KOTA SABANG- TIRASTIMES: Sejumlah 17 orang anggota rombongan Reuni-wisata A’79 Faperi Unri Plus merayakan Peringatan Proklamasi di KM 0 Kota Sabang tepat hari Senin, 17 Agustus 2026. Rombongan yang sengaja memakai baju berwarna atau bernuansa merah atau maroon melakukan kegiatan mengheningkan cipta secara perorangan dengan gaya masing-masing di kawasan Tugu KM 0,0 di pulau paling utara Indonesia itu.
“Ini momentum yang luar biasa, bisa merayakan peringatan Proklamasi Indonesia bersama rombongan Reuni-wisata A’79 Faperi Unri Plus yang sedang berada di pulau Weh, Aceh ini,” kata Ketua Rombongan, Ir. T. Iskandar Johan, M.SI didampingi Sekretaris, Dr (Can) Ir. Fakhrunnas MA Jabbar, M.I.Kom dan Bendahara, Ir. Mukhlis Yahfiz.
Perjalanan menuju Kota Sabang menumpang kapal ferry dari Pelabuhan Ulele, Bandaaceh ke Pelabuhan Balohan, Sabang yang memakan waktu sekitar satu jam. Harga tiket Rp. 200 ribu per orang (PP). Rombongan sengaja mengambil trip pagi jam 08.00 sehingga bisa pulang jam 16.30 petang hari (one day trip). Di Pelabuhan Balohan rombongan sudah ditunggu tiga mobil van yang sudah dipesan sehari sebelumnya. Liku-liku perjalanan mendaki menurun karena tempat yang ditujukan memang berada di atas bukit.
Suasana di Tugu KM 0,0 terlihat lumayan ramai.
Merasa puas menikmati keindahan alam di sekitar Tugu KM 0,0 itu, rombongan menyusuri tempat-tempat
wisata pantai dan pusat oleh-oleh khas Sabang dan Aceh. Rombongan pun berfoto-ria di tempat yang menarik diselingi makan siang dan minum air kelapa dingin di tepi pantai.
Petang hari rombongan kembali di Bandaaceh untuk melanjutkan perjalanan naik bus.
Mengunjungi Peternakan Buaya Terbesar di Indonesia
Ruas jalan Bandaaceh-Medan ditempuh malam hari. Memasuki Kota Medan menjelang siang. Rombongan masih bisa mengunjungi beberapa obyek wisata seperti pusat oleh-oleh kuliner di kawasan ring road seperti Bika Ambon, Bolu Meranti dan makanan lainnya, Istana Maimun dan berkeliling kota Medan.
Hal menarik lainnya ketika rombongan berkesempatan mengunjungi Taman Peternakan atau Penangkaran Buaya Asam Kumbang yang berlokasi di Jl. Bunga Raya II No. 8, Kelurahan Asam Kumbang, Medan Selayang, Kota Medan.
Tempat ini merupakan salah satu penangkaran buaya terbesar di Indonesia, dengan ribuan ekor buaya, terutama buaya muara. Penangkaran ini sudah berdiri sejak 1959.
Jam buka tempat ini sekitar jam 09.00–18.00 WIB setiap hari.
Danau Toba Senja Hari
Rombongan menjelang meninggalkan Sumatera Utara, masih berkesempatan mengunjungi Danau Toba. Sesampainya di danau terbesar di Indonesia ini persis senja hari. Perjalanan naik bus dengan penurunan yang tajam dan jalan agak kecil. Lalu lintas juga lumayan ramai.
Di tepi Danau Toba terdapat Kota Rantau Prapat dengan fasilitas masjid, perhotelan dan perumahan. Belasan speed boat yang melayani pengunjung ke Pulau Samosir yang terletak di tengah danau. Tapi biasanya aktivitas malam agak sepi.
Perjalanan bus meninggalkan Danau Toba saat malam hari. Tikungan yang ada sangat tajam dan kendaraan harus berhati-hati terutama saat berpapasan dengan kendaraan lain.
Perpisahan di Rumah Makan
Rombongan sampai di Kota Pekanbaru siang hari. Di dalam bus, anggota rombongan didaulat oleh Sekretaris Panitia, Fakhrunnas MA Jabbar menyampaikan kesan-kesan dan kenangan selama dalam perjalanan.
Dr. Machasin yang ikut bersama istri, menyampaikan rasa puas atas pengalaman selama perjalanan karena kekompakan dan saling pengertian sesama anggota rombongan.
Ir. Eryadi, alumnus yang datang dari Tanjungbalai Karimun, mengungkapkan rasa bahagianya bisa mengunjungi Kota Sabang dan Bandaaceh yang sudah sejak lama diimpikannya. Sayang istrinya tak bisa ikut serta karena adanya pengunduran waktu kegiatan Reuni-wisata yang semula dijadwalkan bulan Juli lalu.
Dra. Sri Yanti yang mendampingi suaminya, alumnus, Sutanto Dwi Raharjo menyampaikan kesan-kesannya yang menarik hati karena keakraban yang tercipta selama lebih kurang enam hari ini.
Begitu pula, Hj. Tutin Apriyani, SE yang mendampingi suaminya, Fakhrunnas, merasa terkesan selama dalam perjalanan enam hari. Masing-masing sesama anggota rombongan terjalin hubungan yang akrab meski pun baru bertemu pertama kali.
Rahmi yang membawa cucunya berusia lima tahun, Sultan Kahfi merasa senang karena bisa diterima dengan baik oleh semua rombongan. Cucunya, Kahfi diperlakukan sebagai anggota keluarga yang membuatnya nyaman dan senang.
Saat mengakhiri pertemuan di rumah makan, T. Iskandar Johan, menyampaikan rasa bahagianya karena perjalanan panjang anggota rombongan dapat berlangsung aman dan nyaman dan tak ada yang sakit. Sehubungan gurau senda yang berlangsung di sela-sela perjalanan ini agar dapat untuk saling memaafkan karena hal itu bukanlah suatu kesengajaan. (FJ/BK)