Puisi Yenni Sarinah: Pijar Duka Tanpa Khilafah 1924

PIJAR DUKA TANPA KHILAFAH 1924

Kecai kuasa kisah kelam berawan hitam

Kala dunia berselimut kabut malam kian pekat

Terdengar jeritan wanita muslimah di penjuru dunia

Memanggil lantang hadirnya perisai kemuliaan

Saat dentingan bergemuruh dan malam semakin pekat

Hilang perisai, bergemuruh pula syiar-syiar mulia

Di cerca hina, lelucon akhir zaman yang mengundang bara di hati

Tapi sesak lemas terpaku di sudut keramaian

Terpaku daku menatap lautan amarah

Melihat tangisan muslimah seusiamu terduduk dalam pasrah dan mengurai pijar duka

Geram daku, berkecamuk jiwa dan batin meronta

Kala ku dapati penista syiarNya riang suka dengan tawanya

Duniaku, duniamu, dunia kita tengah dibinasakan masif

Siang malam tak henti kebencian mereka

Dengan bangga menyebar makar menjerat banyak nyawa

Tersebab kini Sang Perisai umat telah lama tiada

Relung umat hampa, kosong, lemah tak berdaya

101 tahun menanti dalam kepedihan yang teramat

101 tahun tersiksa dengan keluh kesah yang tak jua ada sambutnya

101 tahun tersayat dalam kekejaman, terpejam dengan siksa

101 tahun sudah pijar duka dan kucuran darah menjadi elegi yang tak berkesudahan.

Khilafah diujung perjuangan, ingin ku sambut dirimu dengan gemuruh takbir.

Ingin ku obati umat dengan rindunya akan hadirmu yang amat sangat rindu

Khilafah yang dinanti, syariatNya butuh hadirmu

Denganmu, pijar duka ini akan tersekah dengan indah

Khilafah yang di rindui, perisai umat yang tengah diperjuangkan

Ghiroh sang jundullah tak akan padam baranya, selama engkau belum dalam dekapan umat.

101 tahun tanpa Khilafah, ada duka yang kian ketara, ada harapan kian kuat menanti

101 tahun tanpa khilafah, semoga sang jundullah tetap istiqomah membersamai umat menjemputmu kembali

Pekanbaru, 28 Februari 2022

Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Pentigraf, Esai, Pantun, Kritik, Resensi, Peristiwa Budaya, dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel:
redaksi.tirastimes@gmail.com

puisisajaksastra
Comments (0)
Add Comment