Puisi-Puisi Suseno

Ketika Merah Menjadi Darah dan Putih Menjadi Do’a

Merah itu darah,
darah yang tumpah di persada perjuangan.
Putih itu do’a,
doa ibu yang menunggu
zuriatnya pulang dalam pelukan

Wahai para pahlawan,
jasadmu telah menjadi tanah,
namun semangatmu
menjadi nadi negeri ini

Dulu engkau melawan penjajah dengan bambu runcing
Hari ini kami melawan kebodohan
dengan pengabdian dan peradaban

Kemerdekaan bukan hadiah,
ia lahir dari luka,
dari air mata,
dari sukma yang tak pernah kembali

Jangan biarkan
Merah Putih hanya berkibar di tiang, berkibarlah
di dada kami
Jika dahulu engkau berjuang
dengan darah,
maka hari ini
biarkan kami berjuang
dengan jejak nyata.

Jika dahulu engkau memberikan sukma,
maka kami berjanji
memberikan yang terbaik
untuk Indonesia

Wahai Indonesiaku,
selama Merah masih menjadi darah,
selama Putih masih menjadi do’a,
selama itu pula
kami akan menjagamu.

Bengkalis, 15 Agustus 2026

 

Monyet-monyet yang Bergelantungan di Pelabuhan Roro

Di antara deru mesin
dan barisan kendaraan yang mengular seperti waktu,
monyet-monyet itu bergelantungan
pada dahan-dahan yang menua
Seakan langit rumah
mereka yang tak pernah meminta alamat

Mereka datang dengan nyali besar bergelantungan tanpa gentar
Mata kecilnya menyimpan
rasa ingin tahu yang bening,
menyapa tangan-tangan manusia,
mengintip wajah-wajah letih
oleh perjalanan dan penantian samar

Seekor melompat ke pagar,
seekor lagi turun perlahan
mendekati antrean,
seperti anak-anak hutan
yang hendak bertanya :
ke manakah manusia membawa kesibukannya?

Mereka begitu jinak,
akrab dengan suara klakson,
dengan aroma laut,
dengan remah-remah makanan
Senyum yang sesekali jatuh
dari wajah para penunggu kapal

Di pelabuhan roro,
manusia mengantre untuk menyeberang,
sementara monyet-monyet itu
telah lebih dahulu mengajari kami

Bahwa hidup tak selamanya
harus tergesa menuju seberang
Kadang, cukup bergelantungan sebentar
pada dahan kehidupan
Menatap mangrove, menatap bahari,
menyapa sesama,
lalu tertawa sejenak dari hiruk pikuk bumantara

Siapkan bekal sebelum kapal waktu
kembali membawa kita
ke dermaga nan abadi.

Pelabuhan Roro Air Putih, 29 Agustus 2026

Comments (0)
Add Comment