Puisi-Puisi Qinoy

Cara Semesta Menyimpan Nama

Aku tak menemukanmu pada gemuruh megah
Melainkan pada hal-hal kecil nyaris luput diperhatikan
Seperti hujan tak pernah meminta tepuk tangan
Namun selalu tahu ke mana harus pulang

Barangkali cinta memang demikian
Bukan kembang api gaduh di langit malam
Ia lebih mirip akar bekerja dalam diam
Menjaga pohon tetap tegak saat diterpa musim

Maka jika suatu hari namamu hilang dari percakapan
Biarlah ia tetap tinggal di dalam doa
Sebab ada yang tak perlu dimiliki untuk abadi
Sebagaimana senja tetap indah meski tak pernah menetap di mata

Surabaya, 28 Mei 2026

Museum yang Kehilangan Penjaga

Konon, paling cepat hilang dari sebuah peradaban bukanlah bangunan, melainkan ingatan. Mungkin karena itu aku sering memikirkanmu sebagai sebuah museum tua berdiri di ujung kota sunyi, kokoh, dan perlahan dilupakan orang-orang saat mengejar masa depan.

Di dalammu tersimpan musim-musim pernah kita rawat bersama. Tawa menggantung seperti lukisan retak di dinding. Janji berdebu di dalam etalase kaca. Juga beberapa kenangan tak lagi memiliki nama, sebagaimana artefak kuno kehilangan keterangan asal-usulnya.

Aku datang sesekali, seperti pengunjung membeli tiket untuk mengenang sesuatu tak lagi dimilikinya. Menyusuri lorong demi lorong, membaca kembali percakapan yang pernah hidup, lalu terkejut karena waktu ternyata lebih pandai mencuri daripada pencuri mana pun.

Di luar, dunia terus berganti wajah. Gedung-gedung baru tumbuh menggantikan halaman yang dulu kita kenal. Bahasa berubah. Kebiasaan berubah. Bahkan jalan pulang pun kadang berubah. Namun ada hal-hal tetap tinggal, seperti ukiran pada batu tua menolak dihapus hujan.

Dan aku akhirnya mengerti, cinta tidak selalu berakhir dengan memiliki. Kadang ia hanya berubah bentuk menjadi ruang penyimpanan menjaga seseorang tetap hidup di dalam ingatan.

Seperti museum yang kehilangan penjaganya, kau mungkin telah lama pergi. Tetapi sebagian darimu masih berdiri di sini, menjaga sejarah bahkan waktu gagal bawa lari.

Surabaya, 27 April 2026

Qinoy. Seorang penikmat kata yang percaya bahwa puisi bukan sekadar rangkaian bahasa, melainkan napas hidup di antara sunyi. Sebagai introvert, dia terinspirasi oleh keberanian dan kejujuran Chairil Anwar, dia menulis dengan hati utuh tanpa ragu, tanpa setengah. Baginya, puisi adalah cara mencintai dunia dengan lebih pelan, lebih dalam, dan lebih jujur. Di setiap larik yang dia rangkai, tersimpan rindu, harapan, dan keyakinan bahwa kata-kata mampu menjadi rumah bagi perasaan tak sempat diucapkan. Ia juga sedang mengikuti Kelas Puisi Jadi Cuan, Sekolah Kepenulisan Kosana Publisher @kosanapublisher bersama @intanhafidahnh sebagai mentor kelas.

Comments (0)
Add Comment