Resensi Buku: Jimmy Frismandana Kudo

IDEALISME BERNAMA H. R. DHARSONO

Judul               : Kisah Seorang Jenderal Idealis H. R. Dharsono

Penulis            : Rum Aly

Cetakan           : Pertama, Februari 2023

Tebal               : xviii + 422 halaman

ISBN               : 978-623-346-782-7

Penerbit          : Penerbit Buku Kompas, Jakarta

Masa peralihan kekuasaan dari Soekarno kepada Soeharto pada akhir dekade 1960-an merupakan salah satu peristiwa sejarah yang mempunyai banyak cerita menarik untuk diambil berbagai hikmah penting sebagai cara untuk melihat perspektif sejarah dari berbagai sudut pandang. Soekarno dan Soeharto merupakan dua tokoh sejarah yang mempunyai gaya kepemimpinan masing-masing. Keduanya telah mewarnai sejarah Republik Indonesia.

Tokoh militer yang mempunyai peran penting dalam transisi kekuasaan dari Soekarno kepada Soeharto adalah H. R. Dharsono yang akrab dengan panggilan Pak Ton. Dari perjalanan kehidupan H. R. Dharsono telah dapat diketahui bahwa Pak Ton termasuk tokoh pemikir dan intelektual serta idealis dari kalangan militer yang membuat nama H. R. Dharsono mewarnai sejarah Indonesia dengan segala kekayaan ide dan yang paling penting ketetapan hati dan keteguhan prinsip dalam bingkai idealisme.

Penulis buku ini yaitu Rum Aly, menulis dalam bagian pembuka tentang H. R. Dharsono (hlm. 29). Bagi aktivis mahasiswa 1966, terutama yang dari Bandung, H. R. Dharsono adalah Jenderal Idealis Bernurani Sipil. Lebih dari itu, H. R. Dharsono merupakan sintesis lengkap dari intellectual in uniform. H. R. Dharsono, suka atau tidak, juga kerap dikategorikan seorang politisi karena tak terhindarkan bahwa dalam tugas-tugas pada posisi formal yang diembannya, ia berhadapan dengan aspek politik dan pengelolaan kekuasaan negara. Namun pada hakikatnya, ia bukanlah seorang politisi, melainkan jenderal yang memahami lekuk liku politik. Sebuah gambaran yang tepat untuk seorang idealis bernama H. R. Dharsono.

Divisi Siliwangi dalam sejarah perjuangan Indonesia merupakan salah satu divisi yang melahirkan banyak tokoh yang hebat dengan peran dan keterlibatan yang mewarnai sejarah Indonesia. Rum Aly menulis (hlm. 86), dua di antaranya adalah Panglima Pertama, Jenderal Abdul Haris Nasution, dan Panglima Kesembilan, Jenderal Hartono Rekso Dharsono. Jenderal Nasution tampil berperan dalam kancah Perang Kemerdekaan maupun pengisian kemerdekaan, sedang Jenderal H. R. Dharsono tampil dengan peran besar dalam situasi pergolakan sekitar tahun 1966 dan transisi kekuasaan dengan berakhirnya kepresidenan Soekarno.

Rum Aly, penulis buku ini, pada masa mudanya pernah menjadi redaktur Mahasiswa Indonesia sebagai mingguan yang mempunyai kontribusi sejarah tersendiri pada masa akhir kekuasaan Soekarno dan pada masa awal kekuasaan Soeharto. Kedekatan dan keakraban Rum Aly dengan dunia mahasiswa dan dunia pergerakan telah membuat buku ini sebagai buku memikat dengan gaya bahasa kuat dengan ciri idealisme yang melekat erat dari bagian yang satu ke bagian yang lainnya.

Cover buku idealis ini mempunyai gambar H. R. Dharsono dengan seragam militer berdiri tegak dengan wajah yang mencerminkan seorang idealis dalam setiap jejak langkah Pak Ton mewarnai sejarah Indonesia. Masih pada bagian cover, terdapat gambar Soekarno dan gambar Soeharto sebagai sebuah simbol bahwa H. R. Dharsono menjalankan perannya yang sangat krusial dalam transisi kekuasaan dari Soekarno kepada Soeharto.

