Puisi Zulfadhli

Asam Kelubi


Selaksa perjuangan omak

itu terbungkus dalam kertas usang

asam kelubi

manis, asam dan sepat

bersatu padu

menjulurkan rasa

pada kehidupan

pada perwujudan mimpi-mimpi

ah tak kutahu berapa ribu langkah telah tercipta

menuju hutan puaka, mencari asam kelubi

bukan buah syurga seperti khuldi

tapi pasti jauh

ke ceruk pedalaman asing

ah tak kutahu berapa penat

menyisihkan kantuk

menanak kelubi

biar masaknya tepat

perpaduan air, gulanya tak pepat

lalu mengering dalam bungkusan-bungkusan

sayu,

kadang tak laku

Bagansiapiapi, Sabtu 23 Oktober 2021


Secupak Kerang

Kita rubuhkan tiang melaka

menuju lautan luas

mendampar di pantai, kita punya kekayaan

begitu serumu, selalu

pada kalut yang tak bertuan

serombongan kabut tak bertepian

kita prajurit alam

dilahirkan tanpa didikan

keras menjura telah dikalahkan

tinggal sebagai anak-anak

yang hidup dari mengumpulkan tubuh-tubuh kerang

kerang darah

kerang bulu

kerang jarah

kerang hantu

sedari pagi menyisiri sungai

hingga ke petang, mengantar damai

alhasil tertumpu pada sekaleng kerang

dari secupak, secupak tangan yang terus mencongkel

kerasnya wajah pantai

kita rubuhkan tiang melaka

menuju lautan luas

yang bagai tak pernah bertepi

begitu selalu serumu

lelah menyumpah, di balik kelambu.

Bagansiapiapi, Sabtu (23/10/21)


Zulfadhli, merupakan wartawan Harian Riau Pos di wilayah Rohil. Pernah Nominator penulisan Novel Ganti Award 2005, judul Novel “Kehilangan Jembalang”, meraih anugerah jurnalistik Sagang (2012), menerbitkan “Buku kumpulan cerita rakyat pesisir,” bersama Murkan Muhammad, serta buku puisi tunggal, “Kampung Halaman”.

Perahu Katapuisisastra
Comments (0)
Add Comment