Ibu, mari kita bayangkan kita
Aku di sampingmu menunggang kuda merah.
Malam menjelang, matahari terbenam, tanah sunyi dan tandus.
terbentang luas di hadapan kita. Tanah itu sunyi dan tandus.
“Kita tak tahu harus kemana” katamu takut
“Jangan takut, Bu”
Kita melalui jalan sempit, padang rumput berduri, ternak yang telah lelap di kandang mereka
Malam kelam, tiada cahaya di langit atau tanah ini.
Lalu kau berbisik “cahaya apa itu?”
Suara-suara datang, menakutkan dengan teriakan dan sosok mencekam berlari ke arah kami.
Kau berjongkok sambil merapal nama dewa dewi, para pengusung tandu gigil ketakutan bersembunyi di sebalik semak berduri.
“Jangan takut ibu! Aku d isini!”
Mereka semakin mendekat, tongkat panjang dan rambut liar.
“Satu langkah lagi kalian mendekat, kalian mati!” Kataku ganas
Mereka berteriak lalu maju seketika
Ibu mencengkeram tanganku “Demi Tuhan! Menjauhlah dari mereka!”
“Ibu lihat aku” kataku seraya memacu kudaku berlari kencang.
Mereka berteriak lagi dan bergegas maju.
Kau mencengkeram tanganku dan berkata, “Anakku, demi Tuhan, menjauhlah dari mereka.
menjauhlah dari mereka.”
Pertarungan begitu menakutkan bagi ibuku yang melihat dari tandu
Tubuh tubuh terbang, terpotong dan berdarah.
Aku tahu, kau berpikir anak-anakmu sudah mati saat ini
tapi aku datang berlumuran darah dan berkata “pertarungan sudah berakhir!”
Kau keluar dan menciumku
“Aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan tanpamu di sisiku”
Dan Bu, semua itu akan tercatat dalam sebuah cerita lalu menjadi buku
Walau banyak yang meragukan
Namun orang-orang desa akan berkata takjub
“Sungguh beruntung anak itu bersama ibunya!”