Kedekatan H. R. Dharsono dan kemampuannya menempatkan diri dengan mahasiswa dan kaum muda membuat Pak Ton mendapat tempat dalam jiwa dan hati nurani mahasiswa melalui pendekatan-pendekatan manusiawi dan tak berjarak. Saat berdialog dengan kalangan intelektual kampus dan intelektual di masyarakat, ia menampilkan suatu kualitas yang pantas (hlm. 174). Ungkapan H. R. Dharsono lebih sederhana tentang akhir dari kekuasaan Soekarno (hlm. 183). Perjuangan belum selesai. Masih banyak kerikil. “Jangan lupa bahwa kerikil-kerikil yang kecil itulah yang sering membuat kita terantuk.”

Idealisme H. R. Dharsono terus menyala di masa-masa awal pemerintahan Orde Baru Soeharto. Orde Baru menekankan stabilitas politik sehingga selalu meniadakan kritik apapun bentuknya. Kritisisme Pak Ton pada awal Orde Baru, membuat ia disingkirkan dengan cara dijadikan Duta Besar (Dubes) pada tahun 1970-an ditempatkan di beberapa negara sahabat. Kedatangan H. R. Dharsono di Kamboja telah mengubah situasi menjadi terbuka, pembicaraan terasa demokratis, semua diajak bicara dan berlaku merit system; siapa yang berprestasi dan terampil diberi peluang berperan (hlm. 237). Penempatannya di luar negeri justru memberikan reputasi internasional tersendiri bagi Pak Ton. Kemampuannya menjalankan tugas dengan baik di atas rata-rata itu diapresiasi oleh Menteri Luar Negeri Adam Malik (hlm. 245).

Idealisme sang jenderal kerap menemukan tantangan besar dalam menghadapi pemerintahan Orde Baru. Pada dekade 1980-an, Orde Baru mencari segala cara untuk menemukan kesalahan-kesalahan yang sengaja dibuat sedemikian rupa untuk membungkam idealisme H. R. Dharsono dalam mengkritisi berbagai penyimpangan yang terjadi pada masa Orde Baru. Penjara tidak membuat idealisme sang jenderal memudar. Bahkan, Pak Ton memahaminya sebagai suatu konsekuensi dalam memperjuangkan ide dan cita-cita untuk kepentingan yang luas yaitu kepentingan bangsa dan negara Indonesia.

Salah satu ciri orang besar yang hebat adalah tidak pernah melupakan jasa baik seseorang dalam hidupnya. Seperti dituturkan oleh Dhana, anak kelima H. R. Dharsono (hlm. 357-358) bahwa setiap lebaran, keluarga H. R. Dharsono punya tradisi khusus, selalu ke rumah Bude Gon (Rodiah Sugiono) di Cimahi. H. R. Dharsono pernah tertembak di sekujur tubuhnya saat pertempuran-pertempuran di Bandung Sealatan. Dalam keadaan luka ia ditampung di rumah Ibu Rodiah di selatan Bandung. “Makanya kita selalu ke rumah Ibu Rodiah setiap lebaran,” kata Dhana. Tampak jelas kedalaman hati sang jenderal idealis dalam mengenang dan mengingat kebaikan orang lain.

Pada tanggal 5 Juni 1996, 5 hari menjelang ulang tahunnya yang ke-71, H. R. Dharsono menghembuskan nafas terakhir. Jenderal Marinir Ali Sadikin dengan kata sambutannya yang berapi-api penuh kemarahan di acara pemakaman mengatakan (hlm. 360), “Jenderal Dharsono ikut mendirikan Orde Baru, dan sekarang ia telah dibunuh oleh Orde Baru.”

Satu hal yang pasti adalah idealisme H. R. Dharsono merupakan warisan sejarah yang selalu menjadi bagian penting dalam perjalanan sejarah Negara Kesatuan Republik Indonesia khususnya pada masa-masa transisi kekuasaan dari Soekarno kepada Soeharto. Idealisme Pak Ton selalu menyala dalam berbagai dimensi sejarah sehingga generasi berikutnya khususnya generasi muda harus mampu untuk mempelajari dan menghayati idealisme sebagai suatu karakter dahsyat yang membuat seseorang tersebut dikenang sepanjang masa. Salut dan hormat untuk Pak Ton!

Jimmy Frismandana Kudo, Guru PPKN SMA Darma Yudha, Pekanbaru dan Alumni Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), frismandana@yahoo.co.id
Comments (0)
Add Comment