Reuni Alumni A’77 SMAN 2, Silaturahim Menggerakkan Senyum, Menghidupkan Kebahagiaan Lewat Nostalgia dan Permainan

PEKANBARU — TIRASTIMES: Reuni bukan sekadar mempertemukan kembali orang-orang yang pernah dekat pada masa lalu. Lebih dari itu, reuni menjadi ruang untuk menghidupkan kembali kenangan, mempererat silaturahim dan menghadirkan kebahagiaan setelah sekian lama tidak berjumpa.

Semangat itulah yang terasa dalam acara Reuni Alumni’77 SMAN 2 Pekanbaru yang digelar di Hotel Pangeran, Jalan Sudirman, Pekanbaru, Ahad (30/8). Sekitar 30 peserta hadir dalam pertemuan yang mengusung tema “Rajut Silaturahim Tetap dalam Kebersamaan.

Ketua panitia, Prof. Dr. Ir. H. Hardinsyah, MS, dalam laporannya, tidak hanya menyampaikan tentang pelaksanaan kegiatan, tetapi juga berupaya menghidupkan kembali memori para peserta.
Satu per satu alumni diperkenalkan kembali. Nama, sosok dan kenangan masa lalu seolah dihadirkan kembali di tengah pertemuan. Bagi sebagian peserta, momen tersebut menjadi kesempatan untuk mengenali kembali sahabat yang sudah puluhan tahun tidak berjumpa.

Dalam suasana penuh keakraban itu, Hardinsyah mengingatkan, silaturahim memiliki makna sederhana tetapi sangat besar bagi kehidupan.

“Silaturahmi itu menggerakkan mulut dan bibir kita untuk tersenyum,” demikian kata Hardinsyah.

Menurutnya, pertemuan dan komunikasi antarsesama dapat menghadirkan kegembiraan. Senyum yang lahir dalam silaturahim bukan hanya ekspresi kebahagiaan, tetapi juga dapat membuat jiwa menjadi lebih bahagia dan kehidupan terasa lebih bermakna.

Pesan tersebut terasa semakin relevan ketika para peserta kemudian saling berbincang, bernostalgia dan tertawa bersama. Jarak waktu yang panjang seakan mencair dalam satu pertemuan.

Arah jarum jam: Sebagian alumni berpose, Hasan Masri, Sri Yanti dan suasana acara reuni

Acara Reuni dibuka oleh Dra. Sri Yanti selaku MC, dilanjutkan dengan Shalawat Jibril dan doa yang dipimpin H. Nasrul Agus. Salah satu momen penting dalam acara tersebut adalah kehadiran Drs. H. Hasan Masri, Kepala SMAN 2 Pekanbaru pada masanya. Kehadirannya membawa peserta kembali pada masa-masa ketika mereka menempuh pendidikan di sekolah tersebut.

Hasan Masri dalam sambutannya mengisahkan perjalanan panjang SMAN 2 Pekanbaru. Diceritakan bagaimana sekolah tersebut pada awalnya masih menumpang di salah satu sekolah swasta, Setia Dharma.
Dengan perjuangan yang gigih dan berlangsung cukup panjang, akhirnya SMAN 2 Pekanbaru berhasil memiliki bangunan sendiri di jalan Nusa Indah. Perjalanan tersebut menjadi bagian penting dari sejarah sekolah yang turut membentuk perjalanan kehidupan para alumninya.

Panitia kemudian menyerahkan cenderamata kepada Drs. H. Hasan Masri, Isnen Rais dan Miss Am. Cenderamata diserahkan oleh seorang alumni, Dr. Nurmawati Syakroni, Apt., M.Sc., Ph.D. Panitia Reuni juga memberikan cenderamata yang diserahkan oleh Dr. Hasnati S.H, M.H kepada anggota yang berdomisili di luar kota, yakni Prof. Dr. Ir. H. Hardinsyah, MS, Ahmad Yantos Nahar dan Ir. Amnilis, M.Si.

Penasehat reuni dr. T.Afrizal juga memberikan pesan dan kesan, juga mengucapkan terima kasih kepada panitia sehingga acara ini dapat terselenggara dengan baik, dan bermakna. Mudah-mudahan untuk ke depannya kita dapat bersilaturahmi kembali.

Kegiatan semakin meriah setelah santap siang. Roswita dan Anizar memandu sesi hiburan yang diisi berbagai permainan, seperti tebak judul lagu, menyambung lirik lagu, mencari peserta yang paling sering memberikan komentar di grup, pertanyaan seputar Maulid Nabi, hafalan Pancasila, pria dengan rambut yang mengkilau hingga menginggat nama lengkap Ketua Osis tahun 1976.
Dengan para pemenang antara lain, Sasmita, Ahmad Yantos Nahar, Sri Yanti, Marnis, Irwan Rizal, Nilawati dan Nurmawati.

Suasana penuh tawa pun tercipta. Para alumni yang sebelumnya hanya duduk berbincang kembali larut dalam permainan dan kebersamaan.
Pesan utama reuni itu akhirnya kembali pada satu hal: menjaga hubungan yang telah terjalin sejak masa lalu. Sebab, waktu boleh berjalan, jarak boleh memisahkan dan kesibukan boleh membuat pertemuan semakin jarang. Namun, silaturahim tetap menjadi jembatan yang mampu mempertemukan kembali hati dan kenangan.

Dan terkadang, sebuah senyum dalam pertemuan sederhana sudah cukup untuk membuat jiwa kembali bahagia. (Nn/Ns/BK)

Comments (0)
Add Comment