Sastrawan dan Penyair Hassan Bin Thabit: Catatan Shafwan Hadi Umry

Perkembangan sastra Arab pada awal Islam kita mengenal Hassan Bin Thabit yang berasal dari Puak Khazaraj memiliki latar belakang kepentairan yang istimewa di tanah Arab.
Ada tradisi yang berlaku di tanah Arab pada zaman Rasulullah saw yakni mengadu keterampilan dalam bersyair. Hassan juga merupakan penyair ode (pemuji) profesional yang sering mengunjungi istana Lakhmi dan Ghassani serta menulis puisi ode bagi Raja Muda.
Terkadang Hassan menulis puisi yang menggambarkan sesuatu ( al-Wasf) termasuk minuman arak pada zahaliyah.
Ada dua tema yang dipilihnya dalam puisi ode. Pertama, puisi bercorak Sahsiah (bakat kepenyairan dari puaknya yang memuji-muji masyarakat Badwi dan masyarakat kota. Kedua puisi sinisme dan ironi yang menyindir di samping puisi ratapan sekaligus menyamaik nasihat dan akhlak manusia.
Pada suatu hari Hassan mengunjungi Rasulullah saw dan mengikrarkan imannya kepada Allah SWT serta Nabii saw.
Sebuah puisinya diturunkan dalam hasil pertemuannya dengan sang Junjungan Rasulullah saw.
Kuberikrar
Seizing Allah
Muhammad
Pesuruh Allah di angkasa tinggi
Abu Yahya dan Yahya
Punya tindakan diterima agama

Apa terletak di Sudd di Batin Nakhlah
Siapa percayakannya
Kesunyian amal baik, terpisah

Orang yang dimusuhi Yahudi
Putra Mariam, utusan Allah
Yang memikiki al-Arsy

Apabila mereka menghina
Saudara al- Abqah
Dia berjuang karena Ilahi
Bertindak adil

Kemudian Nabi pun bersabda,”Aku berikrar bersama-samamu”.
Secara singkat, Penyair Hassan melalui perwatakan dan pelatihan adalah penyair jahiliyah yang muncul dalam awal Islam dan setelah masuk Islam menjadi penyair agung dan andalan utama Nabi saw untuk bertanding menghadapi kaum jahuliyah.
Para penyair jahiliyah yang mengecam dan menyindir Nabisi saw itu antara lain Abu Sufyan, Utbah bin Abi Waqas dan Abu Lahab. Namun, sindiran dan cercaan yang ditujukan kepada sang Nabi saw dapat dijawab dan ditangkis dengan tangkas oleh Hassan bin Thabit dengan telak dan jitu.
Penyair Hassan pernah menulis puisi yang ditujukan kepada al-Mughirah sang penyair Jahliyah:
Sesungguhnya orang
Yang menemui kau dari bawah kaki
Sebagai bayi
Keturunannya tak dikenal
Kau bukan dari Ka’ab
Si bijak menganggapnya
Jika kau kata dari Shij
Kau pendusta

Kau tukang besi
Hidungnya dipanasi hembusan
Paras hina
Sekutu si tercela

Pada peperangan Badar terdapat perang puisiangtara Hassan bin Thabit dengan Abdullah ibnu-al-Zibara yang menulis puisi ratapan tentang kematian temannya.
Penyair Hassan bin Thabit menulis puisi sindiran kepada musuhnya itu:
Tangisilah
Tetes demi tetes air matamu
Sehingga bertukar
Menjadi daearh
Air bening menjadi merah

Kenapa kau tangisi
Mereka yang terbunuh berturut-turut?
Kenapa tak kau kenang
Khidmad mulia kaum?

Kau ingati orang yang mulia dari kami
Punya cita berbudi halus
Mulia maju ke depan

Kumaksud Nabi
Sudara pemurah, tinggi mafrtabat
Paling jujur
Kalangan penunai sumpah

Apa sama dengan dirinya
Dengan seruan
Dipuji semata
Tanpa rintangan
Pada puisinya yang berplemik dengan Abu Sufyan, Hassan menulis:
Apakah tidak kukabarkan
Pada Abu Sufyan
Tentang sikapku?
Kukatakan
Engkau pengecut
Engkau lari
Engkau lemah

Kau cerca Muhammad
Kubela dia
Untuk itu segala balasan
Kuserahkan kepada Allah.
Demikian sekelumit puisi-puisi Hassan al-Thabit, seorang penyair terkemuka di zaman rasulullah yang membela Nabi saw bukan saja dengan pedang yang runcing di perang Uhud dan Badar, tapi juga menggnakan pena yang runcing dalam menegakkan kebenaran dan keadilan membela Nabi saw sang junjungannya.

Oman, 8 /9/2023.

Comments (0)
Add Comment