap getirnya kehidupan. Baginya, setiap langkah, baik yang dipenuhi kebahagiaan maupun kesedihan, selalu menyimpan pelajaran yang berharga. Dengan penuh harap, ia terus berusaha menjadi pribadi yang lebih baik, membangun keberanian untuk menemukan jati diri, serta tetap bersemangat mengarungi liku-liku kehidupan agar senantiasa memperoleh ridha Allah Swt. Bagi Sa’adah, puisi bukan sekedar rangkaian kata, melainkan untaian makna yang mampu menenangkan jiwa. Melalui setiap baitnya, ia menuangkan rasa yang terpendam di dalam hati, menjadikan puisi sebagai ruang untuk bercerita, merenung, dan menemukan ketenangan. Ia juga sedang mengikuti Kelas Puisi Jadi Cuan, @skkp_kelas Sekolah Kepenulisan Kosana Publisher @kosanapublisher bersama @intanhafidahnh sebagai mentor kelas.